Hobi Berburu, Laywer Senior Satria Tarigan Tetap Berpegang Kaidah Hukum

romi
Hobi Berburu, Laywer Senior Satria Tarigan Tetap Berpegang Kaidah Hukum
Lawyer Satria Tarigan dengan koleksi hasil buruannya/ ist

Jakarta, HanTer – Berprofesi sebagai pengacara tak membuat seseorang selalu bergelut dalam perkara hukum. Namun, ada kalanya harus melepas itu semua demi sebuah hobi berburu. Itulah sekilas mengenai sosok lawyer senior Satria Zulkarnain Tarigan. 

Maklum, menurut Satria, seorang pemburu harus bisa memegang prinsip dan nilai yang dianut oleh seorang konservasionis atau pelindung alam. Ia pun harus bersikap bijak dalam menyalurkan hobinya itu berdasarkan pada peraturan yang berburu. 

"Karena Kegiatan berburu dengan mengacu kepada peraturan dan tata tertib justru dapat menekan kegiatan pembantaian satwa yang dewasa ini diperkirakan banyak ditemukan di tengah masyarakat, khususnya pembantaian hewan-hewan langka dan dilindungi. Dan masyarakat yang memiliki minat dan hobi berburu, hendaknya senantiasa memegang tuguh kaidah hukum yang berlaku," kata Satria Tarigan di kantor Satria Tarigan & Aldila Legal Consultan, Grand Wijaya, Jakarta Selatan, Kamis (23/5/2019). malam.

Lantaran hobi berburu ternyata masih terus berkembang di berbagai negara di dunia dan bisa menjadi sumber devisa negara, termasuk di Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki aneka jenis hewan liar yang unik di dunia. Dan sudah saatnya Indonesia mulai mengembangkan taman wisata berburu yang memiliki daya tarik bagi para pecinta olahraga berburu.

Satria mengatakan, masih banyak wilayah di Indonesia yang bisa dikembangkan menjadi taman wisata berburu. Setelah Sumatera dan Jawa, ada Sulawesi dan Papua yang memiliki potensi untuk berburu.

“Dari pada wilayah itu dijadikan perkebunan yang tanaman monokultur perusak lingkungan, masih jauh lebih bagus kalau dijadikan sebagai lahan konservasi dan wisata perburuan yang sudah pasti mendatangkan devisa bagi masyarakat,” Satria dalam perbincangan di ruang kerjanya bersama awak media di Satria yang punya hobi automotive dan berbubu juga ingin menggugah peran nyata pemerintah untuk memanfaatkan peluang dan potensi wisata berburu. Caranya, menyediakan kemudahan bagi investor untuk mendirikan taman wisata berburu.

“Seiring dengan upaya mendukung pendirian taman wisata berburu yang legal tersebut, pemerintah perlu mewajibkan setiap investornya untuk  ikut menggalakkan usaha penangkaran rusa dan beberapa jenis satwa buru lainnya,” ujar Satria.

Pria berdarah Batak ini meyakini bahwa kegiatan berburu yang mengacu kepada peraturan dan tata tertib yang berlaku, justru dapat menekan maraknya kegiatan pembantaian satwa belakangan ini. “Masyarakat yang memiliki minat dan hobi berburu wajib memegang teguh kaidah hukum dan peraturan yang berlaku,” imbuh anggota Safari Club Nasional ini.

Ditambahkannya, hewan yang boleh diburu adalah hewan yang tidak produktif karena sudah tua dan berjenis kelamin jantan. Sementara hewan betina maupun masih muda tidak boleh diburu. 

“Setiap pemburu juga wajib mengenal dan memahami sifat-sifat dan gerakan alam atau ekologi serta mampu menjaga keseimbangan alam. Bukan asal diburu dan melalaikan konservasi atau pelindung alam,” imbuhnya yang mencontohkan perburuan babi hutan di Sumatera Barat.

“Babi hutan yang merupakan hama bagi tanaman produksi petani, dapat dikendalikan jumlahnya melalui wisata berburu, seperti yang dilakukan masyarakat di Sumatera Barat,” tambahnya.

Oleh karenanya, Satria menginginkan ada peran  nyata pemerintah yang perlu direalisasikan, di antaranya dengan menyediakan kemudahan bagi investor untuk mendirikan taman wisata buru. Seiring dengan upaya mendukung pendirian taman wisata buru yang legal tersebut, pemerintah perlu mewajibkan setiap investornya agar ikut menggalakkan usaha penangkaran rusa dan beberapa jenis satwa buru lainnya.