TAJUK: Membersihkan Jakarta Dari Aksi Pemalakan

***
TAJUK: Membersihkan Jakarta Dari Aksi Pemalakan
Ilustrasi (ist)

Aksi premanisme terjadi di beberapa daerah. Di Jakarta, aksi pemalakan yang dilakukan enam orang preman kepada sejumlah mobil pedagang di sekitar area Blok F Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, bikin heboh. Sebanyak empat orang preman ditangkap. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengapresiasi penangkapan tersebut dan menurutnya merupakan konsekuensi hukum yang harus diterima oleh oknum-oknum tersebut.

Lebih dari itu, ia mengapresiasi pihak kepolisian yang dinilai tanggap meringkus para pelaku. Ia berharap penangkapan itu mampu mencegah kejadian serupa terulang. Menurutnya, pemerasan apapun alasannya itu salah dan harus ditindak secara hukum.

Video pemalakan yang dilakukan sejumlah orang terhadap pengendara mobil di Tanah Abang beredar di media sosial. Itu terjadi di sekitar Blok F.
 Dalam video yang diunggah Koalisi Pejalan Kaki di Instagram pada Kamis (5/9), sekelompok orang yang diduga preman mencegat mobil berkali-kali. Mereka lalu memaksa pengemudi membuka kaca dan menyerahkan uang.

Sebelumnya, Polsek Tanah Abang telah mengamankan enam orang dan menetapkan empat di antaranya sebagai tersangka. Keempat tersangka itu berinisial T, MIA, MNH, dan S. Mereka dijerat Pasal 368 KUHP tentang pemerasan.

Sementara itu, Tim Pemburu Preman (TPP) Polres Metro Jakarta Barat menangkap empat pemuda yang kerap melakukan pemalakan terhadap penjual sayur di Pasar Tomang Jakarta Barat.

Brigadir polisi Satu (Briptu) Helmy selaku pimpinan Tim 2 TPP menyebut para tersangka ditangkap atas dasar pengaduan warga para pedagang sayur Pasar Tomang yang diresahkan dengan aksinya.

Helmy menambahkan para pelaku tak hanya menjadikan para pedagang sayur sasaran mereka. Mobil pembawa sayur maupun kontainer dan truk-truk yang melintas juga jadi sasaran. Para pelaku akan bertindak lebih keras dengan menodongkan celurit jika korban hanya memberi uang sebesar Rp5.000.

Pemalakan yang dilakukan para preman itu tentu saja merugikan. Sejumlah pedagang di Pasar Tanah Abang mengeluhkan perihal premanisme yang menurut mereka seolah telah membudaya di kalangan masyarakat sana. 

Bahkan para pedagang menyebut, kegiatan premanisme di Tanah Abang dari dulu tidak pernah berhenti. Pedagang menyebut karena seakan sudah membuadaya, kegiatan premanisme pun lalu dinilai sebagai hal biasa bagi warga ataupun pedagang yang setiap harinya berada di sana.

Premanisme merupakan penyakit lama, yang selalu kambuh manakala kewaspadaan masyarakat menurun dan ada celah dari sistem keamanan. Pemberantasannya sudah sering dilakukan polisi dan selalu berhasil selama operasi berlangsung. 

Modus premanisme bermacam-macam, ada yang caranya vulgar dengan melakukan pemerasan secara terang-terangan, dan ada pula yang dengan cara halus tapi ujung-ujungnya memaksakan kehendak. Bahkan tak segan-segan mereka melukai korbannya. 

Aksi premanisme di Jakarta makin merajalela, dimana para pelaku seolah sudah tidak ada lagi rasa takut kepada polisi atau aparat hukum lainnya. Mereka melakukan pemerasan secara terbuka dan di depan umum. Aksi para preman itu membuat masyarakat resah, dan hilangnya rasa aman dan nyaman.

Pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar mengatakan, jika sudah terjadi hal yang tidak diinginkan oleh masyarakat, maka tentunya ada tidak mampu ditangani secara profesional oleh aparat hukum. 

Dua kondisi yang sedang kurang tertangani secara profesional oleh polisi. Konsentrasinya pecah, serius dalam menghadapi masalah kamtibmas atau masalah pra pemilu, ini politis. Di sisi lain kondisi sosial ekonomi rakyat kecil belum semua baik. 

Untuk itu perlu tindakan antisipatif, bukan hanya dari polisi saja. Masyarakat harus makin cerdas dalam menangani aksi premanisme. Alangkah baiknya setiap perumahan dan arena bisnis ada CCTV agar ada bukti akurat untuk menangkap aksi para preman. 

Semua pihak, terutama kepolisian berkomitmen membersihkan Kota Jakarta dari berbagai aksi premanisme. Pasalnya, aksi premanisme, seperti geng motor, kepemilikan senjata ilegal, penganiayaan, penyerangan, pemalakan dan kriminalitas jalanan lainnya, sudah meresahkan masyarakat.

Untuk mencegah aksi premanisme polisi harus meningkatkan patroli ke segala penjuru wilayah ibukota untuk memastikan keamanan dan kenyaman warga yang melakukan aktivitas khususnya pada malam hari.

Mereka yang terbukti melanggar hukum langsung diproses hingga sampai ke pengadilan negeri. Hal ini untuk memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan.