Pedagang Pisang Tolak Direlokasi ke Pasar Klender

zamzam
 Pedagang Pisang Tolak Direlokasi ke Pasar Klender

 

Jakarta, HanTer - Pedagang Pisang di Jalan Raya Pisangan Timur, Pulogadung, Jakarta Timur menolak rencana relokasi menuju lantai dua Pasar Klender karena dianggap tidak representatif.


"Pemerintah kasih kita tempat di Pasar Klender, kami tidak mau tidak setuju, di sana sepi pengunjung."  Deden Mulyandi


Jakarta, HanTer - Selain sepi, lantai dua Pasar Klender itu juga dirasa menyulitkan pedagang saat harus turun naik mengangkut pisang.
 
"Pemerintah kasih kita tempat di Pasar Klender, kami tidak mau tidak setuju, di sana sepi pengunjung," ujar koordinator pedagang pisang, Deden Mulyandi, di Jakarta, Minggu (24/11/2019).
 
Deden berharap pemerintah merelokasi pedagang menuju lahan di dekat food station Depo Cipinang karena lokasinya yang masih berdekatan dengan Jalan Raya Pisangan Timur.
 
"Kita intinya tidak menolak proyek DDT, tapi relokasi tempat barunya aja yang kurang pas. Kita minta yang dekat dari sini, memadai lah yang ramai," katanya.
 
Para pedagang pisang yang tergabung dalam Paguyuban Jakarta Timur (JT) 52 menyambangi kantor Gubernur DKI Anies Baswedan, Senin (25/11/2019).
 
Mereka ingin menyampaikan sejumlah persoalan terkait rencana relokasi imbas perluasan proyek double-double track (DDT) oleh PT KAI.
 
"Ada beberapa hal yang ingin kita diskusikan dengan Pak Gubernur DKI, kaitan rencana relokasi kami karena adanya lanjutan proyek DDT," kata Ketua Peguyuban Pedagang Pisang JT 52, Yus Rustandi.
 
Pedagang berharap kepada Anies untuk difasilitasi tempat berjualan yang lebih representatif. Salah satunya di lahan dekat Food Station dekat Depo Cipinang.
 
"Kita mintanya di dekat Depo kereta karena tidak jauh dari sini. Kita pindahin barang dagangan juga gampang," katanya.

Namun pedagang yang sudah berjualan pisang sejak 40 tahun silam itu hingga kini belum memperoleh izin dari pemilik lahan yakni, PT Telkom.
 
"Kami juga ingin mendiskusikan dengan Pak Gubernur kaitan dengan waktu pengosongan lahan yang terlalu mepet," katanya.
 
Sejak surat peringatan pertama pengosongan lahan disampaikan petugas kecamatan setempat pada Senin (18/11/2019), Yus dan teman-temannya belum memperoleh tempat baru yang representatif.
 
Surat peringatan itu mengharuskan sekitar 80 pedagang pisang mengosongkan lahan di sisi Jalan Pisangan Timur paling lambat akhir November 2019.
 
"Kita juga butuh waktu relokasi agak lama karena ini kan pisang gampang busuk, sulit juga cari tempat baru," katanya.

#Pedagang   #Pisang   #di   #Pisangan   #Timur