Bertahun-Tahun Terkatung, Pemilik Apartemen Essence Darmawangsa Tolak Proposal Perdamaian

Safari
Bertahun-Tahun Terkatung, Pemilik Apartemen Essence Darmawangsa Tolak Proposal Perdamaian
Ilustrasi (ist)

Jakarta, HanTer - Pemilik apartemen Essence Darmawangsa mengajukan penolakan terhadap proposal perdamaian yang telah diberikan oleh pihak PT. Prakarsa Semesta Alam (PSA). Apalagi proposal perdamaian yang diajukan tidak didukung dengan bukti dan data memadai seperti laporan keuangan perusahaan, daftar aset-aset perusahaan, profil dan/atau calon investor untuk merealisasikan rencana perdamaian.

 

“Bahwa Klien kami telah menunggu hampir 3 tahun untuk mendapatkan sertifikat kepemilikan dan tidak mengetahui perkembangan atas penerbitan sertifikat kepemilikan tersebut sehingga kami menolak dengan tegas apabila diminta menunggu 5 tahun lagi,” kata Ardhiyasa , S.H, selaku kuasa hukum dari Mahesa Mahardika yang menjadi pemilik empat unit apartemen dan sudah membayar unit apartemen tersebut secara lunas sejak 2017 dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (24/9/2020).

 

Ardhiyasa menjelaskan salah satu klausul isi dari proposal perdamaian yang telah disodorkan itu terkait rencana pihak PSA untuk mengurus dan menyerahkan sertifikat kepemilikan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak pengesahan proposal perdamaian (homologasi).

 

Hal sama juga disampaikan Martin Patrick Nagel dari FKNK Law Firm dan Abraham Devrian dari MSA Law Firm yang juga menjadi kuasa hukum dari pemilik unit apartemen yang lain.

 

Abraham mengatakan keberatan lainnya kepada pihak PSA terkait masa berlaku Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) atas kawasan Darmawangsa Essence akan berakhir pada tahun 2025.

 

“Apabila penyerahan sertifikat kepemilikan unit apartemen pada 2025 maka terdapat potensi timbulnya permasalahan lain di kemudian hari,” kata Abraham.

 

Sementara, dalam sengketa hukum ini, Martin meminta dan mendesak agar pihak PSA memperbaiki isi proposal perdamaian. Ini diperlukan, kata dia, untuk mengakomodir permintaan pihak pemilik unit apartemen.

 

Dalam desakannya, Martin menyampaikan bahwa kliennya telah melunasi pembayaran dan meminta pihak PSA agar segera melakukan penandatanganan Akta Jual Beli atas unit serta menyerahkan Sertifikat Satuan Rumah Susun, paling lambat 1 tahun setelah pengesahan rencana perdamaian (homologasi).

 

Selanjutnya, Abraham menyampaikan, mengingat penundaan penandatanganan Akta Jual Beli bukan karena kesalahan pihaknya, dia meminta pihak PSA untuk menanggung seluruh biaya-biaya yang timbul untuk penandatanganan Akta Jual Beli dan pengurusan Sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun.

 

“Di dalamnya tidak terbatas pada Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), biaya notaris dan/atau PPAT, biaya pemecahan sertifikat (apabila ada), dan biaya lainnya,” kata Abraham memaparkan.

 

Selain itu lagi, pihak Mahesa meminta kepada PSA agar segera melakukan serah terima Unit ET1-0905 dan ET1-1205 kepada paling lambat 7 hari setelah homologasi. “Harapan kami tentunya pihak PSA dapat mengakomodirnya dalam revisi proposal perdamaian yang diajukan dalam rapat kreditur berikutnya,” kata Ardhiyasa menambahkan.

 

Sementara itu Yudho Sukmo Nugroho, kuasa hukum debitor saat dikonfirmasi mengatakan, proposal perdamaian yang diajukan pihaknya sebelumnya masih bersifat sementara untuk dilakukan pembahasan bersama dengan para kreditur, sehingga di sidang sebelumnya diputuskan untuk memberikan kepada debitor PKPU tetap agar pihaknya dapat memperbaiki rencana perdamaianberdasarkan masukan atau permintaan kreditur.

 

"Tentunya juga disesuaikan kemampuan debitur dan fakta di lapangan," paparnya, Jumat (25/9/2020).

 

Sedangkan Bosni Tambunan, salah satu pengurus penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) mengatakan, saat ini masih proses PKPU dimana jangka waktunya masih cukup panjang. Oleh karena itu PKPU sebagai pengurus mengharapkan debitur untuk mendengarkan masukan-masukan dari para kreditur.

 

Pernyataan tersebut menanggapi saat dikonfirmasi apa upaya PKPU dengan adanya penolakan dan keberatan isi perdamaian dari pemilik apartemen Essence Darmawangsa. Oleh karena itu hingga saat ini upaya jalan tengah masih terbuka baik yang dilakukan pemilik apartemen Essence Darmawangsa dan PT. Prakarsa Semesta Alam (PSA).

 

"Jika debitur mengakomodir keinginan para kreditur kami optimis perdamaian dapat tercapai," tegasnya.