• Jumat, 19 Agustus 2022

Penasihat Hukum Sebut Seharusnya Anton Dapat Apresiasi dan Penghargaan

- Sabtu, 2 Juli 2022 | 19:00 WIB
Suasana sidang di Tipikor Jakarta (ist)
Suasana sidang di Tipikor Jakarta (ist)

Jakarta, HARIANTERBIT.com – Setelah merlalui beberapa kali siding, akhirnya Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta kembali menggelar perkara lanjutan dugaan korupsi tgerkait pengelolaan keuangan pada di PT Askrindo Mitra Utama (AMU) periode 2016-2020 senilai Rp 604,6 miliar.

Dalam sidang tersebut, penasihat hukum terdakwa Anton Fajar Alogo, yakni Zecky Alatas menjelaskan bahwa premi perusahaan naik dari semula Rp 300 miliar menjadi Rp 500 miliar.

Menurut Zecky, seharusnya kliennya mendapatkan apresiasi dan penghargaan karena memberikan keuntungan dan meningkatkan premi Askrindo di dalam situasi ekonomi yang tidak stabil.

Baca Juga: KPK Terus Menggarap Kasus Korupsi dan Menggeledah Kantor Pusat Pertamina

"Sudah sangat jelas bahwa Askrindo dan AMU justru diuntungkan dengan adanya program KPR FLPP,” ungkapnya, Senin (27/6/2022).

Selain itu, Zecky juga meminta Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Agung (Kejagung) yang menangani perkara ini dapat memproses pihak lain yang diduga turut kecipratan uang.

Dikatakannya, pihak lain itu adalah mantan Direktur Teknik PT Askrindo, M. Shaifie Zein dan mantan Direktur Utama PT Askrindo 2018–2020, Dwi Agus Sumarsono.

Baca Juga: Apriyani Fadia Tekuk Ranking 1 Dunia

Keduanya masih sebagai saksi dan untuk saksi M. Shaifei Zein sudah dua kali dipanggil dipersidangkan tidak datang. “Keduanya diduga menerima uang dan menikmati, tapi kok malah sebaliknya masih bebas berkeliaran,” terangnya.

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Terkini

Pelayanan di Outlet Samsat ITC Depok Terganggu

Jumat, 19 Agustus 2022 | 12:04 WIB
X