Pendidikan Indonesia Harus Mencetak SDM Menjadi Trandsetter Perubahan

Safari
Pendidikan Indonesia Harus Mencetak SDM Menjadi Trandsetter Perubahan

Jakarta, HanTer - Webinar Nasional Pendidikan dengan mengambil tema “Wajah Baru Pendidikan di Era IR 4.0” yang diselenggarakan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada hari Senin (11/5/2020) melahirkan beberapa poin penting untuk menjadi perhatian pemerintahan Jokowi dimasa pendmi Covid-19.

 

Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI, Korneles Galanjinjinay menyampaikan, salah satu alasan pelaksanaan Webinar adalah dalam rangka merespon situasi wabah pandemi Covid-19 yang berimbas pada kekhawatiran terabaikannya beberapa sektor penting, seperti bidang pendidikan oleh pemerintah. Apalagi pandemi Covid-19 memaksa mahasiswa harus menggunakan teknologi untuk melanjutkan pembelajaran di sekolah.

 

"Tapi, sebenarnya ada atau tidak ada pandemi ini maka pemerintah sudah seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendukung modernisasi pendidikan, karena kita akan masuk era baru, era revolusi industri keempat,” kata Korneles mengawali webinar.

 

Korneles menambahkan, persoalan selama ini ada di daerah-daerah 3T, persoalan infrastruktur dan lain-lain yang tidak merata. Apalagi pemerintahan Jokowi-Maaruf Amin pernah berjanji di kampanye Pilpres 2019 terkait pembangunan infratruktur langit yang belum kongkrit, sehingga pembelajaranpun terkendala dimasa pandemic karena harus bergantung pada media pembelajaran virtual.

 

“Kita dijanjikan oleh Presiden dan Wakil Presiden akan membangun infrastruktur langit, tapi sampai sekarang juga enggak terjadi. Malah kita kaget dengan kekagetan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu rapat dengar pendapat dengan DPR RI, bahwa ada daerah yang tidak ada jaringan listrik. Ini sudah sejak republik ini Merdeka,” jelasnya.

 

Korneles uga menyerukan agar pemerintah segera membenahi persoalan-persoalan itu secepatnya, jika tidak diantisipasi dan dipersiapkan maka Indonesia akan dihancurkan loleh gelombang revolusi keempat itu sendiri, dan imbasnya akan membuat pendidikan dan SDM Indonesia akan tertinggal jauh dari negara-negara lain.

 

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Arif Satria sebagai narasumber dalam webinar menyampaikan pentingnya merobah mental dan maindset dikalangan pelajar atau mahasiswa menjadi pola pikir pembelajar yang tangguh dan yang lincah yang bisa adaftif terhadap perubahan. Selain itu merubah motode belajar dari konvensional ke metode merdeka belajar. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk meramu paket belajar yang cocok untuk masa depannya.

 

“Sebelumnya perguruan tinggi seolah lebih tauh menentukan masa depan mahasiswa, sekarang dalam merdeka belajar ini mahasiswa diberikan kesempatan untuk meramu kira-kira paket (mata kuliah) apa yang cocok untuk masa depannya," paparnya.

 

Karena, sambung Prof Arif, orang-orang yang harus disiapkan adalah orang-orang yang bermental pembelajar yang tangguh dan lincah yang bisa adaftif terhadap perubahan. Karena jika merespon perubahan selama ini maka akan dikendalikan perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, siapapun harus menjadikan pendidikan Indonesia untuk mencetak orang-orang menjadi trendsetter perubahan.

 

Sementara itu, Rektor Universitas Cenderawasih (UNCEN), Dr Apolo Safanpo yang juga sebagai narasumber menekankan pentingnya penanaman nilai dan pendidikan karakter bagi genarasi muda, karena para genarasi muda nantinya akan menjadi pelaku-pelaku pembangunan diberbagai sektor dan juga akan menjadi pemimpin masa depan bangsa.

 

“Mereka (generasi muda) akan menjadi pelaku- pelaku pembangunan di berbagai sektor pada saat itu. Oleh karena itu negara-negara di dunia sedang melaksanakan manajemen talent. Manajemen talent adalah pembimbingan, pendampingan dan pengkaderan yang dilakukan pada generasi muda untuk dipersiapkan menjadi pemimpin di masa yang akan datang," jelasnya.

 

Dr Apolo menuturkan, seseorang dipilih menjadi pemimpin itu bukan karena mengetahui segala sesuatu, bukan karena menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan juga karena terampil punya kompetensi yang tinggi. Seseorang dipilih menjadi pemimpin itu karena memiliki nilai-nilai universal, nilai-nilai kemanusiaan yang selalu berlaku jujur dan adil menghargai dan menghormati orang lain serta mempunyai nilai karakter yang baik.

 

"Oleh karena itu saya sekali lagi menggaris bawahi bahwa kita boleh saja terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena itu sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi semua itu dilakukan tanpa harus meninggalkan pendidikan karakter sebagaimana digariskan dalam konstitusi kita,” jelasnya.

 

Direktur Belmawa Kemendikbud RI, Prof Aris Junaidi menyampaikan, dalam rangka menyambut Indonesia emas 2045 pemerintah melalui Kemendikbud telah mempersiapkan beberapa paket kebijakan menyangkut peningkatan SDM. Episode-episode yang dilakukan pemerintah sejauh ini telah berjalah di antaranya tentang merdeka belajar yang membahas ujian nasional.

 

Sementara episode kedua tentang kampus merdeka. Selanjutnya terkait dengan pembenahan SDM sudah ditetapkan dalam RPJMN 2020-2024, khusus dibidang pendidikan tinggi telah ditetapkan 7 poin, diantaranya adalah perguruan tinggi sebagai produsen Ipteknet, inovasi dan  pusat keunggulan, kemudian kerjasama perguruan tinggi, industri dengan pemerintah, dan peningkatan kualitas lulusan perguruan tinggi, pengembangan bidang keilmuan dan inovasi pembelajaran.

 

Selain itu, dalam rangka menyambut IR 4.0, pemerintah melalui Kemendikbud telah melakukan reorientasi kurikulum dan juga student centre learning, cooperation dan juga proses belajar bisa dimana-mana dan general education.

 

GMKI melalui Kabid Medkominfo PP GMKI, Benardo Sinambela sebagai pemandu dalam webinar menyampaikan agar pemerintah tetap memperhatikan secara khusus keberlangsungan proses pembelajaran dimasa pandemi Covid-19, keberlangsungan proses pembelajaran adalah tanggungjawab moral pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan harus dijamin tetap berjalan agar tujuan pengembangan SDM terus terjadi meskipun situasinya sulit.

 

Kampus juga diharapkan tidak lepas tanggungjawab dalam menjamin keberlangsungan proses transfer ilmu kepada mahasiswa karena menyerah pada situasi. Terkait dengan wabah Covid 19, pihaknya juga mendorong supaya kampus juga terlibat bekerja sama dengan pemerintah memperhatikan mahasiswa dan perkembangannya, demi tercapainya tujuan pengembangan SDM.

 

"Jangan sampai kita juga terpuruk SDM nya pasca Covid-19 ini karena ketidakcakapan kita dalam penanganan dan antisipatif. Kalau bisa, semua kampus harus bisa menjamin pelaksanaan kuliah online, jangan lagi membebankan mahasiswa. Artinya harus ada suplai sarana fasilitas atau media untuk mengikuti kelas online. Kampus memastikan mahasiswa tetap mendapat pembelajaran meski metodenya harus online, jika tidak, kampus bisa dinilai lepas tugas dan tanggungjawabnya sebagai institusi pendidikan,” tegas Benardo menutup sesi diskusi online tersebut.