• Jumat, 9 Desember 2022

Peringatan G30S/PKI, Yuk Kembali Mengingat Daftar Jenderal yang Dibantai Komunis

- Jumat, 30 September 2022 | 01:25 WIB
Siapa Saja 10 Pahlawan Revolusi yang Gugur dalam Peristiwa G30 S PKI?
Siapa Saja 10 Pahlawan Revolusi yang Gugur dalam Peristiwa G30 S PKI?

HARIANTERBIT.com - Hari ini 57 tahun lalu, tepatnya 30 September 1965,  terjadi peristiwa Gerakan 30 September PKI ( G30S/PKI) yang mengakibatkan banyak korban harus meregang nyawa karena kejadian ini.

Diantara korban tersebut, ada tujuh perwira yang terdiri dari enam jenderal serta satu perwira pertama TNI AD menjadi korban peristiwa Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI).

Para Jendral yang menjadi korban tersebut dituduh akan melakukan kudeta kepada Presiden Indonesia saat itu, Soekarno.

Baca Juga: Anies Punya Kans Besar Terpilih Jadi Capres Nasdem

Partai Komunis Indonesia membawa ketujuh perwira tersebut, baik dalam keadaan hidup ataupun mati dan membuangnya ke Lubang Buaya, Cililitan, Jakarta Timur.

Berikut daftar 7 Jendral yang menjadi korban Gerakan 30 September PKI ( G30S/PKI):

1. Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono

Mas Tirtodarmo Haryono atau dikenal juga sebagai MT Haryono menjadi salah satu perwira yang menjadi korban keganasan Gerakan 30 September PKI ( G30S/PKI).

Lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 Januari 1924, MT Haryono tidak langsung terjun ke dunia militer. Sebelumnya ia pernah menempuh pendidikan di Ika Dai Gaku (sekolah kedokteran) di Jakarta.

Dirinya kemudian bergabung bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Mayor, MT Haryono pernah menjadi bagian delegasi Indonesia untuk mengikuti perundingan dengan Belanda ataupun Inggris karena dirinya fasih dalam berbahasa Inggris, Jerman, dan Belanda.

Baca Juga: Hingga Saat ini Belum Juga Ditahan, Pengacara Minta Putri Tidak Berbohong-bohong Lagi

Setelah itu, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono juga sempat menjabat sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia. Kemudian menjadi Atase Militer RI untuk Negeri Belanda (1950).

2. Jenderal TNI Ahmad Yani

Jendral Ahmad Yani merupakan seorang petinggi Militer TNI AD, lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Juni 1922, beliau merupakan salah satu korban G30S/PKI.

Sebelum dihabisi oleh antek-antek PKI, Jendral Ahmad Yani pernah mengikuti pendidikan Heiho dan menjadi bagian dari Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor hingga akhirnya dirinya berkarir di dunia militer.

Jenderal kelahiran Purworejo tersebut pernah terlibat dalam pemberantasan PKI Muso di Madiun pada 1948 dan penumpasan DI/TII di Jawa Tengah.

Baca Juga: Usut Tuntas Peristiwa KM 50, Ormas Islam Tolak Negara Minta Minta Maaf Ke PKI

Dirinya pernah menjadi wakil kepala Angkatan Darat ke-2 hingga akhirnya pada tanggal 21 Juli 1962 sebutan Kepala Staf Angkatan diubah menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Namun pada 1 Oktober 1965 dini hari, antek-antek PKI menculik Jendral TNI Ahmad Yani. Lebih dari 200 orang mengepung rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat.

3. Letjen Anumerta Raden Soeprapto

Nama Anumerta Raden Soeprapto menjadi Korban keganasan G30S/PKI lainnya dari daftar tujuh Jenderal yang ada.

Lahir di Purwokerto pada 20 Juni 1920, Letjen Anumerta Raden Soeprapto memegang jabatan sebagai Deputi II Menteri/Panglima AD Bidang Administrasi.

Semasa muda, ia pernah menimba ilmu di Akademi Militer Kerajaan Bandung, namun pendidikannya harus terhenti karena adanya kabar pendaratan Jepang di Indonesia.

Kemudian Letjen Anumerta Raden Soeprapto masuk menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto, yang merupakan awal resmi dirinya masuk sebagai tentara.

Ketika telah bergabung bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia merupakan salah satu pasukan yang ikut dalam pertempuran di Ambarawa melawan Inggris. Dimana pasukannya dikomandoi langsung oleh Jendral Sudirman. Anumerta Raden Soeprapto juga merupakan salah satu yang menjadi ajudan dari Panglima Besar Sudirman.

4. Letjen Anumerta Siswondo Parman

Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918, ia merupakan pahlawan revolusi Indonesia yang terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September.

Sebelum ke dunia Militer, Letjen Anumerta Siswondo Parman terlebih dahulu masuk sekolah kedokteran, tetapi harus terhenti karena Jepang menyerang Indonesia.

Dirinya kemudian melanjutkan karirnya bergabung dengan polisi militer Kempetai Jepang. Tetapi, ia ditangkap karena keraguan atas kesetiaannya. Setelah kemerdekaan Indonesia, ia masuk menjadi bagian Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Baca Juga: ICPW Minta Kapolri Tindak Alvin Lim yang Diduga Jelekan Institusi Penegak Hukum

Pada tahun 1951, Letjen Anumerta Siswondo Parman dikirim ke Sekolah Polisi Militer di Amerika Serikat. Ditahun yang sama, ia diangkat sebagai komandan Polisi Militer Jakarta yang kemudian menduduki sejumlah posisi penting di Polisi Militer Nasional HQ.

Anumerta Siswondo Parman juga sempat menjadi bagian dari Departemen Pertahanan Indonesia sebelum dikirim ke London sebagai atase militer ke Kedutaan Indonesia yang berada di sana.

5. Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo

Sebelum menjabat sebagai perwira di militer, Sutoyo Siswomiharjo pernah berprofesi sebagai pegawai kantor di kabupaten Purworejo dan menempuh pendidikan di Balai Pendidikan Pegawai Tinggi di Jakarta.

Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1922, dan bergabung bersama dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bagian kepolisian. Setelahnya, ia masuk sebagai anggota Corps Polisi Militer (CPM).

Pada Juni 1946, ia diangkat sebagai ajudan Kolonel Gatot Soebroto, komandan Polisi Militer saat itu. Kemudian mengalami kenaikan pangkat menjadi kepala staf di Markas Besar Polisi Militer.

Baca Juga: Citra Polri Kronis Gara-gara Oknum Polisi Bermoral Buruk

Dirinya juga sempat menjadi Inspektur Kehakiman Angkatan Darat, karena pengalaman hukumnya yang cukup banyak, pada tahun 1961 Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo
menjadi inspektur kehakiman militer utama.

6. Mayjen Anumerta Donald Ignatius Panjaitan

DI Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 19 Juni 1925, dan memulai karirnya dengan mengikuti pendidikan di Gyugun. Setelah ia menyelesaikan pendidikannya, DI Panjaitan bertugas di Pekanbaru, Riau, sebagai anggota Gyugun sampai terjadinya kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan, Mayjen Anumerta Donald Ignatius Panjaitan juga yang membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang saat ini dikenal dengan sebutan TNI.

Sebelum ia menjadi korban keganasan G30S/PKI, DI Panjaitan sempat menjadi Asisten IV Panglima Angkatan Darat. Jabatan tersebut merupakan tanggung jawab terakhir dirinya di kemiliteran.

Baca Juga: Ini Perawatan Kesehatan yang Masih Dijalani Putri Candrawathi sampai Sekarang

Ketika menjabat Asisten IV Panglima Angkatan Darat, ia berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Partai Komunis Indonesia.

7. Lettu Pierre Andreas Tendean

Pierre Andreas Tendean merupakan seorang ajudan dari Jenderal A.H Nasution, lahir di Batavia yang saat ini berganti nama menjadi Jakarta, pada 21 Februari 1963.

Selama karir militernya, Lettu Pierre Andreas Tendean pernah ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat sebagai mata-mata ke Malaysia yang saat itu sedang terjadi ketegangan antara Indonesia dengan Malaysia.

Dirinya bertugas pemimpin sekelompok relawan di beberapa daerah untuk menyelinap ke Malaysia. Kemudian Pada tanggal 15 April 1965, ia diangkat menjadi letnan satu hingga ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Besar TNI A.H Nasution.

Lettu Pierre Andreas Tendean gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September PKI,  Dia ditangkap oleh sekelompok orang bersenjata.

Baca Juga: Tak Siap Masuk Sel, Putri Candrawathi akan Memohon ke Jaksa Supaya tak Ditahan

Antek-antek PKI tersebut mengira bahwa Lettu Pierre Andreas Tendean sebagai Jenderal Nasution karena kondisi rumah yang gelap. Hingga akhirnya ia dibawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya bersama enam perwira tinggi lainnya.

Jenderal A.H Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan cara melompati pagar rumahnya.

Itu tadi daftar 7 Jendral yang menjadi korban Gerakan 30 September PKI ( G30S/PKI), Semua jendral yang gugur dalam peristiwa tersebut ditemukan dalam tempat yang sama yaitu di Lubang Buaya, Cililitan, Jakarta Timur.***

 
 

Editor: Zahroni Terbit

Tags

Terkini

Erupsi Gunung Semeru Masih Terus Berlangsung

Kamis, 8 Desember 2022 | 12:15 WIB
X