TAJUK: Tawuran Warga Terus Berulang di Manggarai

***
TAJUK: Tawuran Warga Terus Berulang di Manggarai

Aksi tawuran antarwarga kembali pecah di kawasan Manggarai, tepatnya di depan Pasar Raya Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan pada Selasa sore. Aksi tawuran di kawasan iurang terus terjadi, meski aparat keamanan sudah bertindak tegas.

Camat Tebet, Dyan Airlangga membenarkan terjadinya tawuran yang terjadi sejak sore tadi. Padahal sebelumnya Dyan sempat mengimbau warga yang berada di sekitar lokasi untuk membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Dia menyebut juga tawuran tersebut berawal dari media sosial. Mereka komunikasi lewat media sosial, saling ejek.

Apa sebenarnya yang terjadi disana? Kenapa aksi tawuran terus saja berulang? 

Sosiolog Musni Umar menilai, selalu berulangnya kejadian tawuran antar warga di Manggarai berakar dari berbagai permasalahan sosial yang dialami warga di kawasan tersebut, yang memang didominasi masyarakat kelas sosial menengah ke bawah.  Wilayah ini menjadi potret nyata mengenai kerasnya kehidupan masyarakat miskin kota. 

Tawuran antar warga merupakan fenomena sosial masyarakat bawah yang banyak menghadapi masalah sosial ekonomi dan lingkungan seperti pengangguran, kemiskinan, tempat tinggal yang padat, dan kumuh. Jadi tawuran sejatinya merupakan bentuk dari protes sosial.

Menurut Musni, ada tiga hal yang menjadi penyebab warga melakukan tawuran. Hal pertama adalah untuk melampiaskan kekesalan dan frustrasi akibat banyaknya persoalan hidup yang dihadapi. 

Kedua, untuk menarik perhatian pemerintah dan masyarakat supaya turun tangan menyelesaikan persoalan mereka. Akan tetapi, bantuan pemerintah terkadang tidak pernah menyelesaikan akar masalah yang dihadapi rakyat bawah terutama pengangguran dan kemiskinan.  

Penyebab terakhir yakni pengaruh minuman keras dan obat-obatan terlarang, yang dikonsumsi karena rasa frustasi. "Karena mereka stres dan frustrasi, maka pelariannya ke miras dan narkoba," ucap dia.

Tawur antarwarga sering dipicu oleh hal-hal sepele, misalnya rebutan perempuan, mabuk di saat dangdutan, pelampiasan dendam tertentu di masa lalu, dan sebagainya. Masalah-masalah sepele digesek-gesek dengan melibatkan banyak orang, membesar dan akhirnya saling lempar batu dan membakar.  Lalu apa penyebab utama perkelahian itu?  

Para pengamat menyebut, penyebab utamanya adalah akibat kemiskinan. Kemiskinan membuat warga sensitif, sehingga mudah terpancing dan terprovokasi. 
Juga akibat masalah kepadatan penduduk di DKI Jakarta, munculnya sentimen adat, suku, dan lainnya.    

Cara ampuh untuk mengatasi tawuran antarwarga, pemerintah DKI Jakarta dan pihak yang terkait, harus bekerja keras untuk menciptakan lapangan kerja yang luas. Pasalnya, warganya yang menganggur, sangat mudah tersulut tawuran. Jadi, kemiskinan harus diberantas. Pemerintah bisa mengatasi kemiskinan, antara lain dengan membantu modal warganya untuk berusaha.   

Kita berharap tawuran antarwarga semestinya ada penanganan intensif serta secara komprehensif yang dilakukan pihak Kepolisian beserta Pemerintah Daerah. Warga tentu berharap pihak Kepolisian terus melalukan patroli bahkan memfloating anggota di pos-pos pengamanan, terutama di wilayah rawan tawuran.  

Kita imbau seluruh warga untuk hidup rukun dan saling silaturahmi. Penyelesaian masalah dengan tawuran jelas sangat buruk dan seharusnya tidak terjadi pada mereka yang mengaku beradab. Jika ada masalah seharusnya diselesaikan dengan baik. Penyelesaian masalah model tawur selain pasti menimbulkan korban, jelas memperlihatkan perkembangan budaya yang memprihatinkan. 

Tawuran juga bisa diicu oleh tidak jelasnya hukum ditambah masalah ekonomi yang acak kadut. Jadi, harus ada perubahan fundamental yang berkaitan erat dengan hukum dan ekonomi. 

Tawuran memang memprihatinkan. Itulah sebabnya, masalah utama penyebab terjadinya tawuran antarwarga harus diselesaikan.

Kita berharap aparat menindak egas bahkan keras tanpa kompromi terhadap hal-hal seperti itu.  Selain itu perlunya dibangun sikap saling melengkapi dan membutuhkan agar kebersamaan bermasyarakat terjaga. Setiap kekerasan ditebarkan hanyalah akan melahirkan kekerasan yang lain.

Bukankah damai itu indah?