Sikapi Vonis Bebas 7 Koruptor Bank Mandiri; Kejagung Serahkan Memori Kasasi

zamzam
Sikapi Vonis Bebas 7 Koruptor Bank Mandiri; Kejagung Serahkan Memori Kasasi

Jakarta, HanTer - Pidsus Kejaksaan Agung pekan lalu secara resmi menyerahkan memori kasasi tujuh terdakwa kasus pembobolan Bank Mandiri oleh PT Tirta Amarta Bottling (TAB) dengan kerugian negara Rp1,8 Triliun.

Tujuh terdakwa itu divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Bandung, bulan lalu. 

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Dr M Adi Toegarisman mengatakan ada empat hal dalam memori kasasi yang telah diserahkan tim jaksa penuntut umum (JPU). Pertama tentang pandangan atau pertimbangan hakim  soal kerugian keuangan negara.

"Dalam persidangan kita sudah ajukan hasil audit BPK, berarti itu bukti surat dan kami hadirkan di sidang. Tapi hakim menyatakan itu bukan kerugian negara tapi itu menghitung jumlah tagihan. Padahal BPK menghitung atas permintaan kita berapa kerugian negara," ujar Adi Toegarisman usai Rakernis Pidana Khusus di Kantor Badiklat Kejaksaan RI di Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Point ke dua menyangkut pertimbangan hakim bahwa jaminan dari terdakwa selaku nasabah dari bank masih memadai. Padahal setelah tim jaksa mengkrocek dilapangan hasilnya nihil. 
"Jaminan utangnya, kami turun kelapangan ternyata itu bukan piutang,  pernyataan piutang itu palsu," jelasnya.

Point ketiga dalam memori kasasi juga di masukkan soal tidak sesuainya pembayaran angsuran pinjaman yakni perbulan hanya Rp 7 juta, padahal pinjamannya Rp 1 triliun lebih. 
"Sebetulnya terdakwa masih proses membayar masih mengangsur, tapi itu hanya bayar 3 bulan, hanya Rp 7 juta, dari sekian triliun," ujarnya.

Point keempat, ada pihak ketiga yang mau mengambil alih, karena ada swasta yang sanggup itu. 

"Dari data yang ada, pihak ketiga yang mau ambil itu jauh sebelum kita masuk dalam menyidik perkara ini," tutupnya.

Terkait terdakwa yang telah dibebaskan, Adi Toegarisman meminta agar publik tidak perlu khawatir karena nantinya jika terbukti ditingkat kasasi, pasti dilakukan eksekusi.

"Pasti dituntaskan dengan mengeksekusi ke penjara," ujarnya.

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung mevonis bebas tujuh terdakwa korupsi penyelewengan fasilitas kredit PT Bank Mandiri (Persero) Commercial Center Bandung I kepada PT Tirta Amarta Bottling Company (TABC) senilai Rp 1,8 trliun. 

Majelis Hakim yang diketuai Martahan Pasaribu menilai para terdakwa dalam kasus tersebut tidak terbukti melakukan tindakan melawan hukum. Hakim menilai proses pengajuan kredit Bank Mandiri cabang Bandung dengan Dirut PT TAB berjalan sesuai prosedur.

Dalam kasus korupsi penyelewengan fasilitas kredit PT Bank Mandiri (Persero) Commercial Center Bandung I kepada PT Tirta Amarta Bottling Company (TABC) , penyidik telah menetapkan banyak tersangka yakni Direktur PT TABC Rony Tedy, Direktur Head Officer Juventius. 

Sementara lima orang lain berasal dari Mandiri Commercial Banking Center Bandung I yakni Commercial Banking Manager Surya Baruna Semengguk, Senior Credit Risk Manager Teguh Kartika Wibowo, Relationship Manager Frans Eduard Zandstra, Commercial Bankig Head Totok Sugiharto dan Wholesale Credit Head Poerwitono Poedji Wahjono.

Ketujuh terdakwa didakwa dengan pasal 2 ayat (1) Jo. pasal 18 Undang-Undang (UU) 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi sebagaimana diubah menjadi UU 20/2001 Jo. pasal 55 ayat (1) KUHP.

Berawal KMK

Kasus tersebut bermula ketika PT Bank Mandiri (Persero) memberikan fasilitas kredit modal kerja (KMK) pada 19 Desember 2008. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan perusahaan, diberikan beberapa fasilitas tambahan dan mendapat perpanjangan fasilitas KMK senilai Rp 880 miliar, Letter of Credit (LC) senilai Rp 40 miliar impor dan kredit investasi (KI) senilai Rp 250 miliar pada 15 April 2015.

Diperjalanan penyelewengan terjadi sebab dalam mengajukan perpanjangan kredit di Bank Mandiri Commercial Banking Center Bandung I, pada 15 Juni 2015 Tirta Amarta diduga menggelembungkan nilai aset.

Kasus pembobolan Bank Mandiri oleh PT TAB, 2015 agak mencengankan karena hanya dengan jaminan kredit sebesar Rp73 miliar, tapi mendapat kucuran kredit sampai Rp1,5 triliun. 
Kejagung juga pernah menangani kasus korupsi yang terjadi di Bank Mandiri pada tahun 2000-an. Pada saat itu Kejagung menetapkan Dirut Bank Mandiri Alm. ECW Neloe, wakilnya I Wayan Pugeg dan Direksi Moh. Sholeh Tasripan sebagai tersangka kasus pembobolan oleh PT Cipta Graha Nusantara (CGN). Zamzam

#Kasasi   #Vonis   #Benas   #Bank   #Mandiri