JWS Dampingi Para Korban EzyCloud ke Bareskrim

Danial
JWS Dampingi Para Korban EzyCloud ke Bareskrim
Joni Wijaya Sinaga dari JWS and Partners yang mendampingi para korban EzyCloud

Jakarta, HanTer - Sejak siang hingga menjelang malam, tanpa kenal lelah para korban dugaan penipuan yang dilakukan oleh perusahaan Startup EzyCloud Indonesia antri di Bareskrim Polri, untuk melaporkan perusahaan tersebut.

Joni Wijaya Sinaga dari JWS and Partners yang mendampingi para korban, mengatakan akan terus membantu kliennya dalam mendapatkan keadilan.

"Para korban EzyCloud telah melaporkan ke Bareskrim dengan nomor LP B/0430/V/2019 tanggal 2 Mei 2019," ujar Joni kepada wartawan usai mendampingi para korban EzyCloud membuat laporan di Gedung Bareskrim, Mabes Polri, Kamis (2/5/2019).

Joni menjelaskan dalam beberapa hari kedepan ia akan ke Hongkong, mengingat para korban EzyCloud banyak para tenaga kerja wanita (TKW) di sana yang juga perlu upaya hukum.

"Ini dugaan laporan tindak pidana pencucian uang (TPPU), penipuan dan penggelapan atas dugaan penipuan yang dilakukan perusahaan startup EzyCloud Indonesia. Dugaan TPPU dilakuakan perusahaan EzyCloud Indonesia, Mega Visi Anugerah, dengan Direktur Utama yaitu bapak Hendy bersama komisarisnya Muhamad Natsir," paparnya.

Joni memperlihatkan foto kedua orang yang diduga telah menipu ribuan orang, melalui perusahaan investasi bodong. "Ini Natsir dengan mobil mewahnya, diduga dari hasil investasi bodong. Kedua orang itu, pak Hendy dan Natsir keduanya orang Pangkal Pinang, provinsi Bangka Belitung," ungkapnya.

Sementara itu Lintang, seorang ibu rumah tangga yang juga seorang tenaga kerja Indonesia mengaku tertipu sejak tahun 2014.

Nilai kerugian para korban, diperkirakan mencapai hingga angka 35 milar rupiah. Hal ini mengingat jumlah korban penipuan yang telah menyetorkan uangnya berjumlah ribuan orang, dengan setorang yang bervariasi, ada yang belasan juta sampai puluhan juta, bahkan ada yang mencapai ratusan juta rupiah.

"Selain saya, banyak tertipu di Hongkong, Taiwan, Malaysia dan di negara-negara lainnya. Ada ribuan orang," beber Lintang.