Selain Kenaikan Upah PRT dan Sewa Rumah, Kenaikan Harga Beras dan Daging Ayam Picu Inflasi di DKI Jakarta

Harian Terbit/Danial
Selain Kenaikan Upah PRT dan Sewa Rumah, Kenaikan Harga Beras dan Daging Ayam Picu Inflasi di DKI Jakarta

Kenaikan harga sewa rumah, kenaikan upah pembantu rumah tangga, kenaikan harga beras dan daging ayam ras, turut memicu inflasi di DKI Jakarta pada Januari 2019 ini.

"Penurunan inflasi tertahan oleh kenaikan harga sewa rumah dan upah pembantu rumah tangga. Kenaikan harga sewa rumah mengikuti tingginya permintaan akan tempat tinggal di DKI Jakarta. Kenaikan juga dipicu  harga komoditas pangan yang menanjak seperti daging ayam dan beras, kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta Sithowati Sandrarini di Jakarta, Jumat (1/2/2019).

Selama Januari 2019, inflasi di DKI Jakarta sebesar 0,24 persen secara bulanan (month to month/mtm), atau 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi Januari dalam tiga tahun terakhir yakni 0,55 persen (mtm).

Selain kenaikan harga sewa rumah, upah pembantu rumah tangga juga naik karena standar upah minimum provinsi (UMP) yang menanjak 8,03 persen menjadi Rp3,94 juta.

Kemudian, indeks harga konsumen DKI Jakarta juga terkerek naik karena inflasi kelompok bahan makanan yang sebesar 1,38 persen (mtm). Penyumbang inflasi kelompok bahan makanan adalah kenaikan harga beras dan daging ayam ras.

Kenaikan harga beras disebabkan turunnya pasokan di DKI Jakarta, terutama pada dua minggu terakhir Januari 2019. Hal tersebut disebabkan belum masuknya masa panen beras, yang diperkirakan terjadi pada Februari-Maret 2019.

"Sedangkan kenaikan harga daging ayam ras disebabkan oleh meningkatnya harga jagung yang merupakan bahan pakan utama ternak ayam," ujar Sithowati.

Untuk Februari 2019, BI DKI Jakarta memerkirakan inflasi akan tetap terkendali. Pemerintah DKI Jakarta, sesuai koordinasi dengan BI DKI Jakarta, akan menjaga harga beras agar tidak terlalu bergejolak, terutama melalui operasi pasar.