FMJJ Hidupkan Kembali Budaya Warga Betawi yang Sudah Hilang

Anugrah
FMJJ Hidupkan Kembali Budaya Warga Betawi yang Sudah Hilang
Gerakan Jakarta Maghrib Mengaji (JMM) Jakarta Utama resmi dimulai, Kamis (21/3).

Jakarta, HanTer -- Gerakan Jakarta Maghrib Mengaji (JMM) Jakarta Utama resmi dimulai, Kamis (21/3). Hadir dalam launching JMM di Masjid Arrahman Jl Perintis Kemerdekaan, Kelapa Gading, Walikota Jakarta Utara Syamsudin Lologau beserta tokoh-tokoh ulama.

La Ode Basir selaku pembina Forum Jakarta Maghrib Mengaji (FJMM) Jakut mengatakan bahwa FJMM ini hadir dengan maksud sebagai gerakan partisipasi aktif masyarakat yang turut serta mensukseskan program pemerintah DKI khususnya dalam upaya peningkatan karakter moral.

Kemudian, lanjut pengurus pusat dewan masjid Indonesia (DMI) ini FMJJ juga menghidupkan kembali, budaya masyarakat betawi yang sudah "hilang", yakni budaya masyarakat khususnya anak-anak dan remaja kita yakni di waktu Maghrib untuk berbondong-bondong ke Masjid atau Mushala untuk beraktivitas positif baik untuk mengaji, mengkaji kandungan Al Qur'an plus aktivitas positif lainnya  termasuk pelajaran-pelajaran sekolah. 

"Dan support ini, pengurus FJMM sudah menyiapkan relawan untuk mengajar mengaji, juga untuk mengajar mata pelajaran di sekolah seperti matematika, IPA, bahasa Inggris dan lain-lain. Turunannya, dengan aktivitas positif tersebut semoga bisa membendung atau menghalangi aktivitas negatif, seperti tawuran remaja, serta kenakalan semaja lainya yang bermula dari "ngumpul-ngumpul" karena kekosongan aktivitas positif," ujarnya kepada Lamjek, Jumat (22/3).

Hadir dalam acara launhcing tersebut tokoh agama dan tokoh masyarakat Jakut, antara lain: KH. Aslih Ridwan, MA (Ketua FJMM DKI Jakarta), Ustadz Drs. Ahmad Umairoh (Ketua FJMM Jakut),  Hj Dra Yati Rahman (Pembina FJMM Jakut),  La Ode Basir (Inisiator atau Pembina FJMM Jakut), Sekretaris MUI Jakut, serta para Pengurus FJMM Jakut, dan para tokoh lainnya.

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Utara, Syamsudin Lologau mengatakan,gerakan magrib mengaji merupakan ikhtiar membentuk generasi muda saat ini menjadi generasi lebih baik.

Khusus di Jakarta Utara, penerapan gerakan disambung dengan jam malam wajib belajar. Karena itu, Ia berharap dukungan semua pihak terlibat dalam gerakan.

"Saat ini sudah 173 titik lokasi gerakan yang berjalan, baik di masjid, mushalla, RPTRA, pos RW atau rumah masyarakat," kata Syamsuddin.