LAHIRKAN PRESTASI DI PENTAS INTERNASIONAL

Caketum PGI DKI Fokus Pembinaan Usia Dini

Eka
Caketum PGI DKI Fokus Pembinaan Usia Dini
Joyada Siallagan (tengah) mendapat dukungan untuk maju menjadi Ketua Umum PGI DKI Jakarta Periode 2020-2024 (Eka/HanTer)

Depok, HanTer - Salah satu calon ketua umum Persatuan Golf Indonesia (PGI) Pengurus Provinsi (Pengrov) DKI Jakarta, Joyada Siallagan mempunyai komitmen besar untuk menggalakan program pembinaan usia dini apabila ia di percaya menduduki kursi 1 PGI DKI Jakarta Periode 2020-2024.

Menurut dia, menjadi kunci penting bagi cabang olahraga golf agar kedepan bisa menelurkan pegolferhandal yang mampu mengharumkan Indonesia di pentas internasional. Joy, sapaan karibnya, yakin, pembinaan dari daerah, mempunyai peran penting terhadap pengurus pusat.

"Indonesia punya banyak lapangan golf, harusnya lebih bagus lagi proses pembinaannya. Dan yang utama kita mencari bibit muda yaitu pegolfer junior. Saya orang yang suka eksekusi, bukan hanya sebatas janji-janji," kata Joyada kepada wartawan di Emeralda Golf Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Kamis (9/1/2020).

Untuk mewujudkan visi dan misinya itu, sejumlah program dan rencana non-teknis lainnya telah digenggam. Diantaranya dengan menggelar turnamen tingkat amatir yang diwajibkan oleh seluruh klub golf di Ibu Kota. Sehingga, dari langkah tersebut akan muncul potensi handal.

"Kami sudah menyampaikan kepada pengurus kemarin untuk menggelar turnamen amatir tiap bulan. Jadi setiap pemilik lapangan golf punya bibit. Ketika pemilik golf tidak mengolaborasi pegolfer-pegolfer muda, kita harus memaintenancenya," sambung dia.

Selain itu, ada rancangan lain yang masuk dalam rencananya apabila ia di percaya menahkodai PGI DKI Jakarta. Diantaranya dengan berkoordinasi dan melobi pemerintah, baik pusat maupun daerah agar menurunkan tarif pajak lapangan golf agar bisa di nikmati kelompok junior. Sehingga stigma negatif tentang 'mahalnya olahraga golf' bisa terhapuskan.

Besarnya tarif atau nilai pajak di seluruh lapangan golf, jelas Joyada, menjadi salah satu kendala mandeknya program pembinaan pegolfer usia dini. Sebab, dengan pajak yang cukup tinggi, secara otomatis animo masyarakat daerah untuk menumpahkan kegemaran di cabang olahraga golf, tertunda akibat biaya mahal sebagai dampak utama besarnya tarif pajak.

"Salah satu visi saya adalah menurunkan pajak, agar golfer-golfer muda atau kelompok junior bisa mengakses lapangan golf dengan murah. Pajak itu kan dari pemerintah, jadi nantinya pemerintah akan kita lobi. Setidaknya saya berusaha untuk menekan sampai 50 persen," jelas pria yang juga sebagai konsultan pajak itu.