10 Tewas dan 75 Orang Terluka, Kerugian Akibat Kebakaran di Jakarta Ratusan Miliar

Sammy
10 Tewas dan 75 Orang Terluka, Kerugian Akibat Kebakaran di Jakarta Ratusan Miliar
Ilustrasi petugas sedang berupaya memadamkan kobaran api

Jakarta, HanTer - Memasuki musim kemarau, ancaman kebakaran kian mengancam terjadi di Ibukota. Tercatat, ribuan kejadian kebakaran kerap terjadi sepanjang 2019.

Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Provinsi DKI Jakarta mulai 1 Januari sampai 5 Agustus 2019 menunjukkan, akibat korsleting listrik masih menjadi penyebab terbanyak dari kasus kebakaran yang terjadi di wilayah Jakarta sepanjang tahun ini.

"Jumlah kebakaran sampai saat ini ada 1.102 kasus. Yang disebabkan listrik itu ada 677 kasus, kan lebih dari setengahnya,” kata Kepala Bidang Pencegahan Kebakaran DPKP DKI Jakarta Jon Vendri di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Ia menambahkan, selain listrik ada beberapa penyebab lain di antaranya pembakaran sampah 123 kasus, gas 107 kasus, rokok 38 kasus, dan lilin 14 kasus.

Sementara mengenai penyebaran wilayah kebakaran, menurut data yang sama, Jakarta Timur menempati urutan tertinggi dengan 288 kasus, disusul oleh Jakarta Selatan 280 kasus.

Sementara Jakarta Barat 195 kasus, Jakarta Utara 176 kasus, dan Jakarta Pusat 153 kasus. Sementara 10 kasus sisanya berasal dari wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi di mana DPKP DKI Jakarta diperbantukan.

Dari keseluruhan kasus itu, rumah tinggal merupakan pokok benda terbakar paling banyak dengan jumlah mencapai 350 kasus.

Ratusan Miliar

Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta, yang juga Kepala BPBD DKI Jakarta, Subejo menyebutkan, akibat kebakaran tersebut, tercatat ada sebanyak 1.908 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari sebanyak 8.524 orang jiwa yang kehilangan tempat tinggal. Kebakaran tersebut pun ditaksir merugikan sebesar Rp155,3 miliar.

"Dalam kejadian ada sepuluh korban meninggal dunia dan 64 orang terluka dari warga, sedangkan dari petugas ada 11 orang yang terluka saat sedang bertugas," ungkapnya di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Berdasarkan data yang dihimpun, kebakaran terbesar dipicu korsleting listrik, yakni kurang lebih sebesar 65 persen, kebocoran tabung gas sebanyak 87 kejadian atau sebesar 10 persen, membakar sampah sebanyak 48 kejadian atau enam persen. Sedangkan penyebab kebakaran dari rokok sebanyak 22 kejadian atau tiga persen, lilin sebanyak tiga kejadian atau 0,3 persen.

"Penyebab kebakaran lainnya ada 98 kejadian atau 12 persen, penyebab ini di antaranya kembang api, kendaraan terbakar dan lainnya," urainya.

Sedangkan, bangunan yang menjadi lokasi kebakaran disebutkannya meliputi perumahan sebanyak 267 kejadian, bangunan umum dan perdagangan sebanyak 136, instalasi luar gedung sebanyak 247 kejadian. Kemusian bangunan industri sebanyak sembilan kejadian, kendaraan sebanyak 64 kejadian, tanaman 23 kejadian, lapak 14 kejadian, sampah 28 kejadian dan bangunan lainnya sebanyak 35 kejadian.

Lebih lanjut ia memaparkan, waktu kebakaran terbagi empat, terbanyak pada pukul 06.00WIB hingga pukul 12.00WIB, yakni sebanyak 672 kejadian, pukul 12.00WIB hingga pukul 18.00WIB sebanyak 503 kejadian, pukul 18.00WIB hingga pukul 24.00WIB sebanyak 620 dan pukul 00.00WIB hingga pukul 06.00WIB ada sebanyak 197 kejadian.

"Kalau dilihat dari trennya, kebakaran terbanyak jelang musim kemarau, karena itu diingatkan kepada masyarakat agar menjaga lingkungan, mulai dari memeriksa instalasi listrik rumah, jangan membakar sampah dan tidak mengambil listrik dari tiang PJU (Penerangan Jalan Umum) karena pemicu kebakaran terbanyak diketahui karena korsleting listrik," tukasnya.

Faktor Cuaca 

Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna, menyoroti buruknya instalasi kelistrikan di pemukiman warga yang turut berperan dan menjadi salah satu penyebab Jakarta rentan musibah kebakaran. Menurutnya, kebakaran di Jakarta kebanyakan disebabkan hubungan arus pendek listrik alias korsleting akibat pengawasan yang lemah terhadap pemakaian listrik oleh warga.

"Hal ini menunjukkan ada permasalahan dengan instalasi listrik. Apalagi di perumahan padat dan kumuh. Mungkin ada yang listriknya separuh nyolong, mungkin pemasangan kabel-kabel dan instalasi listrik antar rumah kurang pengamanan," katanya di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Yayat mengatakan, perlu adanya sosialisasi mengenai panduan pencegahan kebakaran di tiap pemukiman warga. Ia menilai, saat ini pemahaman masyarakat masih kurang.

"Cobalah dibuat panduan di RT/RW karena hampir rata-rata tidak ada. Jadi, orang merasa tidak mungkin terjadi, padahal sudah sering terjadi," kata dia.

Menurutnya, potensi terjadinya musibah kebakaran di Jakarta cenderung meningkat. Angka kejadiannya makin banyak saat memasuki musim kemarau seperti sekarang ini.

Pasang Stiker

Disisi lain, Pemprov DKI Jakarta akan membuat stiker tanda bagi rumah atau kawasan rawan kebakaran. Stiker akan dilepas bila rumah atau kawasan dinyatakan tidak lagi rawan kebakaran. 

"Kita nomor satu, ada penandaan sekarang, kawasan-kawasan yang memiliki risiko kebakaran karena penggunaan aliran-aliran saluran listrik yang tidak sesuai dengan ketentuan," ujar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Jakarta, Selasa (13/8/2019). 

Anies menuangkan aturan itu dalam Instruksi Gubernur nomor 69 tahun 2019, tentang Gerakan Warga Cegah Kebakaran. Pendataan dan penandaan lokasi rawan kebakaran dilakukan oleh Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (PKP) DKI Jakarta.

Pendataan dan penempelan tanda akan dilakukan dari tingkat rumah sampai kelurahan. Dinas PKP akan memberikan striker dengan tulisan 'Rumah Waspada Kebakaran,' sampai 'Kelurahan Waspada Kebakaran,' sesuai dengan lokasi yang dinilai.

"Kampung yang di sana ditemukan ada seliweran kabel-kabel yang tidak sesuai ketentuan berpotensi menghasilkan hubungan pendek, di situ kampungnya diberi tanda dan harus diperbaiki," ujar Anies. 

"Lalu juga di sana ada tempat-tempat yang punya potensi menghasilkan api. Di situ harus ada ekstra pengamanan. Kalau mereka belum melakukan maka tempatnya akan diberi tanda sebagai tempat berisiko kebakaran. Setelah mereka koreksi baru tanda itu bisa dicopot," imbuh Anies. 

Dengan adanya penanda, masyarakat akan saling mengingatkan. Sehingga ada sikap saling mengawasi antar warga Jakarta.