Dokter: Masyarakat Jangan Tunda Operasi Jantung

Arbi
Dokter: Masyarakat Jangan Tunda Operasi Jantung
dr. Maizul Anwar, Sp.BTKV . (Ist)

Jakarta, HanTer – Penyakit jantung merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan penyebab nomor satu kematian di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, masyarakat khususnya penderita penyakit jantung diimbau untuk tidak menunda atau takut untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Terlebih, jika dibutuhkan tindakan operasi segera.

“Dengan menjalankan protokol dan skrining kesehatan sebelum tindakan operasi dilakukan, masyarakat tidak perlu menunda atau merasa takut untuk menjalani operasi jantung karena kesehatan jantung adalah kondisi kesehatan yang harus segera ditangani secara cepat dan tepat,” jelas Dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular Siloam Hospitals Kebon Jeruk dr. Maizul Anwar, Sp.BTKV di Jakarta, Jumat (12/6).

Bukan hanya pasien, sambung dia, dokter dan petugas kesehatan, staf lainnya di Siloam Hospitals Kebon Jeruk juga dilakukan skrining dan pemeriksaan COVID-19 secara berkala untuk memastikan keamanan staf dan pasien yang dilayani.

“Selama masa pandemi COVID-19, tindakan operasi di Siloam Hospitals Kebon Jeruk tetap bisa dilakukan dengan aman dan tepat karena jaringan rumah sakit Siloam menjalankan protokol kesehatan bagi pasien dan tenaga medis untuk memastikan keamanan dan kesehatan bersama,” kata pimpinan Siloam Heart Institute (SHI) ini.

Lebih lanjut, dr Maizul menerangkan bahwa penyakit jantung yang paling umum terjadi adalah penyakit jantung koroner. Dimana, penyakit ini mencakup sekitar 31% dari seluruh kematian di dunia, atau sekitar 8,7 juta disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Kementerian Kesehatan sendiri mencatat sebesar 1,5% atau 15 dari 1.000 penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner.

“Biasanya kasus jantung koroner dialami mulai dari usia produktif yaitu termuda 31 tahun hingga 85 tahun. Untuk kasus usia di bawah 50 tahun, kejadian penyakit jantung koroner berhubungan erat dengan gaya hidup, seperti pola makan yang kurang baik, merokok, tidak berolahraga, hipertensi, serta stres yang tinggi,” kata Maizul

Selain itu, dapat juga terjadi karena hiperkolesterolemia (gula darah tinggi karena hasil metabolisme dari pola makan yang tidak sehat). "Pada kasus-kasus penyakit jantung koroner yang tidak bisa diatasi lagi dengan obat-obatan atau pasien yang sudah memasang stent dan tidak dapat diulang lagi, dalam dunia medis solusi untuk mengatasi kondisi tersebut adalah dengan melakukan prosedur Coronary Artery Bypass Graft (CABG)," jelas dr. Maizul.

CABG adalah sebuah prosedur tindakan bedah dengan membuat pembuluh darah baru atau biasa disebut bypass pada penyakit jantung koroner. Pembuluh darah baru tersebut nantinya akan melintasi pembuluh darah jantung yang menyempit dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain, seperti arteri di dada, lengan, dan pembuluh vena dari kaki.

“Tindakan CABG dapat dilakukan dengan menggunakan dua teknik, yaitu dengan menggunakan mesin jantung paru konvensional (on pump) atau tanpa menggunakan mesin jantung paru (off pump),” terang Maizul.