• Rabu, 7 Desember 2022

Kisah Pierre Tendean, Ajudan Jenderal AH Nasution yang Gugur dalam Peristiwa G30S PKI

- Kamis, 29 September 2022 | 23:50 WIB
Kapten Pierre Andries Tendean. (Instagram @yanbudi18)
Kapten Pierre Andries Tendean. (Instagram @yanbudi18)

HARIANTERBIT.com - Pierre Tendean merupakan salah satu dari daftar tujuh perwira tinggi militer yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September atau yang biasa disingkat dengan G30S PKI.

Memiliki nama lengkap Pierre Andries Tendean, ia lahir pada 21 Februari 1939 di Batavia yang sekarang telah berganti nama menjadi Jakarta.

Melansir dari berbagai sumber, Pierre Tendean merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Ia merupakan putra dari Ibunya, Maria Elizabeth Cornet yang berasal dari Belanda dan ayahnya, Aurelius Lammert Tendean dari Minahasa, Sulawesi Utara.

Baca Juga: Polisi: Benda yang Meledak di Cilincing Bukan Granat Tapi Flashbang

Pierre Tendean mengawali karir militernya dengan menempuh pendidikan di Akademi Militer. Pada tahun 1961, ia dinyatakan lulus dari AKMIL dengan mendapatkan pangkat letnan dua. Kemudian ia menjabat sebagai Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Komando Daerah Militer II/Bukit Barisan di Medan, Sumatera Utara.

Setahun kemudian, Pierre Tendean kembali mengikuti pendidikan militer di sekolah intelijen, Bogor. Setamatnya ia dari sana, Pahlawan kelahiran Jakarta tersebut langsung ditugaskan untuk menjadi mata-mata dan menyusup masuk ke Malaysia. Hal tersebut diketahui karena saat itu sedang terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.

Pada 15 April 1965, Pierre Tendean dipromosikan menjadi letnan satu, dan mendapatkan tugas baru sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution.

Menurut penglihatan Jenderal Nasution, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/ Kasab), Pierre bukanlah sosok asing. Dia sudah dianggap seperti adik kandung, sebagai bagian dari keluarga mereka.

Baca Juga: Ketua MPR RI Sambut Baik Keinginan Pimpinan Parlemen Ukraina Bertemu di Indonesia

Semasa menjalani tugas sebagai ajudan, Pierre Tendean kerap menjadi bahan perbincangan oleh banyak perwira tinggi karena Prestasi gemilangnya saat menjalani tugas Operasi Dwikora di perbatasan Indonesia dengan Malaysia.

Namun Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, Pierre Tendean harus gugur ketika dirinya berusaha melindungi Jendral AH Nasution dari sergapan para antek-antek PKI.

Segerombolan orang bersenjata lengkap datang ke rumah Jenderal Nasution dengan tujuan ingin menculiknya dan memaksa masuk hingga melepaskan beberapa tembakan yang mengenai putri dari Jenderal Nasution bernama Ade Irma Suryani.

Saat itu Pierre Tendean yang sedang tertidur langsung terbangun dan berusaha melindungi semua keluarga Jendral Ahmad Nasution. Kalah jumlah, ia tertangkap oleh segerombolan orang tersebut yang mengira bahwa Pierre Tendean adalah sosok Jendral AH Nasution karena kondisi rumah yang gelap.

Baca Juga: ICPW Minta Kapolri Tindak Alvin Lim yang Diduga Jelekan Institusi Penegak Hukum

Setelah tertangkap, Pierre Tendean lalu dibawa ke sebuah rumah dekat Lubang Buaya bersama enam perwira tinggi lainnya. Mereka disiksa terlebih dahulu hingga akhirnya ditembak mati dan jasadnya dibuang ke sebuah sumur tua.

Jenderal AH Nasution sendiri berhasil meloloskan diri dengan cara melompati pagar rumahnya, langkah yang diambil Jenderal AH Nasution tersebut diawali oleh desakan sang istri untuk keselamatannya.***

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Polda Metro Tingkatkan Razia Narkoba Jelang Tahun Baru

Selasa, 6 Desember 2022 | 16:15 WIB
X