Konflik Warga dan Security AMPR Berujung Korban Luka

sammy
Konflik Warga dan Security AMPR Berujung Korban Luka


Jakarta, HanTer - Konflik akibat dualisme kepengurusan PPRS di Apartemen Mediterenia Palace Residence (AMPR) Kemayoran kembali mencuat. Bahkan, konflik berujung timbulnya korban luka-luka di warga penghuni.

Salah satu warga, Caroline (50) mengungkapkan, konflik tersebut bermula saat security dari pihak Khairil Poloan (KP) berkumpul dan mencopot spanduk warga yang bertuliskan penolakan terhadap kepengurusan Khairil Poloan selaku Ketua PPRS AMPR. Spanduk tersebut, terletak di dinding Apartemen, tepatnya di halaman parkir depan Dominos Pizza.

"Awal kejadian, security KP berkumpul sampai 85 orang. Mereka nyanyi-nyanyi sambil menurunkan spanduk kita," ungkapnya di Jakarta, Senin (4/11/2019).

Ia mengungkapkan, beberapa warga yang melihat perilaku security itu mengaku tidak terima dan memprotes tindakan tersebut.

"Kita tidak terima. Kebetulan hari Minggu, warga ada yang ke gereja dan keluar kota. Kemudian kami (para warga, red) menghampiri dan sempat adu mulut," terang dia.

Carolline mengungkapkan, sejak awal warga sudah berusaha baik-baik dan berbicara pada security terkait alasan pencopotan spanduk tersebut.

"Namun, mereka (security, red) malah nyolot dan teriak-teriak. Kemudian mereka bergerak ke basement, kemudian kita antisipasi jaga posko dan kantor badan pengelola," ujar Carolline.

Tak lama berselang, lanjut dia, konflik pun tak terelakkan. Hal itu terjadi dipicu atas tindakan security yang kian menjadi-jadi.

"Diawali dengan adu mulut dengan para warga, tindakan para security pun berlanjut pada tindak kekerasan, tarik menarik, hingga insiden pemukulan terhadap warga," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, identitas beberapa security yang terlibat dalam insiden tersebut pun patut dicurigai. Salah satunya, lanjut Carolline, nampak beberapa oknum yang tak memiliki identitas selaku pihak keamanan.

"Seharusnya pihak keamanan Apartemen memiliki kartu tanda anggota (KTA). Tapi, beberapa dari mereka tampak tak memakai atribut keamanan saat itu. Bahkan ketika ditanya pun ternyata tak memiliki KTA," terangnya.


Teraniaya dalam Insiden

Adapun melalui insiden tersebut, beriimplikasi pada adanya korban. Susanto (24), mengaku teraniaya dalam insiden tersebut.

"Saya dipukul, bahkan diinjak-injak. Saat insiden pemukulan, hape saya sempat jatuh. Bahkan hilang," ujarnya.

Ketua PPRS AMPR Ikhsan, sangat menyayangkan tindakan security pihak KP tersebut. Seyogyanya, lanjut dia, tindakan kekerasan tersebut diproses secara hukum.

"Ini diibaratkan anjing yang menggigit tuannya sendiri. Security ini kan dibayar dari iuran penghuni, masa penghuni malah diperlakukan seperti itu," ungkapnya.

Ia mengungkapkan, seharusnya pihak KP dapat menghormati proses hukum yang sedang berlangsung baik di PTUN dan Pengadilan negeri Jakarta Pusat.

Ia berharap, semua pihak baik pemerintah dinas perumahan, walikota turut ikut campur atas masalah kami. Dan seharusnya, lanjut dia, atas proses hukum ini berbagai instansi terkait dapat menghormati proses hukum itu.

"Inikan ada dualisme kepengurusan. Ini ada proses hukum yang berlangsung yang tidak sepatutnya dilanggar," terang dia.

Dirinya berharap, pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam hal ini Dinas Perumahan segera mengambil langkah untuk memediasi persoala di apartemen kami.

"Dalam hal ini Disperum harus segera mengambil tidakan, saya kawatir konflik ini akan terus berlanjut dan meluas hingga jatuh korban, saya heran apakah disperum masih mau mendiamkan seorang ketua P3SRS seperti ini yang notabene tidak tinggal apartemen ini," keluhnya.

Diketahui sebelumnya, konflik akibat dualisme kepengurusan PPRS di Apartemen Mediterenia Palace Residence (AMPR) Kemayoran kembali mencuat. Kali ini, warga apartemen yang menolak kepengurusan Khairil Poloan adu mulut dengan Security Apartemen pada Minggu (3/11/2019).