80 Persen Faktor Risiko Infertilitas dapat Dideteksi

Arbi
80 Persen Faktor Risiko Infertilitas dapat Dideteksi
Dr. Ferdhy Suryadi Suwandinata Sp.OG(K-FER)

Jakarta, HanTer - Memiliki keturunan setelah menikah menjadi dambaan semua pasangan suami istri. Namun tidak semua pasangan dikaruniai anak dalam waktu singkat, bahkan bisa tidak sama sekali. Kondisi ini, disebut infertilitas atau ketidaksuburan.

Konsultan obstetri dan ginekologi dengan subspesialisasi fertilitas dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk Dr. med. Ferdhy Suryadi Suwandinata Sp.OG(K-FER) menjelaskan, infertilitas biasanya tergantung pada penyebab utamanya, yang perlu dicari tahu sebelum dokter kebidanan dan kandungan dapat memberikan rekomendasi untuk program kehamilan. 

“Sebelum menentukan jenis program kehamilan yang akan dilakukan, perlu dipastikan terlebih dahulu apa penyebab sulit hamil tersebut. Memang tidak semua dapat dijelaskan penyebabnya. 20% yang tidak diketahui penyebabnya, disebut sebagai "unexplain infertility”, ujar Ferdhy di Jakarta, kemarin.

Ia menerangkan, infertilitas pada wanita dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti faktor hormonal, gangguan pematangan sel telur, endometriosis, miom, kista, tumor, bahkan kanker.

Sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri dan melakukan konsultasi dengan dokter kebidanan dan kandungan untuk mendapatkan rekomendasi pengobatan dan prosedur yang tepat dan efektif.

Hal ini, menurutnya, penting dilakukan untuk dapat meminimalkan perkembangan maupun efek dari penyebab infertilitas, terutama pada kasus endometriosis.

“Penanganan dengan menggunakan obat-obatan bisa diberikan untuk penyebab infertilitas seperti faktor hormonal atau masalah pematangan sel telur. Namun, penanganan yang berbeda seperti pembedahan dapat dilakukan untuk pasien dengan kasus endometriosis, miom, kista, tumor, dan kanker,” ucap dia.

Sementara, tindakan operasi saat ini dapat dilakukan dengan teknik konvensional, yaitu pasien dibedah dengan sayatan yang lebar untuk mengangkat kista dan metode terkini di dunia kedokteran yaitu bedah minimal invasif yang lebih dikenal dengan istilah laparoskopi/ endoskopi. 

Konsulen obstetri dan ginekologi dengan subspesialis onkologi Siloam Hospitals Kebon Jeruk dr. Ong Tjandra, MMPd, M.Kes, Sp.OG(K-Onk) menjelaskan, operasi laparoskopi untuk kasus-kasus kandungan dilakukan berdasarkan penilaian atas kondisi masing-masing individu. 

Teknik operasi ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain luka sayatan yang sangat kecil yaitu sekitar 7 mm jika dibandingkan dengan luka sayatan pada operasi konvensional yang dapat mencapai 100 mm, waktu pemulihan pasien yang relatif cepat, nyeri luka paska operasi minimal dan risiko komplikasi yang relatif rendah.

“Teknologi ini dapat kita aplikasikan juga pada kasus-kasus keganasan,” katanya. (Danial)