Korban Penipuan Berharap Hakim Vonis Terdakwa Sesuai Koridor Hukum

Safari
Korban Penipuan Berharap Hakim Vonis Terdakwa Sesuai Koridor Hukum

Jakarta, HanTer - Tan Herry Sutanto pemilik PD. Surya Logam, korban penipuan yang diduga dilakukan pasangan suami - istri Susiliawati Muryani Berlian dan H. Wahyu Widi Handoko antusias mengikuti proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Herry selalu hadir untuk mengawal proses persidangan agar uangnya sebesar Rp 11,9 milliar yang ditipu pasangan suami isteri tersebut bisa kembali.

Aldi Surya Kusumah, kuasa hukum Tan Herry Sutanto mengatakan, kliennya bisa tertipu oleh Susiliawati Muryani Berlian dan H. Wahyu Widi Handoko yang saat telah menjadi terdakwa karena selalu membayar tunai ketika membeli material bangunan. Apalagi setiap belanja jumlahnya mencapai puluhan juta. Sehingga ketika kedua terdakwa menyampaikan saat ini sedang mengerjakan proyek dan pembayarannya melalui giro kliennya percaya.

"Klien kami dapat 26 giro tapi saat dicairkan gironya kosong sehingga tidak bisa cair," ujar Aldi yang didampingi Ricky Umar, juga kuasa hukum Tan Herry Sutanto di PN Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019).

Aldi berharap proses persidangan kliennya yang menjadi korban penipuan yang tetap berjalan sesuai koridor hukum. Sehingga tidak ada berat sebelah atau tidak adil. Pihaknya berharap agar hakim melihat secara utuh dan obyektif terhadap kasus penipuan yang membuat kliennya menjadi korban. 

"Makanya kita akan terus kawal sidang ini. Apalagi terdakwa I dan II sudah berulang kali melakukan penipuan. Modus operandinya sama, ada beberapa korban yang telah konsultasi ke kami dan menyatakan 'saya juga juga ditipu oleh terdakwa'. Kemungkinan korban ini akan membuat laporan ke polisi," ujarnya.

Aldi menuturkan, jika proses persidangan mencium aroma yang tidak baik maka pihaknya tidak segan - segan untuk melapor ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Namun sebelum laporan tersebut dilakukan maka pihaknya berharap proses persidangan berjalan lancar dan tidak ada hambatan.

"Kami berharap hakim memutus perkara ini seadil - adilnya sesuai koridor hukum," tegasnya.

Sementara itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rosmalina Sinaga, mendukung kasus terebut masuk persidangan. Apalagj ada korban juga sudah dirugikan yang nilainya milyaran rupiah. Ia pun mengaku tidak ada yang aneh atau janggal dalam proses persidangan tersebut. "Kita dukung ini persidangan ini berjalan," tegasnya.

Perkara ini bermula ketika PT. Rekacipta Inti Karya mendapatkan kontrak kerjasama dengan PT. Anugerah Citra Abadi (sebagai Kontraktor Utama) dalam pengerjaan proyek  pembangunan sarana Penunjang  Operasi Tower A dan Tower B, di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur. Untuk melaksanakan pengerjaan terhadap proyek tersebut maka pada sekitar bulan Juni tahun 2017  terdakwa Susi dan terdakwa Wahyu mendatangi Toko PD Surya Logam milik Tan Herry  Susanto untuk membeli bahan bangunan yang diperlukan dalam proyek tersebut.

Sebelumnya kedua terdakwa adalah pelanggan setia Tan Herry. Sehingga kedua terdakwa berjanji untuk melakukan pembayaran setelah barang dikirim oleh saksi korban, maka kedua terdaktwa mengatakan akan langsung melakukan pembayaran kepada saksi korban dan dijanjikan juga oleh kedua terdakwa kepada saksi korban uangnya akan ditransfer sesuai invoice kerekening Tan Herrry yakni Rp11,9 miliar.

Namun setelah dicairkan oleh Tan Herry, ternyata seluruh Giro tersebut ditolak oleh pihak bank dengan alasan dana tidak ada. Atas kejadian tersebut Herry melakukan pengecekan proyek tersebut dan bertemu dengan pihak PT. Anugerah Citra Abadi (H. Zakki Mubarokh) sebagai kontraktor utama, mengatakan proyek yang dimaksud telah selesai dan pihak PT.Anugerah Citra Abadi telah melakukan pembayaran  secara lunas kepada PT. Rekacipta Inti Karya melalui kedua terdakwa. Atas perbuatannya Susi dijerat pasal  378 Jo 55 ayat 1 ke 1 Jo pada 64 ayat 1 KUHP ancaman hukuman 5 tahun. Dan Wahyu dijerat pasal 372 Jo 55 ayat 1 ke 1 Jo pada 64 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun.