Komisioner: Tak Ada Kewenangan Komjak Campuri Promosi Jabatan Jaksa 

zamzam
Komisioner: Tak Ada Kewenangan Komjak Campuri Promosi Jabatan Jaksa 

 Jakarta, HanTer - Promosi jaksa Bayu Adhinugroho Arianto, SH selaku Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jakarta Barat menurut Komisioner Komisi Kejaksaan tidak ada hubungan dengan ayahnya Jaksa Agung HM Praseyto.

Promisi jabatan itu harus dicermati secara jernih dan akal sehat, bukan sifat iri atau dengki.

"Jadi menjadi Kajari Jakarta Barat menurut kami itu bukan promosi luar biasa. Itu karir biasa-biasa saja. Kalau Bayu jadi Kajati langsung baru luar biasa," ujar Dr. Barita Simanjuntak,SH.,MH.,CFr.A., Komisioner Komjak RI dihubungi Harian Terbit, Kamis (14/3/2019).

Barita meluruskan beberapa pendapat yang keliru terkait mutasi dan promosi di Kejagung. Berikut  ulasannya;

Pertama: berdasarkan Perpres 18 tahun 2011 tentang Komisi Kejaksaan (Komjak), tidak ada kewenangan Komjak mencampuri urusan teknis mutasi, rotasi dan promosi Jaksa. 

Bahkan lebih tegas lagi dalam Perpres tersebut ditegaskan bahwa dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya Komjak tidak boleh mengurangi kemandirian Jaksa dlm melakukan tugasnya. 

Bahwa mutasi, rotasi dan promosi jabatan jaksa sangat berkaitan dgn kewenangan penegakan hukum yang demikian besar sehingga sangat wajar pejabat yang dipilih tentulah yang dapat dipercaya dikenal baik, memiliki prestasi dan kinerja yang dievaluasi oleh pimpinan Kejaksaan secara bertingkat karena merekalah yang dapat menilainya secara objektif. 

Kedua Komjak tidak boleh mencampuri personalia jabatan di  Kejaksaan. Sebab menurut UU 16/2004 tentang Kejaksaan, Jaksa Agung adalah Penuntut Umum tertinggi yang mengendalikan semua policy kebijakan penuntutan termasuk penilaian/evaluasi jaksa. 

"Ketiga meskipun demikian kami juga mendapatkan informasi bahwa Jaksa Agung sekarang malah sangat mengurangi banyak kewenangan tersebut dengan melibatkan Waja, semua JAM dan Kabandiklat untuk mutasi, rotasi dan promosi Jaksa melalui mekanisme Rapim bahkan yang sifatnya ada kaitan personal (keluarga) utk menghindari conflict of interest, maka Jaksa Agung yang sekarang memilih abstain dan menyerahkan kepada pimpinan yang lain untuk memutus. Dan ini sudah terjadi baik waktu Bayu jadi Koordinator, Kajari maupun Asintel sebagaicatatan kami pernah secara resmi menerima surat penjelasan tentang hal ini beberapa waktu  lalu oleh JAM Pembinaan Dr. Bambang Waluyo," ujarnya.
 
Keempat, berlaku umum bagi siapapun bahwa seorang yang kebetulan menjadi anak pejabat kalau dia memiliki kompetensi, prestasi dan kinerja yang baik tidak boleh terhambat karirnya hanya karena kebetulan menjadi anak seorang pejabat. 

"Secara objektif berkaitan dengan hal ini kami mencatat bahwa yang bersangkutan punya prestasi dan kinerja yang baik antara lain sewaktu menjadi Kajari Gianyar beliaulah yang memenangkan gugatan perdata atas kekayaan negara dan mengembalikan lahan dan istana negara di Tampak Siring sebagaimana mestinya yang sekian lama tak tuntas," ujarnya.

Bayu juga berhasil memimpin penangkapan DPO koruptor terbesar Rp. 119 M yang sekian tahun tak pernah bisa ditangkap. 

"Jadi menjadi Kajari Jakarta Barat menurut kami itu bukan promosi luar biasa,itu karir biasa-biasa saja. Kalau Bayu jadi Kajati langsung baru luar biasa," ujarnya.

Kelima perlu diluruskan bahwa Komjak yang ada sekarang menjadi Komjak sejak 2015 dan sampai sekarang Jaksa Agungnya hanya  HM Prsetyo. 

"Jadi tidak tepat kalau dikatakan pernah Komjak diajak terlibat mutasi dan promosi jabatan di Kejaksaan dengan JA sebelumnya," ujarnya.

Komjak sampai sekarang sudah 3 generasi tidak pernah ikut memutuskan mutasi promosi jabatan internal di Kejaksaan siapapun Jaksa Agungnya, sebab memang demikian semestinya menurut ketentuan yang berlaku.