TK Al-Azhar 5 Kemandoran Pupuk Rasa Nasionalisme Siswa Melalui Momen Hari Pahlawan

Hermansyah
TK Al-Azhar 5 Kemandoran Pupuk Rasa Nasionalisme Siswa Melalui Momen Hari Pahlawan
Tumbuhkan rasa nasionalisem sejak usia dini

Jakarta, HanTer - Dalam rangka menyambut hari Pahlawan yang diperingati pada tanggal 10 November setiap tahunnya, TK Islam Al Azhar 5 Kemandoran Jakarta Selatan, pada Jumat (8/11/2019), menggelar kegiatan dramatisasi peragaan perang-perangan yang terjadi di Surabaya pada 74 tahun silam.

Para anak didik yang terdiri dari kelompok A dan B itu, mengenakan pakaian yang beragam dalam mengikuti dramatisasi peragaan perang-perangan tersebut, mulai mengenakan pakaian polisi, tentara, penjajah, rakyat biasa hingga dokter dan perawat yang mengobati para korban.

Kegiatan ini merupakan kali pertama digelar TK Islam Al-Azhar 5 Kemandoran yang bertujuan agar para anak didik merasakan langsung perjuangan para pahlawan dengan segenap jiwa raganya untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari rongrongan penjajah pada waktu itu.

Hj. Musani Kepala Sekolah TK Islam Al-Azhar 5 Kemandoran, Jakarta Selatan

Hal tersebut diungkapkan Kepala Sekolah TK Al-Azhar 5 Kemandoran Jakarta Selatan, Hj. Musani. "Tujuan dilakukannya dramatisasi perjuangan 10 November adalah agar anak bisa merasakan langsung perjuangan para pahlawan Indonesia, tidak hanya mendengar dari cerita-cerita dan menyaksikan lewat televisi, tapi kami mencoba bagaimana mereka langsung merasakan, memperagakan perjuangan para pahlawan Indonesia dalam mengusir para penjajah baik Belanda dan Jepang dan lainnya," ucapnya

"Insha Allah melalui kegiatan ini akan tumbuh rasa Nasionalisme yang tinggi kepada NKRI didalam diri para anak didik kami, sehingga menjadi lebih sayang dan cinta kepada Tanah Air-nya, kepada para pahlawannya, sekaligus menghargai perjuangan para pahlawan Indonesia," sambung Hj. Musani.

Adegan dimana terjadinya kontak tembakan antara pejuang dengan para penjajah

Jika kita flashback pada 74 tahun kebelakang, pertempuran Surabaya merupakan pertempuran tentara dan milisi pro-kemerdekaan Indonesia dan tentara Britania Raya dan India Britania yang puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945.

Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, sekaligus merupakan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah revolusi Nasional Indonesia, sehingga melalui perang tersebut menjadi simbol Nasional atas perlawanan Indonesia terhadap Kolonialisme.

Adegan kontak senjata, saat para pejuang menghadapi penjajah 

Usai pertempuran ini, dukungan rakyat Indonesia dan dunia internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin kuat, sehingga 10 November diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan di Indonesia.

Bahkan pertempuran ini juga meyakinkan Britania untuk mengambil sikap netral dalam revolusi Nasional Indonesia, di mana pada beberapa tahun kemudian, Britania mendukung perjuangan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Adegan dimana anak murid menjadi seorang dokter dan perawat yang sedang memeriksa para korban perang

Hj. Musani lebih lanjut mengatakan jika perjuangan bangsa Indonesia hingga kini terus berlanjut, namun bukannya perang kontak fisik dengan menenteng senjata, akan tetapi berjuang bagaimana membuat bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju lagi, dengan harapan mampu bersaing terhadap bangsa-bangsa lain di era milenium ini, yakni dengan mempersiapkan kader-kader generasi muda untuk menjadi seorang pemimpin dunia di masa yang akan datang.

"Harapan lainnya adalah karena mereka masih anak kecil atau PAUD, perjuangan yg bisa dilakukan adalah dengan rajin belajar dan semangat mengikuti kegiatan disekolah, karena mereka adalah pejuang bangsa dan pemimpin dunia masa depan yang tentunya berakhlaqul karimah," harap Musani.

Adegan dimana anak murid menjadi seorang dokter dan perawat yang sedang memeriksa para korban perang

Dipenghujung, Kepala Sekolah yang ramah dan murah senyum itu berpesan kepada para anak didik untuk terus mengeluarkan talenta yang dimiliki, sehingga berujung prestasi.

"Buat orang tua dan guru mu bangga melalui prestasi-prestasi mu, agar kelak jika dewasa nanti mampu mengibarkan bendera Merah Putih sejajar dengan negara lainnya di dunia Internasional yang diiringi berkumandangnya lagu kebangsaan Indonesia Raya," pungkas Hj. Musani.