Menag Resmikan Maktabah Kanzul Hikmah 

Safari
Menag Resmikan Maktabah Kanzul Hikmah 

Jakarta, HanTer - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin meresmikan Maktabah Kanzul Hikmah atau perpustakaan sejarah ulama Sadah Bani Alawiy (keturunan Sayyidina Alwi bin Ubaidillah dari garis Sayyidina Husin bin Ali, cucu Baginda Nabi SAW) yang ada di Indonesia. Perpustakaan ini terletak di Jl Kalibata Timur Raya No 31A, Jakarta Selatan.

Hadir sejumlah tokoh dalam peresmian perpustakaan ini yakni mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Alwi Shihab, Prof Quraish Shihab dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) serta Muhammadiyah. Hadir juga akademisi dari sejumlah perguruan tinggi nasional seperti dari Pusat Kajian Timur Tengah Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Dr Munir dan Dewan Peneliti Mahya Prof. Fajrie AlatasProf. Fajrie Alatas. 

Menag Lukman mengaku senang dengan diresmikannya perpustakaan Alawiyah. Apalagi keberadaan Maktabah Kanzul Hikmah bisa menjadi pemyambung sanad (darah) antara para pendahulu Indonesia hingga saat ini. Oleh karena itu Menag Lukman berharap keberadaan Maktabah Kanzul Hikmah bisa terjaga oleh para penerusnya.

"Karenanya pemerintah sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh Majelis Alawiyah ini. Mudah-mudahan pustakaan ini bisa terus berkembang pesat di masa-masa mendatang," tegas Menag Lukman usai peresmian Maktabah Kanzul Hikmah di Jakarta, Sabtu (29/6/2019).

Menag menuturkan, untuk melestarikan perpustakaan khususnya sejarah ulama Indonesia, Kemenag mempunyai program-program yang sejalan dengan apa yang menjadi visi - misi dari perpustakaan Maktabah Kanzul Hikmah. Di harapkan ke depan program yang dimiliki Kemenag bisa dikerjasamakan dengan Maktabah Kanzul Hikmah.

"Insya Allah ke depan ada beberapa program yang bisa kita lakukan bersama mudah-mudahan," tandasnya. 

Ketua Umum Maktabah Kanzul Hikmah, Habib Ahmad bin Novel Salim bin Jindan mengatakan, Maktabah Kanzul Hikmah merupakan perpustakaan buku-buku Islam, Maktabah Kanzul Hikmah juga mengoleksi berbagai jenis buku atau kitab, mulai dari Kitab Fiqih, Kitab Kuning, Kitab Maulid, Kitab Manakib, hingga buku-buku yang berisi pemikiran para ilmuwan Islam. Maktabah Kanzul Hikmah memiliki koleksi kitab-kitab karya Alawiyyin serta karya-karya para ulama  yang memiliki hubungan dengan kaum Alawiyin.

“Maktabah Kanzul Hikmah hadir di tengah masyarakat sebagai sumber ilmu dalam menjalankan praktik-praktik keagamaan. Bahkan dapat menjadi rujukan studi ilmiah dalam memajukan pengetahuan Islam," jelasnya. 

Lebih lanjut Habib Ahmad  mengatakan, saat ini Maktabah Kanzul Hikmah telah memiliki koleksi mencapai 12.000 judul.  Dari 12.000 judul tersebut, banyak  yang masih berupa teks tulisan tangan atau manuskrip yang didapat dari perpustakaan pribadi. 
Program Maktabah Kanzul Hikmah diantaranya adalah melakukan digitalisasi dan penjilidan pada naskah-naskah yang masih berupa tulisan tangan tersebut. 

Selain itu, saat ini seluruh koleksi juga dalam proses pengunggahan di  sistem informasi perpustakaan Senayan Library Management System (SliMS) yang tujuannya memudahkan pencarian buku secara online.

“Selain dua program tersebut, Maktabah Kanzul Hikmah juga melakukan program alih media pita kaset yang terkait tokoh Alawiyyin menjadi file MP3 sehingga bisa dinikmati pengunjung perpustakaan. Saat ini kami memiliki cukup banyak pita kaset yang berisi ceramah para habib di masa lalu yang kandungan ceramahnya masih relevan dengan kondisi umat pada saat ini,” paparnya.

Sesuai dengan artinya, Kanzul Hikmah
yang bermakna “Tempat tersimpannya ilmu”, sambung Habib Ahmad, Maktabah Kanzul Hikmah diharapkan  menjadi perpustakaan yang dapat memberikan manfaat ilmu sehingga umat Islam di Indonesia menjadi umat yang cerdas dalam menghadapi tantangan jaman.

Sekedar informasi Alawiyyin adalah sebutan yang merujuk kepada keturunan Imam Al-`Arif billah Asy-Syarif`Alawi bin `Ubaidillah bin Al Imam Ahmad Al-Muhajir, keturunan dari Nabi Muhammad SAW.  Al Imam Ahmad Al-Muhajir bin `Isa hijrah dari kota Bashrah menyelamatkan diri dan keturunanannya dari tersebar-nya bid`ah dan fitnah. Al Imam Ahmad Al-Muhajir bin `Isa sempat tinggal sementara di Haramain Syarifain (Mekkah dan Madinah) sebelum akhirnya Allah SAW membimbingnya untuk menetap di Hadramaut, Yaman. 

Di Hadramaut dakwah Al Imam Ahmad Al-Muhajir bin `Isa dilanjutkan oleh keturunannya dimana mereka terus berjuang dalam menegakkan agama dan mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang tidak memahami agama, hingga Hadramaut menjadi tanah Sunnah, bumi para wali, shalihin, dan ulama. Dari keturunan Al Imam Ahmad Al-Muhajir bin `Isa muncul generasi demi generasi yang melahirkan para ulama, auliya, shalihin, dan para ahli taqwa. 

Dari sekian banyak keturunannya yang saleh, lahirlah  sang perintis Thariqah Alawiyah : Al- Ustadzul A`adzom Al-Faqihul Muqaddam Muhammad bin `Ali Ba`alawi. Pada masa Faqih Al-Muqaddam ini terjadi peristiwa penting dalam sejarah dakwah Thariqah Alawiyah, yaitu tatkala Al Imam Ahmad Al-Muhajir bin `Isa secara simbolis mematahkan pedang sebagai tanda bahwa ia beserta seluruh anak keturunannya tidak lagi menggunakan senjata dalam berdakwah menyebarkan Islam melainkan dengan jalan merangkul dan mendamaikan. 

Dari keturunan Imam Al-`Arif billah Asy-Syarif`Alawi bin `Ubaidillah bin Al Imam Ahmad Al-Muhajir inilah dakwah Islam kemudian menyebar ke Nusantara melalui peran Walisongo dan juga orang-orang saleh yang bermukim di Nusantara sejak beratus tahun silam.  Selanjutnya, para keturunan (Saadah) Alawiyyin juga banyak melahirkan kitab-kitab agama yang memiliki kandungan ilmu sangat tinggi. Kitab-kitab tersebut kini menjadi warisan yang sangat berharga bagi generasi penerus dakwah Islam.