Tajuk: Idul Fitri, Meminta Maaf, Memberi Maaf dan Memaafkan

***
Tajuk: Idul Fitri, Meminta Maaf, Memberi Maaf dan Memaafkan

Tanpa terasa, bulan Ramadhan dalam beberapa hari lagi telah meninggalkan kita. Selanjutnya umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri 1441 H yang akan jatuh pada Minggu, 24 Mei 2020 dan Senin 25 Mei 2020.

Ramadhan dan lebaran kali ini memang terasa berbeda di tengah suasana pandemi virus corona atau COVID-19. Umat Islam tetap bisa merayakan Idul Fitri 1441 H namun dengan tetap mematuhi protokol kesehatan dan tidak berlebihan.

Bagi umat Islam yang berada di daerah atau wilayah zona hijau, sesuai Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) diperbolehkan shalat Ied berjamaah di masjid, dengan tetap melatuhi protocol kesehatan. Sementara yang berada di zona merah diminta untuk shalt Ied di rumah masing-masing dengan keluarga.
Meski di tengah pandemic Covid-19, bukan berarti mengurangi makna penting dan membuat tidak menyambut gembira datangnya hari kemenangan itu. Umat Islam tetap saja melakukan berbagai persiapan, aik persiapan fisik, finansial, lahir maupun batin. Juga dengan menyajikan berbagai jenis santapan dan berpakaian baru. 

Islam mengingatkan dalam merayakan lebaran tidak dengan berhura-hura, atau melakukan kegiatan yang justru dapat mencoreng nilai-nilai “muttaqin” setelah sebulan berpuasa. Intinya, kita harus menghindari perbuatan mubazir di tengah situasi perekonomian yang saat ini sedang dalam posisi tidak menguntungkan.  

Diharapkan seorang muslim yang kembali kepada fitrahnya harus memiliki sikap tetap istiqomah memegang agama tauhid yaitu Islam. Juga harus tetap akan memiliki kepekaan sosial tinggi, dan peduli kepada lingkungannya.  Mereka yang meraih kemenangan sudah tentu  mampu menahan nafsu dan amarahnya.  
Makna Idul Fitri juga manusia harus terbebas dari kesedihan, kesusahan dan kemiskinan. Dengan demikian diwajibkan bagi umat muslim yang mampu untuk membayar zakat yang berupa zakat fitrah kepada fakir miskin sebagai bentuk dari berbagi kebahagiaan dari mereka yang tidak berpunya agar bisa merasakan suka cita pada hari tersebut.

Setelah kita meraih hari kemenangan mari hilangkan rasa benci, rasa dengki, rasa iri hati, rasa dendam, rasa sombong dan rasa bangga dengan apa yang kita miliki hari ini. Mari kita ganti semua itu dengan rasa kasih sayang dan rasa persaudaraan. Dengan hati terbuka, wajah yang berseri-seri serta senyum yang manis kita ulurkan tangan kita untuk saling bermaaf-maafan. 

Pasca idulfitri mari kita buka lembaran baru yang masih putih, dan kita tutup halaman yang lama yang mungkin banyak terdapat kotoran dan noda seraya mengucapkan Minal Aidin Walfaizin Mohon Ma’af Lahir dan Batin. Ayo kita maksimalkan bersilaturahmi untuk meminta maaf, memberi maaf dan menjadi seorang pemaaf. Jangan biarkan kedengkian dan kebencian merasuk kembali ke jiwa kita yang telah suci.

Tak hanya saling bersilaturahmi, idul fitri juga mendorong antarumat beragama untuk saling menghormati dan merajut rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air. Momentum Idul Fitri juga merupakan lesson learned untuk memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan beragama.

Setidaknya Idul Fitri menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas ke-Islaman dan ke- Indonesiaan, yakni peningkatan kualitas keberagamaan, peningkatan kualitas hubungan sosial yang dilandasi kekuatan rasa persahabatan di antara sesama serta semangat cinta damai di antara sesama muslim, dengan melepaskan berbagai perbedaan etnik, budaya, dan aliran keagamaan, serta peningkatan kualitas toleransi dan semangat kebangsaan.