TAJUK: Mengadu Nasib Pendatang Baru Serbu Jakarta

***
TAJUK: Mengadu Nasib Pendatang Baru Serbu Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperkirakan usai Lebaran, Ibukota bakal kedatangan sekitar 71 ribu pendatang. Anies kembali menegaskan dia melarang aparat Dinas Kependudukan melakukan razia. Dia memerintahkan aparatnya melayani seluruh warga dengan baik. 

Menurutnya, era razia sudah tidak digunakan lagi yang ada itu kita berikan layanan informasi sebanyak mungkin.

Meski demikian, bagi warga daerah yang ingin mencari rezeki di Jakarta disarankan memiliki keahlian. Hal tersebut untuk mencegah agar tidak menjadi beban bagi warga lain alias luntang lantung. 

Menurutnya, fenomena urbanisasi ini tak perlu dijadikan polemik karena prinsipnya setiap orang baru itu harus melaporkan diri pada Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) setempat.

Diakui, Jakarta masih menjadi incaran bagi para pendatang baru pasca arus balik Lebaran 2019.  Kita setuju dengan pernyataan Anies bahwa, siapa pun memiliki hak yang sama untuk bekerja di mana saja termasuk di Jakarta.

Harus diingat, setiap warga negara Indonesia berhak untuk bekerja di mana saja karena memang Indonesia memiliki kesetaraan itu, termasuk juga Jakarta.

Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta, Dhany Sukma, mengatakan, perpindahan penduduk adalah hal yang lumrah dan kebijakan pembatasan tidak tepat untuk diterapkan. Dari sisi di alam demokrasi dan pemenuhan hak-hak sekarang, sudah tidak pas. “Kita bisa bayangkan kalau setiap daerah melakukan itu, kita seperti tinggal di negara yang ada barrier-nya." kata Dhany dikutip dari laman BBC Indonesia.

Kita sepakat tidak perlu ada pelarangan bagi warga Negara untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Yang paling penting, para pendatang memiliki alamat tinggal yang jelas, di mana mereka bisa bernaung sambil mencari pekerjaan. Selain itu, pendatang harus memiliki keahlian sehingga dapt dengan mudah mendapoatkan pekerjaan. Jika tanpa keahlian tentu akan luntang-lantung di Jakarta, bahkan banyak yang jadi gepeng (gelandangan pengemis).

Arus urbanisasi pasca Lebaran memang menjadi dilema dan pekerjaan rumah (PR) setiap tahunnya bagi Jakarta. Apalagi sebagai ibukota negara, Jakarta dianggap tempat untuk meraih kesuksesan hidup. Jakarta bisa mengadu keberuntungan hidup di ibukota negara ini. Sehingga Jakarta menjadi daya tarik bagi kaum urban untuk meraih kesuksesan dengan berbagai cara apapun. Tidak heran ketika mudik para pendatang Jakarta tersebut pamer kesuksesan ketika mengadu nasib di Jakarta.

Bagi kaum urban menilai Jakarta merupakan simbol keberhasilan. Apalagi jika di daerahnya tidak ada potensi yang bisa dikerjakan atau dibudidayakan untuk menutupi biaya hidup sehari-hari. Oleh karena itu pasca lebaran adalah waktu atau momentum yang tepat bagi kaum urban untuk datang ke Jakarta. Karena pasca Lebaran biasanya ada perusahaan padat karya membutuhkan tenaga untuk bekerja. 

Untuk menangani kaum urban datang ke Jakarta adalah pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi rakyat kecil di daerah. Semua pihak juga bekerja sama untuk membangkan berbagai macam potensi agar daerah tersebut bisa mandiri atau menciptakan pekerjaan bagi warganya tanpa harus merantau ke Ibukota atau luar negeri. 

Bila pertumbuhan ekonomi rakyat kecil di daerah terus bergerak naik, mereka pasti tidak akan mengadu nasib ke Jakarta.

Oleh karena itu sejak saat ini harus ada treatment agar kaum urban tidak harus datang ke Jakarta.  Selama Jakarta masih menjadi pusat konsentrasi peradaban di Indonesia maka kaum urban akan datang ke Jakarta setiap tahunnya. 

Jika tidak diantisipasi dengan cepat maka suatu saat Jakarta akan kesulitan menghadapi beban kepadatan penduduk. Untuk mengatasi ini maka pemerintah harus mulai mengubah cara pandangnya terhadap Jakarta, dengan memisahkan pusat ekonomi dan pemerintahan. Sehingga diharapkan membuat urbanisasi bisa menyebar ke daerah lain. Pisahkan kota pemerintahan dengan ekonomi. Jangan Jakarta jadi beban untuk pengembangan ekonomi.

#Mudik   #gubernur   #dki   #jakarta   #anies   #pendatang