Korupsi Proyek Gedung IPDN; Tiga Bos Perusahaan Kontraktor Mangkir Diperiksa KPK

safari
Korupsi Proyek Gedung IPDN; Tiga Bos Perusahaan Kontraktor Mangkir Diperiksa KPK

Jakarta, HanTer - Tiga dari empat orang petinggi perusahaan kontraktor terkait kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tidak hadir memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Sedianya tiga bos tersebut diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Dudy Jocom, mantan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Setjen Kementerian Dalam Negeri.

 

Adapun ke-3 bos yang tidak hadir  tersebut terdiri dari: Direktur PT Graha Inti Alam, Hari Susanto; Direktur Utama PT Arus Berkat Bersama, Triwahyu Wicaksono; dan Direktur PT Mayang Sakti, Zaliansyah Fitriadi. Ketiganya tidak hadir tanpa memberikan keterangan. Sementara satu bos yang hadir di KPK yakni Direktur Utama PT Timur Mas Abadi, Harry Agus Tanzil.

 

"Seharusnya mereka diperiksa sebagai saksi untuk tersangka DJ (Dudy Jocom, mantan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Setjen Kementerian Dalam Negeri). Untuk saksi yang hadir penyidik mendalami keterangan saksi terkait pekerjaan Subkontraktor dalam pembangunan Gedung Kampus IPDN Kabuoaten Gowa," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Jumat (12/7/2019).

 

Dalam kasus ini, KPK terus mendalami peran dua korporasi PT Adhi Karya dan PT Waskita Karya selaku penggarap proyek pembangunan gedung IPDN. Kuat dugaan kedua korporasi ini ikut terlibat dalam skandal pembangunan IPDN tersebut. Untuk memperkuat dugaan tersebut, tim penyidik pun telah menggeledah kantor PT Adhi Karya dan PT Waskita Karya di Jakarta. 

 

Sejumlah dokumen dan bukti elektronik disita tim dari kedua lokasi yang digeledah tersebut. Belakangan, penyidik menyita sejumlah dokumen dari staf Keuangan dan Sumber Daya Manusia PT Waskita Karya, Setiadi Pratama dan staf PT Kakanta, Andi Sastrawan yang menjadi pelaksana lapangan proyek IPDN Gowa. Dokumen itu diduga berkaitan dengan kasus tersebut.

 

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan Dudy Jocom sebagai tersangka korupsi pembangunan empat kampus IPDN di Sulawesi Selatan dan kampus IPDN di Sulawesi Utara. Selain Dudy, KPK juga menetapkan dua tersangka lain yakni Kepala Divisi Gedung atau Kepala Divisi I PT Waskita Karya, Adi Wibowo dan Kepala Divisi Konstruksi VI PT Adhi Karya, Dono Purwoko.

 

Dalam kasus ini, Dudy Jocom melalui kenalannya diduga menghubungi beberapa kontraktor untuk menginformasikan adanya proyek IPDN. Selanjutnya, para pihak itu menggelar pertemuan di sebuah kafe di Jakarta. Dari pertemuan itu, disepakati adanya pembagian proyek. Proyek IPDN di Sulawesi Selatan digarap Waskita Karya sementara PT Adhi Karya menggarap proyek IPDN di Sulawesi Utara. Dudy Jocom Cs diduga meminta fee 7% dari setiap proyek itu.

 

Negara diduga mengalami kerugian sekitar Rp21 miliar akibat kasus ini. Nilai kerugian itu berdasarkan kekurangan pekerjaan pada kedua proyek tersebut, untuk proyek IPDN di Sulawesi Selatan negara merugi Rp11,18 Miliar, dan Rp9,378 miliar untuk proyek kampus IPDN di Sulawesi Utara.

Atas perbuatannya, Dudy Jocom, Adi Wibowo dan Dono Purwoko disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.