Ferdy Sambo Rekayasa Pembunuhan: Hapus Sidik Jari di Senjata Api dengan Tangan Brigadir J

- Jumat, 9 Desember 2022 | 19:06 WIB
Ferdy Sambo dalam sidang di PN Jakarta Selatan.  (ikbal muqorobin)
Ferdy Sambo dalam sidang di PN Jakarta Selatan. (ikbal muqorobin)

HARIANTERBIT.com - Ferdy Sambo merekayasa  pembunuhan Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat sebagai peristiwa baku tembak. Skenario dibuat detail sampai menghapus jejaknya di senjata api milik Brigadir J. 

Ferdy Sambo memberikan kesaksian di ruang sidang PN Jakarta Selatan untuk perkara pembunuhan Brigadir J pada Rabu, 7 Desember 2022. Sebagai saksi mahkota, dia menuturkan banyak keterangan terkait dengan kronologi peristiwa. 
 
Mantan Kadiv Propam Polri itu mengakui merekayasa pembunuhan Brigadir J dengan membuat peristiwa palsu pelecehan terhadap istrinya, Putri Candrawathi, di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan hingga baku tembak yang melibatkan Bharada E alias Richard Eliezer.
 
 
Guna membuat sempurna rekayasanya, Sambo mengambil senjata api milik Brigadir J yang sudah biersimbah darah tidak bernyawa usai ditembak. Dia menembak ke berbagai arah dengan senjata api milik Brigadir J untuk memperkuat alibi. 
 
"Begitu melihat Yosua jatuh kemudian sudah ada berlumuran darah, saya jadi panik. Saya tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan penembakan ini," ujarnya.
 
"Kemudian saya berpikir demgan pengalaman saya yang paling memungkinkan bahwa peristiwa penembakan ini adalah tembak menembak. Akhirnya kemudian saya melihat ada senjata Yosua dipinggang, kemudian saya mengambil dan mengarahkan tembakan ke dinding," tambanya. 
 
Pria yang pernah menjabat Dirtipidum Bareskrim Polri itu tahu persis meninggalkan jejak sidik jari saat meraih senjata api jenis HS milik Brigadir J.
 
 
Dia pun menghapus jejak itu dengan maskernya. Karena saat itu dia mengaku tidak mengenakan sarung tangan.
 
Sementara itu guna membuat sidik jari Brigadir J, Sambo meraih menggenggamkan senjata api ke tangan ajudannya yang telah tewas itu. 
 
"Setelah itu saya juga melihat bahwa ini hrs ada bekas tembakan Yosua. Kemudian saya mengambillah tangan Yosua. Kemudian menggenggam senjata milik Yosua kemudian menembakan ke lemari sebelah atas. Kemudian setelah itu saya melap senjata Yosua dengan masker, saya letakan di samping Yosua," beber dia. 
 
 
Rekayasa itu disampaikan ke Bharada E untuk menyatukan persepsi cerita. Dengan cepat dia menghubungi Biro Provos dan Biro Paminal Divpropam Polri karena cerita yang dibangun adalah peristiwa yang melibatkan dua anggota Polri. 
 
"Pertama saya hubungi Karo Provos (Benny Ali). Saya sampaikan ‘tolong ke rumah saya ada tembak menembak’. Setelah itu saya hubungi Karopaminal Brigjen Hendra juga minta ke TKP.
 
Kemudian saya juga menghubungi salah satu Kasubdit di Bareskrim untuk datang ke TKP," urai Sambo.
 
 
Diketahui Brigadir J tewas ditembak di rumah dinas Ferdy Sambo di Komplek Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan pada 8 Juli 2022.
 
Dalam kasus tersebut terdapat lima terdakwa yakni Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada E atau Richard Eliezer, Bripka RR atau Ricky Rizal dan Kuat Ma'ruf. 
 
Mereka dijerat dengan pasal pembunuhan berencana, Pasal 340 subsider Pasal 338 junto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan hukuman maksimal hukuman mati. ***
 
 

Editor: Yuli Terbit

Terkini

Akhlak Baik

Jumat, 27 Januari 2023 | 06:26 WIB

Curi Perhiasan, Dua Sejoli Ditangkap

Kamis, 26 Januari 2023 | 11:39 WIB

Mendisiplinkan Diri

Kamis, 26 Januari 2023 | 06:26 WIB

Bharada E Pasrah, Serahkan Putusan ke Majelis Hakim

Rabu, 25 Januari 2023 | 21:55 WIB
X