Waspada, Kasus DBD di DKI Meningkat Pesat

Harian Terbit/Sammy
Waspada, Kasus DBD di DKI Meningkat Pesat

Peningkatan curah hujan dan perubahan iklim tentunya sangat berpengaruh terhadap perkembangan nyamuk yang dapat menularkan virus dengeu dan menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD). Oleh karena itu, pada awal tahun 2019 ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta terus melakukan berbagai upaya guna mengantisipasi munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di wilayah Jakarta.

Disisi lain, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta ikut berperan aktif menggencarkan sosialisasi bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD) kepada masyarakat Ibukota saat kegiatan reses. Sosialisasi DBD digencarkan menyusul meningkatnya kondisi curah hujan belakangan ini.

Wakil Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, Ramly HI Muhammad, mengatakan, pihaknya selalu aktif bersinergi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk mensosialisasikan bahaya DBD di lingkungan warga.

"Saat reses, kami selalu sosialisasi bahaya DBD ditemani orang dari Dinkes," ujarnya di Jakarta, Minggu (27/1/2019).

Status Meningkat

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, kasus DBD di DKI Jakarta pada awal tahun ini atau Januari ini meningkat dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pada Januari 2018, ada 198 kasus DBD, sedangkan tahun ini tercatat sudah ada 370 kasus DBD. "Kita mengalami situasi di mana kasus-kasus demam berdarah itu paling enggak awal tahun ini meningkat pesat di sekeliling Ibu Kota dan juga Ibu Kota," kata Anies di Jakarta, Minggu (27/1/2019).

Peningkatan itu, menurut Anies, merupakan ancaman serius. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menekan kasus DBD.

"Kemenkes pun menemukan indikasi bahwa tahun ini mungkin akan ada peningkatan jumlah kasus demam berdarah," kata Anies.​

Anies menambahkan, ia telah menginstruksikan seluruh jajaran Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi potensi munculnya kasus DBD. "Pengasapan dilakukan kemudian pengecekan semua tempat-tempat yang berpotensi tumbuhnya jentik-jentik," ucapnya.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta memprediksi tiga wilayah yang masuk dalam kategori waspada untuk bulan Januari. Ketiga wilayah itu yakni Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. Sementara pada Februari dan Maret, seluruh wilayah Jakarta masuk ke dalam kategori waspada.

Berbagai Tindakan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, mengatakan, Pemprov DKI Jakarta terus melakukan berbagai tindakan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di wilayah Jakarta secara keberlanjutan. “Diharapkan, masyarakat mampu terlibat aktif dalam rangka mewaspadai dan mengantisipasi penyakit DBD di Jakarta,” katanya Minggu (27/1/2019). 

Menurutnya, Widyastuti turut memaparkan, kasus DBD di DKI Jakarta dari Januari hingga 31 Desember 2018 tercatat 2.947 kasus DBD (Insidence Rate IR=28,15/100.000 penduduk) dengan 2 (dua) kematian (Case Fatality Rate/CFR= 0,07 persen).

Pada 2018 diketahui wilayah yang memiliki IR tertinggi di Jakarta adalah Kepulauan Seribu, yakni 41,4/100.000 penduduk, disusul Jakarta Barat sebesar 37,0/100.000 penduduk. Pada tahun 2017 dilaporkan 3.362 kasus dengan IR sebesar 32,41/100.000 penduduk dan 1 (satu) kematian (CFR= 0,03 persen). Kemudian pada tahun 2016 tercatat 20.432 dengan dengan IR 198,80/100.000penduduk dan 14 kematian (CFR= 0,07 persen).

Untuk diketahui, DBD merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang menginfeksi bagian tubuh dan sistem peredaran darah manusia, serta ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepti atau Albopictus Betina yang terinfeksi.

Gejala DBD biasanya diawali dengan demam, nyeri otot dan sendi, terdapat bintik/ruam merah di kulit disertai mual dan nyeri ulu hati; pada kasus yang parah dapat terjadi pendarahan dan syok yang membahayakan nyawa.