Kongkow Seni Bareng Brigjen Chryshnanda Dwilaksana Wujudkan Seniman Nyentrik

Romi
Kongkow Seni Bareng Brigjen Chryshnanda Dwilaksana Wujudkan Seniman Nyentrik
Brigjen Chryshnanda Dwilaksana/ ist

Jakarta, HanTer - Kreatifitas seseorang tak bisa dibatasi kendati di masa pandemi Covid-19. Lantaran, berkreasi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, tergantung bagaimana cara menyalurkannya. Seperti dilakukan Brigjen Chryshnanda Dwilaksana mungkin bisa menjadi solusi. 

Menurutnya, cara daring menjadi salah satu pilihan sebagai sarana untuk mengembangkan kreatifitas tentang seni. Terbukti, Chryshnanda mengaku ingin menggelar virtual meeting dengan seniman bahas segala macam seni.

"Kongkow sambil ngeteh, sambil ngopi, sambil ngudud pun bisa. Apa saja tentang seni bisa disharingkan. Dari seni jalanan sampai para maestro," kata perwira tinggi yang hobi melukis ini, Ahad (7/6/2020).

Dikatakannya, bincang seni sambil kongkow menjadi keseruan tersendiri di masa pandemi ini. "Bisa iya bisa tidak. Kalau seni dibahas ala filsuf secara konseptual apalagi teoritikal mungkin saja ketinggian. Bikin puyeng malah enggak berkarya memikirkan konsep yang absurd," tuturnya.

"Bagai menjabarkan rasa nangka bagi yang belum pernah makan nangka. Seni ya lakoni saja. Jalani saja sesuai suara hati hasrat atau passionnya. Seni itu nyali untuk mencicipi kehidupan dari sisi peradaban. Apa lagi ini peradaban tak perlu dibicarakan, lakukan yag baik dan membawa manfaat bagi sesama," terangnya.

Menurut Direktur Keamanan dan Keselamatan (Dirkamsel) Korlantas Polri ini, seni itu olah rasa dalam hal apa saja untuk harmoninya jiwa dalam hidup dan kehidupan. Bisa dibayangkan jika hidup tanpa seni apa jadinya. 

"Pasti ada yang membantah kalau dirinya tidak paham seni dan tetap hidup baik. Pasti ia lupa bahwa seni itu peradaban. Bukan hanya pada tontonan melainkan juga pada tatanan dan tuntunan. Bagaimana dengan gaya seniman yang terkesan awut-awutan bahkan urakan. Selama masih dalam koridor kemanusiaan dan memenuhi standar dalam hidup bersama itu sah-sah saja. Seniman itu yang nyentrik karyanya," jelasnya.

"Selama manusia masih mau dan peduli seni akan terrs ada dan lestari. Demikian sebaliknya, tatkala tiada yang peduli lagi, seni akan layu kering tiada lagi penyegaran," tutupnya.