2019, Situasi Politik Memanas: Aksi Saling Bermusuhan Antarpendukung Capres Picu Kegaduhan

Safari
2019, Situasi Politik Memanas: Aksi Saling Bermusuhan Antarpendukung Capres Picu Kegaduhan
Ilustrasi (ist)

Jakarta, HanTer - Tahun 2019 Indonesia akan menyelenggarakan Pemilihan Umum dan situasi politik yang saat ini sudah memanas, di 2019 diperkirakan akan semakin memanas. Kedua kubu pada Pilpres menurunkan seluruh kekuatannya pada awal tahun 2019 hingga pelaksanaan pemilu selesai. Isu hoaks, SARA dan hate speec jika tidak diatasi diprediksi bisa menciptakan kegaduhan.

Pengamat politik ujang Komarudin memprediksi, kemungkinan benturan antar pendukung capres-cawapres akan terjadi di tahun 2019. Namun ia yakin pihak berwajib akan bisa mengantisipasi persoalan-persoalan tersebut. Oleh karena itu diharapkan antar pendukung bisa dewasa dalam berpolitik.

"Jangan hanya gara-gara Pilpres saling bermusuhan. Menjaga persaudaraan dan persatuan lebih penting dari sekedar Pilpres.Tak ada untungnya berkonflik," paparnya kepada Harian Terbit, Sabtu (29/12/2018).

Ujang menuturkan, sejatinya Pilpres harus menjadi pesta demokrasi yang menyenangkan dan membahagiakan. Apalagi rakyat Indonesia sudah berpengalaman sejak reformasi 1998 karena sudah melaksanakan Pilpres secara langsung di tahun 2004, 2009, dan 2014 dan semuanya berlangsung dengan aman dan damai. 

‘Jadi saya yakin Pilpres 2019 juga akan aman. Dan yang paling penting Pilpres harus berjalan dengan jujur dan adil. Sehingga siapapun yang menang nanti maka yang kalah akan legowo," jelasnya.

Menurutnya, kegaduhan politik 2018 harus menjadi evaluasi bersama. Kampanye yang saling menjatuhkan antar kandidat harus segera ditutup di penghujung tahun 2018.

Oleh karenanya komitmen untuk melakukan kampanye damai yang disepakati 23 September 2018 harus direalisasikan dan diaplikasikan. Selain itu tutup juga segala bentuk politik yang menghalalkan segala cara. "Awal 2019 adalah awal yang baru bagi perpolitikan nusantara," ujar Ujang.

Tahun 2019 yang merupakan tahun politik, sambung Ujang, harus diisi dengan kampanye-kampanye yang kreatif, inovatif, dan substantif atas kebutuhan rakyat. Lakukan kampanye yang mengedepankan ide dan gagasan dengan menawarkan visi terbaik ke depan untuk kemajuan Indonesia. Harus didukung kampanye dengan misi yang penuh harapan dan optimisme kemajuan Indonesia.

Direktur Indonesia Politican Review ini juga meminta kampanye para capres - cawapres yang bisa mencerahkan rakyat. Oleh karenanya rakyat harus dicerdaskan dengan kampanye-kampanye yang penuh dengan ketinggian budi dan intelektual. Saat menjadi presiden dan wakil presiden juga harus merealisasikan program-program terbaik untuk rakyat. Agar rakyat sejahtera tanpa kekurangan apapun. 

Sementara itu, pengamat politik dari Lembaga Kajian dan Analisa Sosial (LeKAS) Karnali Faisal mengatakan, ibarat pertandingan olah raga, tahun 2019 merupakan babak final, babak penentuan untuk menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Maka ciri yang paling menonjol dari tahun 2019 adalah eskalasi yang semakin meningkat. Karena partai-partai politik peserta pemilu tidak hanya bersaing dengan kompetitor di luar koalisi, tapi juga dengan partai-partai politik di dalam koalisi. 

"Ada dua target yang dibidik. Pertama, menembus electoral treshold sekaligus menempatkan sebanyak mungkin calegnya di parlemen. Kedua, posisi tawar (bargaining) dengan capres/cawapres di pemerintahan jika terpilih," jelasnya.

Sandiwara Politik

Sementara itu pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie mengatakan, tahun 2018 diwarnai dengan sandiwara politik bahkan hoaks yang merajalela. Bahkan fenomena sejumlah tokoh dilaporkan terkait hate speech. Memang isu politik sempat stagnan saat pesawat Lion Air JT 610 jatuh. Namun geliat perpolitikan kian panas dengan laporan ke Bareskrim Mabes Polri. 

"Saling lapor dari kedua kubu tak terelakan. Begitu pula terpeleset kata kerap muncul dari pernyataan kedua capres. Saya menilai 2019 masih akan panas sampai 17 April. Isu hoaks, SARA dan hate speec masih akan dimainkan. Tapi semua pasang mata akan tertuju ke debat kedua kubu. Isu HAM, korupsi dan Hukum akan menjadi isu menarik," jelasnya.

Lebih lanjut Jerry mengatakan, isu kotak suara kardus akan terus digoreng bisa saja masih akan diangkat pada 2019 mendatang. Bahkan perang politik pasar menjadi strategi kedua capres. Begitu pula gaya blusukan. Laporan hoaks dan pencemaran nama baik serta pelanggaran kampanye juga terus akan terjadi sebelum pencoblosan nanti. Pertarungan mileneal dan emak-emak dua kubu akan menarik. 

"Saya lihat Sandi kian gencar turun gunung dan ini juga menjadi warning bagi Jokowi-Ma'ruf. Soalnya Jokowi belum diback up sepenuhnya Ma'ruf. Akankah ada angin dan suhu politik berubah maka barang tentu ini layak untuk dinantikan," paparnya.