• Selasa, 27 September 2022

Rencana Pelabelan BPA Oleh BPOM Berbau Persaingan Usaha, Salemba Institute: Bukan Ranahnya Komnas PA

- Rabu, 8 Juni 2022 | 17:42 WIB
Direktur Eksekutif Salemba Institute (SI), Edi Homaidi
Direktur Eksekutif Salemba Institute (SI), Edi Homaidi

Jakarta, HanTer - Direktur Eksekutif Salemba Institute (SI), Edi Homaidi menyayangkan sikap Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait, menyeret-nyeret lembaga yang dipimpinnya masuk dalam pusaran konflik persaingan dagang. Apalagi sampai memihak ke salah satu perusahaan air mineral dalam kemasan, dengan alasan untuk melindungi anak-anak Indonesia agar hidup dan berkembang dengan sehat.

"Menurut saya, pernyataan Pak Arist yang mendukung dan siap mengawal BPOM merevisi Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) No 31/2018, soal pelabelan pada galon guna ulang yang mengandung zat Bhispenol BPA, bukan ranahnya Komnas PA," tegas Edi Homaedi kepada media di Jakarta, Rabu (8/6/2022).

Baca Juga: Erick Thohir Instruksikan Telkom Ambil Alih PFN Demi Selamatkan Film Nasional

Menurut Edi, kalau pun Arist mau bersikap mestinya memberi masukan pada BPOM agar lebih fair kepada semua pelaku bisnis. Sebuah kebijakan seharusnya mengatur secara menyeluruh dan tidak bisa bersifat terlalu spesifik dan menyasar hanya pada satu jenis produk, karena akan terkesan diskriminatif.

Sebagaimana diketahui BPOM berencana akan mengubah peraturan Kepala BOPM No 31/tahun 2019 tentang Pelabelan kemasan, dimananantinya semua galon guna ulang berbahan PC diberi label yang bertuliskan “Berpotensi Mengandung BPA”.

“Selaku pimpinan Komnas PA, harusnya profesional, dan tidak memihak kesalah satu perusahaan. "Termasuk kepada BPOM, Kita meminta untuk tidak diskriminasi dalam mengeluarkan aturan. BPOM harus bersikap independen," tegasnya lagi.

Baca Juga: Di Balik Pertemuan SBY-Surya Paloh, Pengamat: AHY Bisa Menjadi Playmaker Terbentuknya Koalisi Parpol

Salemba Institute menilai, Kebijakan pelabelan BPA pada galon ini perlu dikaji ulang mengingat belum adanya preseden yang nyata dan jelas-jelas merugikan masyarakat. Sebagaimana diakui oleh Yayasan Lembaga Kunsumen dan Badan perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) hingga saat ini belum pernah ada satu pengaduan pun yang masuk kepada lembaga mereka terkait kasus kesehatan serius yang diakibatkan oleh bahaya BPA yang berasal dari air minum berkemasan galon.

Hal lain yang harus menjadi pertimbangan BPOM adalah BPA tidak hanya terdapat pada PC yang digunakan sebagai bahan pembuatan galon guna ulang tetapi juga terdapat dalam botol susu bayi dan dalam plastik pelapis makana kaleng.

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Terkini

Soal Berkas Ferdy Sambo cs, Waktu Kejagung Menipis

Selasa, 27 September 2022 | 16:16 WIB

Pemprov DKI Janji Tutup Semua Lokasi Prostitusi

Senin, 26 September 2022 | 11:24 WIB

Drakor di Netflix Siap Tayang, Mana yang Kalian Tunggu?

Senin, 26 September 2022 | 09:10 WIB

BTN Gelar Road Show Tabungan BTN Bisnis di Medan

Minggu, 25 September 2022 | 18:32 WIB
X