Berprestasi Bangun Jakarta: Anies Terus Diserang, Disebut Jadi Target Untuk Disingkirkan

Sammy
Berprestasi Bangun Jakarta: Anies Terus Diserang, Disebut Jadi Target Untuk Disingkirkan

Jakarta, HanTer - Berbagai kritik kian diarahkan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Timbul anggapan adanya indikasi Anies ingin disingkirkan secara politik.

Anggota DPD RI Fahira Idris, menilai, sejumlah kritik diarahkan kepada Anies Baswedan yang sekarang menjabat Gubernur DKI Jakarta. Namun, kritikan yang ditujukan kepada Anies kian besar ketika sang Gubernur mampu menunjukkan prestasi.

Salah satu tujuannya, yakni mendegradasi berbagai capaian yang diraih Jakarta dan program pembangunan yang mulai dirasakan warga Ibu Kota.

"Intensitas ‘serangan’ terhadap Anies biasanya meningkat di saat-saat Gubernur DKI Jakarta ini membuat terobosan baru atau saat Pemprov mendapat prestasi," ungkapnya di Jakarta, Minggu (25/8/2019).

Menurut pengamatannya, semakin sering Pemprov DKI membuat terobosan atau mendapat apresiasi, serangan akan semakin intensif. "Sebenarnya, lanjut dia, jika isu yang jadi tema kritikan atau ajang cacian kepada Anies substanstif, tidak masalah," ucap Fahira.

"Namun, sering sekali yang jadi ‘peluru’ hal-hal tidak penting. Sudah tidak penting, dilebarkan kemana-mana yang mengarah kepada serangan personal dan pembunuhan karakter serta dikait-kaitkan dengan isu SARA," tambah dia.

Seperti soal instalasi bambu Getah Getih di Bundaran HI yang dipajang guna kepentingan Asian Games 2018. Instalasi tersebut memang hanya berdurasi enam bulan saja. Namun, instalasi tersebut mendadak dijadikan ‘peluru’ untuk menyerang Anies saat waktunya memang harus dibongkar.

"Saat semua terklarifikasi, termasuk pendanaan yang merupakan bantuan dari 10 BUMD DKI, kini pesan dari instalasi seni berbahan bambu bukan bahan lain misalnya baja yaitu menaikkan potensi ekonomi bambu dan memberdayakan petani dan seniman bambu, malah dibelokkan ke soal-soal lain yang sama sekali tidak substantif," terang dia.

Di negara demokrasi, kata Fahira, konsekuensi menjadi seorang pemimpin adalah harus siap dikritik, dihujat, dicaci, bahkan difitnah. 

Menurutnya, rentetan prestasi tidak akan menjamin seorang pemimpin mendapat pujian apalagi pengakuan.

"Malah mungkin semakin berprestasi, serangan akan semakin menjadi. Ada pemimpin yang biasa-biasa saja, tetapi karena dukungan publikasi ditampilkan seperti dewa tanpa cela. Demikian juga sebaliknya, ada pemimpin berprestasi dan hasil kerjanya dirasakan rakyat, tetapi ‘dibonsai' menjadi tidak bisa apa-apa karena prestasinya ditutupi oleh isu-isu tidak substansi yang diembuskan dengan masif dan rapi," pungkas Fahira.

Dukung Anies

Salah satu anggota terpilih DPRD periode 2019-2024 dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), KH Muhammad Thamrin, mengatakan, bertambahnya anggota DPRD fraksi PKS secara langsung menambah kekuatan untuk mendukung program Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan selaku Partai pengusung dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tahun 2017 silam. 

"Kalau program-program memang wilayahnya pak Gubernur itu memang untuk bisa membuat warga Jakarta lebih baik, bisa kemudian membenahi Jakarta lebih baik, kita sangat-sangat dukung lah. Beliau perlu support (dukungan) yang baik dari semuanya untuk cinta Jakarta lah," ungkap KH Thamrin di Jakarta, Minggu (25/8/2019).

Walau begitu, selaku perpanjangan tangan dari masyarakat, KH Thamrin mengaku akan menyampaikan seluruh keputusan atas kepentingan masyarakat. Sehingga apa pun yang dinilai berguna bagi kesejahteraan masyarakat, dirinya akan mendukung. 

"Barang kali ada orang yang sulit mengakui kejujuran hati kita sendiri, kalau kita jangan ada kepentingan. Kita di masyarakat juga begitu, kalau ada konflik-konflik kita dudukan, yang salah kita tempatkan salah, yang benar kita tempatkan benar," ungkap KH Thamrin.

"Jadi artinya bisa berafiliasi kepada kebenaran, kalau kebenaran itu berafiliasi dengan kebenaran yang haq itu berafiliasi dengan yang benar. Itu semua kita dukung," tutupnya. 

Tidak Diam

Sementara itu, Wakil Ketua DPD Gerindra, Syarif meragukan adanya indikasi Anies akan disingkirkan. "Ga ada itu. Itu anggapan orang-orang syirik aja paling sama prestasi Pak Anies," ujar dia di Jakarta, Minggu (25/8/2019).

Ia menegaskan, Partai Gerindra tentunya tak akan tinggal diam jika ada yang mengganggu bahkan berniat menyingkirkan Anies.

Disisi lain, pengamat politik Ray Rangkuti, menilai, Gerindra punya kepentingan khusus untuk berkoalisi dengan PDI Perjuangan. Kepentingan itu bersifat jangka pendek dengan tujuan menyingkirkan Anies Baswedan di Pemilihan Gubernur DKI 2022.

"Yang dekat menurut saya DKI Jakarta. Saya melihat ada kemungkinan PDIP dan Gerindra akan berkoalisi mengusung, mungkin bukan Anies," kata Ray di Jakarta, Minggu (25/8/2019).

Pendiri Lingkar Madani ini melihat Gerindra sudah tidak nyaman lagi dengan mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu. Karena itu, Gerindra ingin berkoalisi dengan PDI Perjuangan di Pilgub DKI 2022 mendatang.

"Tentu banyak faktor kenapa Gerindra merasa kurang nyaman dengan Anies, pertama Anies kurang optimal untuk bekerja di pilpres kemarin di DKI," kata dia. 

Belum Berhasil

Terpisah, pengamat kebijakan publik Trubus Rahardiansyah, mengatakan, memang belakangan ini mengemuka wacana mencari pilihan selain Anies. Ia melihat, hal itu dikarenakan oleh sebagian masyarakat Anies dianggap belum berhasil.

"Ya, salah satunya belum berhasil melaksanakan program-program pembangunan contohnya. Kemudian, program banyak yang belum jalan, seperti OK OCE, OK OTrip ke Jak Lingko kan ga optimal," ungkapnya di Jakarta, Minggu (25/8/2019).

Selain itu, lanjut Trubus, yang menjadi perhatian adalah Anies tak memiliki partai politik sebagai kendaraan politik. "Faktor ini jadi suatu kerentanan tersendiri. Anies tak punya parpol yang mengikat. Sehingga, rentan untuk adanya Impeachment," ujar dia.