Cegah Kasus Bunuh Diri, KPAI: Guru Perlu Diberi Pelatihan Tangani Anak Bermasalah

Arbi
Cegah Kasus Bunuh Diri,  KPAI: Guru Perlu Diberi Pelatihan Tangani Anak Bermasalah
ilustrasi. (Ist)

Jakarta, HanTer - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai peningkatan kemampuan guru dalam memahami dan mendeteksi siswa bermasalah perlu segera dilakukan. Hal ini menyusul kasus siswi di sebuah SMP Negeri di Jakarta Timur yang tewas dengan melompat dari lantai empat gedung sekolah.

Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, peningkatan kemampuan guru harus dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terutama Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

“Pelatihan bagi guru bertujuan agar memiliki kepekaan dan bisa mendeteksi siswa yang dirundung masalah dan berpeluang melakukan bunuh diri," kata Retno di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Retno juga mengimbau agar setiap kepala sekolah dan guru- memiliki kepekaan dan mengenali tanda-tanda anak yang dirundung masalah. “Pencegahan lebih baik daripada penanganan dan penyembuhan,” tandasnya.

KPAI juga mendorong sekolah-sekolah untuk menerapkan program Sekolah Ramah Anak yang memenuhi aspek pelindungan terhadap anak dan menjamin tumbuh kembang anak secara optimal.
Dalam program Sekolah Ramah Anak juga terdapat sistem pengaduan yang melindungi anak korban dan anak saksi pengadu atau anak-anak yang dirundung masalah tetapi berani melakukan konseling sehingga dibantu permasalahannya.

"Dinas Pendidikan setempat diharapkan memiliki prosedur standar operasional dan dapat merujuk kasus yang terjadi ke lembaga yang berwenang," katanya.

Berdasarkan data Global School-Based Student Health Survey (2015) mencatat, di Indonesia, ide bunuh diri remaja perempuan sebesar 5,9 persen dan laki-laki 4,3 persen. Namun percobaan bunuh diri pada remaja laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, yaitu 4,4 persen dan perempuan 3,4 persen.

Berdasarkan hasil penelitian Psikiater Nova Riyanti Yusuf terhadap kesehatan jiwa 910 siswa SMAN dan SMKN berakreditasi A di Provinsi DKI Jakarta, terungkap bahwa 5 persen peserta sudah memiliki ide bunuh diri dan 3 persen diantaranya sudah melakukan percobaan bunuh diri.

Pelajar yang terdeteksi berisiko bunuh diri memiliki risiko 5,39 kali lebih besar untuk mempunyai ide bunuh diri dibandingkan pelajar yang tidak terdeteksi berisiko bunuh diri setelah dilakukan kontrol terhadap kovariat, yaitu umur, sekolah, gender, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status cerai orangtua, etnis, keberadaan ayah, keberadaan ibu, kepercayaan agama, depresi, dan stresor. 

 

#KPAI   #guru   #bunuh-diri