Pameran Tenun dan Songket Jadi Rekam Jejak Intelektual Sekaligus Estetika Leluhur Bangsa

romi
Pameran Tenun dan Songket Jadi Rekam Jejak Intelektual Sekaligus Estetika Leluhur Bangsa
Anna Mariana cs/ ist

Jakarta, HanTer - Salah satu acara yang bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa adalah dengan menggelar pameran Tenun & Songket Pusaka Kerajaan Nusantara di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu (21/12/2019). 

Ya, lewat even langka ini sengaja  digelar dalam rangkain acara Grand Final ajang Pemilihan Putra Putri Tenun Indonesia (PPTSI) 2019 yang berlangsung malam harinya di tempat sama.

Kegiatan ini dirancang Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara (CBKN), Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia (KTTI),  Galeri Nusantara House of Marsya  yang menjadi panitia PPTSI 2019 dengan Forum Silaturahmi Keraton se Nusantara (FSKN).

Pameran yang diikuti oleh 17 kerajaan  yang tergabung dalam FSKN, memamerkan sebanyak 102 tenun dan songket yang telah berusia ratusan tahun dan masih terawat dengan baik. 

"Seperti  kain dari  Kesultanan Bima  dan  Kedatuan Pattojo Soppeng, Sulawesi Selatan,  ada yang sudah berusia sampai 200 tahun," ungkap  KRAy Intan Dewi Rumbinang SE, Koordinator Pameran Tenun dan Songket Pusaka.

"Lewat pameran ini baru disadari bahwa kain  tenun dari Kesultanan Bima,  ternyata memuat aksara kuno. Dan sekarang masih dalam penelitian untuk diterjemahkan artinya," sambungnya.

Dalam kesempatan menyampaikan pidato pembukaan, Ketua Umum FSKN, GPRA Arief Natadingrat, SE. Sultan Sepuh ke IV Keraton Kasepuhan Cirebon mengajak hadirin untuk melestarikan warisan budaya yang ada.

"Intinya kita wajib untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa,  agar generasi penerus bisa mengakses informasi tentang nilai nilai adiluhung budaya Nusantara," katanya. 

Sementara itu,  Anna Mariana sebagai Penggagas  Acara sekaligus Ketua Panitia PPTSI 2019 mengajak masyarakat dan pemerintah untuk sama sama berjuang melestarikan peninggalan leluhur.

"Peninggalan ini merupakan salah satu jejak sejarah,  pencapaian estetika dan intelektualitas para pendahulu, yang bisa menjadi bahan pengajaran akan asal usul dan jati diri, bangsa," kata Anna.

Di tengah pameran, dibuat pula dialog budaya bertema "Tenun Pusaka Keraton sebagai Rekam Jejak Intelektual dan Estetika Leluhur Bangsa. 

Muncul sebagai nara sumber YM A.A Ugrasena Kerajaan Buleleng Singaraja Bali, YM Dr.Baiq Ratna Mulhimmah MH (Putri Selaparang-Permaisuri Kedatuan Pejanggik, Dosen UIN Mataram),

YM Theodorus Frederikus Seran Tefa (Raja Mandeu dan Ketua Komisi DPRD Kabupaten Belu, NTT), YM SHRI Lalu Gede Pharma (Kerajaan Batu Dendeng NTB), dan moderator  YM Tengku Mira Sinar.,MA (Tengku Putri Bongsu Kesultanan Serdang, Sumatera Utara).

Pameran Tenun & Songket Pusaka Kerajaan Nusantara ini merupakan ajang perdana.  Meskipun dilaksanakan hanya sehari, namun mendapat sambutan serta apresiasi positif dari para pengunjung. 

"Insya Allah tahun depan akan kita gelar menjadi even bertaraf Nasional tahunan dengan waktu yang lebih panjang dan peserta yang lebih banyak," ungkap Tengku Ryo Ketua Umum  KTTI. 

#Rekam   #Jejak   #Pameran   #Tenun   #Songket