PPP Humphrey Siapkan 100 Pengacara Hadapi Laporan Romy

Safari
PPP Humphrey Siapkan 100 Pengacara Hadapi Laporan Romy
Ketua Umum PPP Muktamar Jakarta Humphrey Djemat (tengah)

Jakarta, HanTer - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) versi Muktamar Jakarta menyiapkan sekitar 100 pengacara untuk menghadapi laporan PPP kubu Romahurmuziy (Romy). Romy  melaporkan PPP versi Muktamar Jakarta ke kepolisian terkait tuduhan pemalsuan, penyerobotan nama, jabatan, dan alamat kantor PPP.  

Ketua Umum PPP versi Muktamar Jakarta Humphrey Djemat mengatakan, laporan itu sebagai bentuk kriminalisasi dan rekayasa kubu Romy dengan menggunakan kekuasaan. Karena sengketa internal kepengurusan PPP yang saat ini terjadi sebenarnya bukan merupakan ranah pidana. 

“Dalam UU Partai Politik sudah jelas bahwa dalam hal terjadinya sengketa internal kepengurusan partai politik maka forum yang akan menyelesaikan adalah Mahkamah Partai,” kata Humphrey saat memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (6/2/2019). 

Humphrey menilai aneh langkah Romy yang baru melaporkannya sekarang. Padahal, konflik di PPP antara kubunya dan kubu Romy sudah berjalan bertahun-tahun. Namun, selama ini kubu Romy tak mempermasalahkan langkah kubunya menggunakan nama dan lambang PPP.

"Kenapa dulu tidak dilaporkan, dan baru sekarang dilaporkan. Karena dulu tidak ada pilpres, sekarang ada pilpres," ucap dia.

Sementara ketua tim pengacara PPP yang mengatasnamakan Tim Pembela Kriminalisasi PPP Muara Karta mengaku belum menerima surat dari kepolisian bahwa kliennya telah dilaporkan oleh Romy. Namun dia menduga unsur pasal yang digunakan Romy dalam laporan itu menggunakan pasal 227 KUHP dan atau pasal 263 KUHP. 

“Unsur dalam pasal-pasal ini adalah yang paling mungkin untuk dipergunakan sehubungan dengan tuduhan pemalsuan, penyerobotan nama, dan jabatan dan atau penggunaan alamat kantor,” jelasnya. 

Terkait dengan kepengurusan PPP, Muara menerangkan bahwa Muktamar PPP Surabaya yang diselenggarakan Romy pada tanggal 17 Oktober 2014 adalah muktamar yang dilaksanakan di luar dari keputusan Mahkamah Partai yang kemudian memperoleh surat keputusan (SK) Menkumham. 

“SK itu kemudian dicabut melalui terbitnya putusan Mahkamah Agung Nomor  601K/Pdt.Sus-Parpol/2015. yang menyatakan kepengurusan PPP yang sah adalah hasil muktamar PPP Jakarta yang menunjuk Djan Faridz sebagai ketua umum, yang kemudian digantikan oleh Humphrey Djemat,” jelasnya. 

Saat memberikan keterangan ini  Humphrey didampingi para ulama dan tokoh PPP dari berbagai daerah. Mereka memberikan dukungan terhadap PPP Humphrey yang juga mendukung Paslon nomor urut 02 Prabowo - Sandi.