Memasuki Musim Kemarau

TAJUK: Mencegah Kebakaran di Jakarta

***
TAJUK: Mencegah Kebakaran di Jakarta

Musim kemarau telah tiba. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta menyatakan potensi kebakaran saat musim kemarau semakin tinggi, sehingga perlu kewaspadaan dari seluruh elemen masyarakat.

Ancaman kebakaran pun semakin rawan terjadi di Ibukota. Pasalnya, tercatat sebanyak 823 kasus kebakaran sepanjang tahun 2019. Da;am beberapa bulan terakhir peristiwa kebakarn terjadi di Jakarta. Teranyar, Kebakaran yang melanda pemukiman penduduk RT 14 dan 15 RW 5 Kelurahan Cipinang Besar Utara, diduga berasal dari kantin pekerja Apartemen Bassura City, Cipinang, Jakarta Timur Sabtu pukul 5.30 WIB.

Sebelumnya kebakaran melanda Sekolah Pelita yang terletak di Tambora, Jakarta Barat, Minggu dan Kelurahan Kebon Kacang mendistribusikan bantuan dari Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta kepada korban kebakaran Jalan Jati Bunder, Tanah Abang. 

Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta, Subejo menyebutkan wilayah Jakarta Selatan tercatat mengalami kebakaran terbanyak, yakni sebanyak 222 kejadian. Disusul Jakarta Timur dengan sebanyak 207 kejadian. Sedangkan wilayah Jakarta Barat ada sebanyak 148 kejadian, Jakarta Utara sebanyak 129 kejadian dna Jakarta Pusat sebanyak 117 kejadian.

Dalam kebakaran tersebut, tercatat ada sebanyak 1.908 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari sebanyak 8.524 orang jiwa yanv kehilangan tempat tinggal. Kebakaran tersebut pun ditaksir merugikan sebesar Rp155,3 miliar.

Dalam kejadian ada sepuluh korban meninggal dunia dan 64 orang terluka dari warga, sedangkan dari petugas ada 11 orang yang terluka saat sedang bertugas.

Berdasarkan data yang terhimpun, kebakaran terbesar dipicu korsleting listrik, yakni sebanyak 565 kejadian atau sebesar 65 persen, kebocoran tabung gas sebanyak 87 kejadian atau sebesar 10 persen, membakar sampah sebanyak 48 kejadian atau enam persen.

Sedangkan, penyebab kebakaran dari rokok sebanyak 22 kejadian atau tiga persen, lilin sebanyak tiga kejadian atau 0,3 persen. Penyebab kebakaran lainnya ada 98 kejadian atau 12 persen, penyebab ini di antaranya kembang api, kendaraan terbakar dan lainnya.

Sementara, bangunan yang menjadi lokasi kebakaran disebutkannya meliputi perumahan sebanyak 267 kejadian, bangunan umum dan perdagangan sebanyak 136, instalasi luar gedung sebanyak 247 kejadian, bangunan industri sebanyak sembilan kejadian, kendaraan sebanyak 64 kejadian, tanaman 23 kejadian, lapak 14 kejadian, sampah 28 kejadian dan bangunan lainnya sebanyak 35 kejadian. 

Kebakaran tersebut tercatat terjadi sepanjang bulan Januari hingga akhir bulan Juni 2019, antara lain Januari sebanyak 143 kejadian, Februari sebanyak 129 kejadian, Maret sebanyak 133 kejadian, April sebanyak 122 kejadian, Mei sebanyak 137 kejadian dan Juni sebanyak 159 kejadian. 

Waktu kebakaran terbagi empat, terbanyak pada pukul 06.00WIB hingga pukul 12.00WIB, yakni sebanyak 672 kejadian, pukul 12.00WIB hingga pukul 18.00WIB sebanyak 503 kejadian, pukul 18.00WIB hingga pukul 24.00WIB sebanyak 620 dan pukul 00.00WIB hingga pukul 06.00WIB ada sebanyak 197 kejadian. 

Untuk mencegah kebakaran berbagao kalangan meminta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) terus menggencarkan sosialisasi pencegahan kebakaran.

Wakil Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta, William Yani, mengatakan, sosialisasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran penting dilakukan terlebih saat ini memasuki musim kemarau. Harapannya agar warga tahu cara pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

sosialisasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran juga penting digencarkan di wilayah-wilayah rawan kebakaran. Yang tak kalah penting adalah masyarakat juga harus paham dengan pemasangan instalasi listrik yang baik dan benar. Sosialisasinya harus dilakukan dengan cara door to door.

‎Pengamat Tata Kota dari Universitas Indonesia (UI) Yayat Supriatna, mengatakan, pentingnya penanganan reaksi cepat dalam menanggulangi kebakaran. Pemerintah membentuk satuan organisasi cepat dalam penanganan kebakaran gedung-gedung di Jakarta.

Kita menyarankan, pemerintah harus lebih cepat dan memperbaiki sistem pemadam kebakaran di tiap objek vital. Jakarta harus menerapkan sistem yang baik untuk mengatasi kebakaran.

Masyarakat harus waspada akan potensi kebakaran di saat musim kemarau saat ini.