Investasi Semut Rangrang Rugikan Masyarakat Hingga Rp 1,2 Triliun

Danial
Investasi Semut Rangrang Rugikan Masyarakat Hingga Rp 1,2 Triliun
Joni Wijaya selaku Kuasa Hukum Korban CV MSB kepada wartawan di Bareskrim, Kamis (10/10/2019).

Jakarta, HanTer - Skema investasi kemitraan ternak semut rangrang yang dijalankan CV Mitra Sukses Bersama (MSB) di Kabupaten Sragen jadi buah bibir yang telah dihentikan oleh pihak Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia (OJK RI) terus berkembang.

Hal itu tersebut dibuktikan dengan adanya perwakilan para investor CV MSB yang melaporkan kerugian mereka dengan total menyentuh sekitar Rp 1,2 Triliun ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri di Jakarta, Kamis (10/10/2019)

“Kami disini datang untuk terus berupaya mendapatkan keadilan, karena para investor yang merasa ditipu akan melaporkan permasalahan tersebut kepada yang berwajib, karena sejauh ini pihak pemilik MSB belum terlihat wujud tanggung jawabnya,” ujar Joni Wijaya selaku Kuasa Hukum Korban CV MSB kepada wartawan di Bareskrim, Kamis (10/10/2019).

Dalam pernyataannya, tidak tanggung-tanggung yang menjadi korban investasi MSB ini memakan banyak korban tidak hanya masyarakat sipil biasa tapi juga beberapa aparat Kepolisian.

“Saat saya melaporkan ke SPKT Bareskrim Mabes ternyata ada informasi bahwa ada beberapa korban selain TKI, masyarakat sekitar. Terdapat beberapa Polisi yang turut serta menjadi korban,” papar Joni.

Dirinya pun mengaku selaku wakil dari korban investasi semut rang-rang MSB akan terus menuntut pertanggung jawaban agar pimpinan dan penanggung jawab CV tersebut menuntaskan janjinya.

Perlu diketahui, Skema investasi yang ditawarkan MSB adalah dengan menjual unit pernyertaan sejumlah dana dan janji hasil panen. Dana yang diinvestasikan itu disebut digulirkan untuk ternak semut rangrang yang diklaim untuk diekspor.

Sebelumnya, bulan Juni 2019 yang lalu Direktur CV Mitra Sukses Bersama (MSB), Sugiyono menampik tudingan bisnis kemitraan semut rangrang yang dikelolanya sebagai investasi bodong alias abal-abal.

Ia mengatakan 95 % mitra yang ada di CV MSB sebenarnya mitra lama yang sudah pernah menikmati panen dan keuntungan. Sementara sisanya adalah mitra baru yang belum menikmati dan kemudian resah dengan penutupan produksi.

“Kami memastikan dirugikan atau tidak, sebagai penanggungjawab manajemen CV MSB, kami sudah memberikan jadwal pembayaran kewajiban kepada mitra yang harus dibayar sampai tuntas. Jadi tinggal tunggu saja,” pungkasnya.

Namun hingga berita ini diturunkan, para korban mengaku belum menerima wujud pertanggungjawaban manajemen MSB dan sulit dihubungi.