Melihat dari Dekat Cara Pembuatan Disinfektan Deasep Produksi Koprabuh

Romi
Melihat dari Dekat Cara Pembuatan Disinfektan Deasep Produksi Koprabuh
CEO Koprabuh, YohanIs Cianes Walean (kedua dr kanan)/ ist

Serang, HanTer – Di masa pandemi Covid-19 ini, kebutuhan akan disinfektan di masyarakat begitu tinggi. Apalagi, hingga kini yang terjangkit terus meningkat setiap harinya.

Tak heran, jika, Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) bersama Kelompok Petani Binaan Koprabuh,di Gunung Sari Kab Serang Provinsi Banten bergerak cepat untuk memproduksi Deasep yang merupakan merek disinfektan yang dibuat secara alami tanpa alkohol dan zat kimia.

CEO Koprabuh, YohanIs Cianes Walean menjelaskan cuka kayu atau asam kayu adalah cairan yang di produksi dengan cara pirolisa atau dekomposisi termal dari proses produksi arang dengan tingkat oksida rendah.

"Proses pembuatan cuka kayu sebenarnya sangat sederhana, hanya membutuhkan drum dan tabung freon bekas. Fungsinya tabung freon untuk menampung asap yang kemudian menjadi air, lalu di tampung di ember yang sudah disiapkan,” kata Yohanis, Jumat (3/7/2020). 

Selanjutnya, kata Yohanis, di dalam drum diisi kayu yang akan dibakar untuk menghasilkan asap, dimana pembakaran tersebut dilakukan selama 12 jam, yang nantinya menghasilkan cuka kayu sebanyak 20 liter. 

“Kemudian, drum yang diisi dengan kayu bakar ini, tidak boleh bocor, sehingga asap yang dihasilkan dari pembakaran tersebut tidak keluar sehingga menghasilkan asap yang maksimal,” terangnya.

Dilihat sepintas, memang menggunakan drum tidak bertahan lama. Hanya dua sampai tiga bulan. Namun disisi penggunaan itu sangat efisien karena hanya dengan budget yang sedikit dan sangat cocok bagi para petani.

Ditambahkan Yohanis, produk Deasep ini mengandung 25 persen asam cuka, 1 persen serai yang berfungsi sebagai pewangi alami serta 74 persennya dari air, jadi  sangat menjamin disinfektan Deasep ini sangat ramah lingkungan. 

"Dari jumlah 100 persen cairan itu, 25 persen dari asam cuka, kemudian 1 persen itu adalah sereh, sereh itu tidak lain sebagai pewangi, kemudian 74 persen adalah air. Sungguh ramah lingkungan," jelas Yohanis.

Produk Deasep, memang memiliki warna yang berbeda yakni coklat keruh seperti teh dan berbau alami. Adapun, penemuan dan pemanfaatan cuka kayu ini menurutnya bukanlah hal baru, karena cuka kayu ini sudah kerap digunakan oleh para petani untuk menyuburkan tanah atau bagi nelayan sebagai pengawet ikan.

"Selain itu kemudahan dari Deasep ini juga sangat membantu bagi petani karena selain mudah dan murah proses pembakaran juga mengunakan limbah kayu," lanjut pria yang pernah meraih Guinness Book of Record dalam pemecahan rekor menanam 238.000 pohon ini.

Kendati produk ini agak sederhana proses pengelolaanya, namun telah diklaim oleh Balai Litbang Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai salah satu produk inovatif ramah lingkungan yang efektif dan cocok untuk memerangi Covid-19. 

Sebelumnya, Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian KLHK Adison mengatakan Deasep aman alias tidak berbahaya bagi kulit ataupun tercampur ke bahan makanan dan minuman.