Blusukan dan Pencitraan Jokowi Dilibas Sandiaga

Safari
Blusukan dan Pencitraan Jokowi Dilibas Sandiaga

Jakarta, HanTer - Kegiatan blusukan kerap dilakukan calon presiden (capres) Petahana Joko Widodo. Belakangan, blusukan Jokowi diterapkan cawapres Sandiaga Uno, yang blusukan ke pasar memantau harga, dan ke berbagai tempat lainnya guna mendengar curhatan masalah dari masyarakat. Sejumlah kalangan menyebut blusukan kedua tokoh tersebut upaya pencitraan untuk mendapat simpati rakyat. Mereka juga menyebut, blusukan dan pencitraan Jokowi berhasil ‘dilibas’ Sandiaga, karena belakangan Sandi lebih sering melakukan blusukan dibanding mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Sandi sudah melakukan blusukan di ratusan tempat.

Pengamat politik dari Point' Indonesia (PI) Karel Susetyo mengakui blusukan yang dilakukan Sandiaga memang selalu membawa sensasi. Tak penting sensasi tersebut positif atau negatif. Tapi yang jelas blusukan yang dilakukan Sandiaga efektif mendongkrak popularitasnya. Sensasi tersebut merupakan kelebihan yang dimiliki Sandiaga jika dibandingkan dengan blusukan yang dilakukan Jokowi.

"Blusukan yang dilakukan Sandiaga bisa menciptakan sensasi. Apalagi diserbu sama emak-emak," tegasnya.

Karel menilai, sensasi yang diciptakan Samdiaga dalam setiap blusukan adalah sebagai bentuk mengakali ketiadaan kuasa dan akses Sandiaga terhadap media mainstream. Cara Sandiaga menciptakan sensasi adalah sah-sah saja. Karena pada satu sisi akan melejitkan popularitas tapi di sisi lain tidak otomatis meningkatkan elektabilitasnya.

"Karena tiap sensasi selalu diikuti dengan pro kontra yang tinggi juga. Apalagi dalam tiap blusukan tidak menawarkan apa-apa selain menjadi komoditas hiburan sesaat," paparnya.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvanus Alvin mengatakan, Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno memang aktif dalam blusukan. Bahkan aktivitas Sandiaga lebih aktif dibandingkan Prabowo yang notabene capres di Pilpres 2019.Bila dilihat dari satu sisi maka blusukan saja, tentu aktivitas Sandiaga ini menyamai blusukan Jokowi, tapi belum melebihi blusukan yang dilakukan  Jokowi.

"Karena Sandiaga baru mulai keliling Indonesia setelah dirinya deklarasi cawapes. Sementara, Jokowi sebagai petahana terus melakukan blusukan keliling Indonesia. Bahkan Jokowi melakukannya sebelum menjadi capres," ujar Silvanus kepada Harian Terbit, Selasa (12/2/2019).

Silvanus menuturkan, blusukan yang dilakukan Sandiaga adalah strengthening atau penguatan titik-titik di Indonesia yang menjadi lumbung suara bagi paslon nomor 02 itu. "Sejauh ini Sandiaga lebih memfokuskan ke masyarakat di Pulau Jawa," jelasnya.

Silvanus mengungkapkan, selama ini diksi blusukan sudah melekat pada sosok Jokowi. Karena bagaimanapun juga blusukan itu baru dikenal semasa Jokowi muncul ke permukaan. Oleh karena itu bila hendak menyapa masyarakat, sebaiknya Sandiaga tidak memakai kata blusukan, karena konotasinya mengarah pada Jokowi. Sandiaga bisa menggunakan kata kunjungan atau menyapa masyarakat Indonesia.

"Untuk saat ini, sebaiknya disempatkan pula agar Sandiaga ada waktu menyapa masyarakat di bagian Timur Indonesia," paparnya.

Silvanus memaparkan, bisa saja kunjungan Sandiaga itu sebagai taktik untuk menyaingi Jokowi. Oleh karena itu taktik Sandiaga adalah mendatangi titik-titik yang bisa mendulang banyak suara bagi paslon nomor 02. Apalagi hasil survei dari berbagai lembaga survei elektabilitas Prabowo-Sandiaga masih jauh dari Jokowi - Ma'ruf Amin.

Tak Berefek

Sementara itu pengamat politik Rusmin Effendi mengatakan, sebenarnya gaya blusukan Jokowi tidak punya efek dan berimbas pada rakyat. Apalagi komunikasi politik Jokowi juga sangat amburadul. Banyak hal yang Jokowi tidak paham dalam dalam mengurus negara. 

"Karena itu sangat disayangkan kita punya kepala negara, tapi tidak paham menjalankan roda pemerintahan. Kedepan kita harus punya figur pemimpin yang strong leadership," paparnya 

Rusmin menjelaskan, apapun pencitraan yang dilakukan Jokowi sudah tidak dipercaya public karena blusukan yang dilakukan Jokowi selama ini hanya pencitraan belaka. Sehingga tidak ada efek ke masyarakat. Coba tunjukkan mana program Jokowi yang langsung berefek ke rakyat.  

Rusmin menilai, masyarakat tanpa sadar mempercayai pencitraan yang dilakukan Jokowi karena masyarakat Indonesia sering terpesona dengan figur baru. 

"Apalagi pencitraan Jokowi diawal masuk ke Jakarta menjadi calon gubernur begitu bombastis, seolah olah figur yang sederhana, santun dan bersahaja. Padahal Jokowi belum layak menjadi presiden," tandasnya