Diduga Rampas Rumah Nasabah, Bank Swasta Digugat Perdata

Safari
Diduga Rampas Rumah Nasabah, Bank Swasta Digugat Perdata
Slamet, SH, kuasa hukum Priscilia Georgia kepada wartawan, Kamis (14/3/2019).

Jakarta, HanTer - Sebuah bank swasta asal luar negeri berinisial J digugat secara perdata ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan oleh nasabahnya bernama Priscilia Georgia. Gugatan didaftarkan ke PN Jaksel, Kamis (14/3/2019). Gugatan dilakukan karena bank tersebut diduga merugikan Priscilia total senilai Rp30 miliar.

Gugatan juga juga dilakukan terhadap group bank tersebut karena dianggap melakukan perbuatan melawan hukum (PMH). 

"Hari ini kita datang ke pengadilan untuk mendaftarkan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap tiga pihak yang pertama adalah PT J.  Yang kedua adalah PT Bank J.  Yang ketiga adalah notaris (ES - inisial)," ujar Slamet, SH, kuasa hukum Priscilia  kepada wartawan, Kamis (14/3/2019).

Slamet memaparkan, gugatan dilakukan bermula kala Priscilia meminjam uang ke Bank Mutiara untuk membeli rumah Rp 1,8 miliar di kawasan Cibubur, Jawa Barat. Namun pada 2015, Bank Mutiara berubah nama menjadi Bank J setelah dibeli oleh perusahaan asal Jepang, karena dianggap bank gagal atau kolaps. Sebelumnya Priscilia sempat membayar cicilan Rp 200 juta ke Bank Mutiara, namun tak lagi memenuhi kewajibannya setelah tak ada kabar mengenai keberadaan bank itu.

"Tanpa ada pemberitahuan jika bank telah diakuisisi, tiba-tiba pada 2017 klien kita disuruh membayar Rp 3,7 miliar oleh pihak J. Jadi setelah diambilalih. Bank tersebut menyerahkan asetnya seperti piutang kepada groupnya yang bergerak di investasi,"  jelasnya.

Jika tak membayar, kata Slamet, rumah akan diambil paksa untuk dijual bank. Pihak bank sendiri telah melakukan berbagai upaya yang dianggap merugikan Priscilia, seperti melakukan pengosongan paksa, memasang spanduk yang menjelaskan adanya permasalahan, dan mengiklankan rumah untuk dilego. Tindakan ini dianggap merugikan Priscilia baik secara materil maupun immateril. 

"Untuk kerugian materil kita gugat ganti rugi Rp 5 miliar dan immateril Rp 25 miliar. Karena tindakan tersebut merugikan secara psikologis, nama baik dan kehormatan klien kami. Karena klien kami sering didatangi pihak bank, seakan enggak patuh perjanjian, enggak bayar hutang. Hal yang privat menjadi publik, diketahui tetangga," tuturnya.

Sebelum akhirnya memutuskan mengugat, pihak Priscilia telah berusaha kooperatif dengan memenuhi kewajibannya melunasi cicilan. Namun sejumlah tawaran pembayaran ditolak, karena pihak bank hanya ingin nasabah melunasi cicilan sesuai nilai yang telah ditentukan. 

"Perasaan saya atas persoalan ini campur aduk, kuatir, sedih, malu. Banyak tetangga yang mengetahui kalau saya bermasalah dengan bank. Ini kan rumah saya, kenapa jadi orang yang menguasai. Karena itu saya putuskan melawan balik," jelasnya.