Kunjungi Kampoeng Wisata Cinangneng

TK Islam Al-Azhar 5 Kemandoran Kenalkan Budaya Bangsa dan Lingkungan Kepada Anak Didik

Hermansyah
TK Islam Al-Azhar 5 Kemandoran Kenalkan Budaya Bangsa dan Lingkungan Kepada Anak Didik
Kelompok B-1 TK Islam Al-Azhar 5 Kemandoran

Jakarta, HanTer - Dalam rangka puncak tema Alam Sekitar di tahun ajaran 2020, TK Islam Al-Azhar 5 Kemandoran memboyong murid TK Kelompok B untuk melalukan aktivitas luar sekolah dengan mengunjungi Kampoeng Wisata Cinangneng, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (20/2/2020). 

Dipilihnya Kampoeng Wisata Cinangneng, bukannya tanpa alasan. Pasalnya, ini merupakan sebuah rangkaian program TK Islam Al-Azhar 5 Kemandoran yang mengambil tema lingkungan, sekaligus mengajak anak didik belajar langsung dilingkungan yang berbeda dari biasanya serta kebudayaan dalam hal ini Sunda.

Hal tersebut seperti diungkapkan Hj. Musani, selaku kepala sekolah TK Islam Al-Azhar 5 Kemandoran, Jakarta. "Alhamdulillah, program ini memang kita desaign untuk anak didik, agar mencintai lingkungan serta budaya, untuk saat ini Sunda, disamping mereka belajar di sekolah, sekaligus agar suasana belajar mengajar lebih menarik dan bervariasi," ungkap Hj. Musani.

Anak didik saat memainkan alat musik angklung

Aktivitas anak didik ketika sampai di lokasi, mereka diajak bernyanyi dan bermain angklung dengan membawakan lagu Burung Kaka Tua serta lagu Boneka Abdi yang sempat viral belum lama ini. Anak didik sangat antusias memainkan alat musik asli milik Indonesia itu, terlebih, alat musik tersebut sudah tidak asing lagi bagi anak murid TK Islam Al-Azhar 5 Kemandoran

Tak hanya Angklung, anak didik juga merasakan langsung sensasi bermain alat musik gamelan sunda, seperti bonang, saron panjang, jenglong, gong serta kendang yang tentunya belum pernah dimainkan sebelumnya.

Setelah merasakan keindahan nada-nada salendro dari gamelan Sunda itu, mereka juga mendapatkan pelatihan singkat sebuah tarian Jaipong berjudul Adu Manis, sebuah aransemen dari alat musik gamelan Sunda yang telah dimainkan anak didik sebelumnya. Tentu, pengenalan kesenian budaya asli dari bangsa ini terhadap anak didik, menjadi sebuah upaya turut melestarikan budaya dari bangsa yang kaya dan besar ini.

Anak didik antusias mendengarkan pengarahan sebelum memainkan gamelan Sunda

Selepas itu, anak didik diajarkan bagaimana caranya menanam padi, tumbuhan yang ketika dipanen berubah nama menjadi beras, kemudian dimasak menjadi nasi, makanan utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia dan hampir diseluruh dunia setiap harinya.   

Tidak hanya mendapatkan pelajaran bagaimana caranya menanam padi, namun dari situ anak didik diajarkan filosofi hidup layaknya padi, “semakin berisi, semakin merunduk,” sebuah falsafah yang mengingatkan bahwa manusia tidak sepantasnya sombong.

Merunduknya padi pun bisa dianalogikan sebagai sikap kepasrahan diri kepada Allah SWT. Ketika dia mendapat kenikmatan maka dia akan bersyukur dan menyadari bahwa itu semua adalah keutamaan yang datang dari Allah SWT. Sebaliknya, ketika dia ditimpa masalah dia akan pasrah dan tawakal. Bahwa semua kejadian berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya. Semua itu disikapi dengan rendah hati tanpa ada sikap sombong dan merendahkan orang lain.

Kemudian, anak didik belajar membuat makanan dan minuman tradisional, membuat prakarya wayang daun singkong, serta menggambar diatas topi caping.

Anak didik saat melukis diatas topi caping

Hj. Musani mengatakan, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak didik. "Alhamdulillah anak-anak sangat bersemangat dalam melakukan kegiatan ini. Disini terdapat latihan fisik seperti menari dan bermain alat musik Sunda, disamping keterampilan mereka berfikir untuk lebih kreatif seperti membuat wayang atau boneka dari daun singkong, hingga goresan kuasnya diatas topi caping," ucapnya.

Lebih lanjut, Kepala Sekolah yang ramah dan 'murah' senyum itu juga mengatakan, bahwa lewat program ini, anak didik lebih mengenal kebudayaan bangsa Indonesia, di mana untuk saat ini kebudayaan Sunda.

Kedapannya dirinya berharap, kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan oleh para orang tua murid kepada anak-anaknya. "Orang tua selain menajak anaknya bermain di Mall, mau juga mengajak anak-anaknya untuk bermain di alam terbuka seperti ini, untuk menambah serta mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh anak," harapnya.

Anak didik saat menyimak penjelasan bagaimana cara membuat salahsatu makanan dan minuman khas Sunda

Beberapa bulan kedepan tahun ajaran akan segera berakhir. Anak didik TK B akan melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi, yakni Sekolah Dasar (SD). Hj. Musani mengatakan, semoga pendidikan yang didapat selama dua tahun belajar di TK AL-Azhar Kemandoran 5, menjadi bekal bagi para anak didik untuk jenjang pendidikan selanjutnya.

"Sekarang ini kakak Kelompok B yang akan melanjutkan ke SD, mereka punya bekal ilmu pengetahuan yang sudah kita berikan baik proses belajar di sekolah maupun diluar lingkungan sekolah, seperti pengetahuan umum, hingga pengetahuan agama, seperti pengetahuan akhlakul karimah, membaca Al-quran, Sholat, doa-doa, keterampilan fisik dan motorik serta lainnya, semoga menjadi motivasi mereka untuk lebih giat lagi belajar," ucapnya.

"Semoga mereka semua akan lebih berpresasti lagi pada jenjang pendidikan selanjutnya. Insha Allah, mereka akan menjadi Cendikiawan Muslim, calon pemimpin bangsa ini di masa depan, serta untuk tahun depan kita akan membuat kegiatan yang lebih menarik lagi bagi siswa-siswi KB/TK Islam AL-Azhar Kemandoran 5," pungkasnya.

Anak didik bersiap membuat wayang dari daun singkong

Sementara itu, Anindita Mugi Swasti, selaku orang tua murid yang juga mengemban tugas sebagai Ketua Jam'iyah, sangat mengapresiasi variasi proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh para guru TK Islam AL-Azhar Kemandoran 5 selama ini. 

"Tentu, kegiatan belajar untuk anak didik seperti ini sangat bagus sekali. Tempatnya sangat edukatif. Anak-anak dikenalkan ke alam dan budaya yang dimiliki bangsa ini, sehingga mereka mengetahui bahwa bangsa ini sangat kaya akan suku, budaya, kesenian yang terbalut dalam sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia," ucapnya.

"Anak-anak sangat antusias dan happy mengikuti kegiatan ini, disamping mendapat pelajaran baru tentang alam, kesenian, budaya, makanan khas sebuah daerah dan lainnya, serta yang lebih penting lagi mereka mendapat sebuah pengalaman baru. Terimakasih," ucap ibu berhijab yang akrab disapa Asti itu.

Ketua Jam'iyah Anindita Mugi Swasti (kiri) beserta para pengurus