Fogging Dianggap Tak Efektif Berantas Nyamuk DBD

romi
Fogging Dianggap Tak Efektif Berantas Nyamuk DBD
Ilustrasi

Jakarta, HanTer - Ancaman wabah demam berdarah di ibukota yang disebabkan gigitan nyamuk 
aedes aegypti sudah di depan mata, menyusul datang hujan. Sayangnya pelaksanaan fogging sering tidak tepat sasaran, sehingga tidak efektif dalam membunuh nyamuk demam berdarah dengue (DBD).

Demikian disampaikan Ketua Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) DKI Jakarta, Martha Tiana Hermawan, dalam siaran persnya, Rabu (30/1/2019).

Wabah DBD terjadi karena banyaknya genangan air setelah hujan yang dapat menjadi sarang nyamuk aedes aegypti. Karena nyamuk itu hanya suka bersarang di air jernih dan bersih.

"Dan setiap datang wabah demam berdarah, Pemprov DKI selalu disibukkan dengan fogging dengan maksud membunuh nyamuk DBD. Namun sayang pelaksanaan fogging yang dilakukan sering tidak tepat sehingga tidak efektif dalam membunuh nyamuk DBD," kata Tian, panggilan akrab Martha Tiana Hermawan.

Tian menyatakan, nyamuk DBD ini termasuk golongan nyamuk yang memiliki jam operasional tertib. Karena dia akan pergi dari sarangnya untuk menghisap darah 1-1,5 jam setelah matahari terbit.

Tian menambahkan, nyamuk DBD ini juga tidak sembarangan dalam menggigit korbannya. Ada jam biologis yang membuatnya lebih aktif pada jam-jam tertentu.

"Nyamuk DBD paling sering menggigit 2 jam setelah matahari terbit dan 3 jam sebelum matahari terbenam. Dan uniknya nyamuk DBD tidak beroperasi di sekitar tempat nyamuk tersebut bersarang. Dia akan terbang dulu sejauh 100-200 meter sebelum melakukan aktivitas menggigit," ujar Tian

Masih menurut Tian, banyak terjadi ketidakefektifan dalam melakukan fogging, dimana masih banyak fogging dilakukan diatas jam nyamuk DBD terbang meninggalkan sarangnya sehingga di satu lokasi fogging hanya membunuh nyamuk biasa dan serangga jenis lainnya.

"Sehingga perlu kiranya Pemprov DKI kembali memberikan pemahaman yang lengkap terhadap siklus hidup nyamuk DBD kepada petugas fogging, camat, lurah, ketua RT dan ketua RW agar terwujud niat membunuh nyamuk DBD dengan melakukan fogging tersebut," ungkap Tian.

Menurut Tian, fogging dilakukan tidak sesuai dengan waktu aktif nyamuk DBD, selain membuang anggaran juga hanya membunuh nyamuk biasa dan serangga saja dan juga berdampak pada kesehatan warga.

"Satu saat terjadi lagi penderita DBD lalu difogging lagi dengan pola yang tidak efektif tadi justru lama-lama warga yang akan terkena dampak dari racun dalam asap fogging tersebu," terang Tian.

Tian juga mengatakan bahwa yang paling efektif dalam memberantas nyamuk DBD adalah dengan melakukan 3 M dan membunuh jentik nyamuk agar tidak menjadi nyamuk baru.

Bukan cuma itu, Tian juga menagih janji Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan  yang dalam kampanyenya akan membangun peran partisipasi aktif warga dalam mengatasi masalah kesehatan di lingkungan tempat tinggal warga.

"Gubernur harus segera merealisasikan janjinya untuk membangun partisipasi aktif warga dalam mengatasi masalah kesehatan di lingkungan tempat tinggal warga, jangan hanya aktif di acara acara yang seremonial saja," imbuh Tian.

Tian juga menyerukan peran aktif warga untuk dapat melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan jentik dimulai dari rumah dan halaman rumah masing masing.

Tian berpendapat, warga tidak bisa menunggu pemimpin daerah yang tidak peduli dengan nasib warganya.
"Ayo aktif berantas sarang nyamuk dan jentik nyamuk. Pertahankan halaman rumah kita masing-masing. Jangan sampai menjadi sarang nyamuk DBD," pungkas Tian.
 

#Fogging   #Berantas   #DBD