Musim Hujan, Waspadai Demam Dengue

Ant
Musim Hujan, Waspadai Demam Dengue
Nyamuk Aedes aegypti

Jakarta, HanTer - Penyakit di musim hujan bukan hanya flu, diare atau alergi, tetapi juga demam dengue yang sebaiknya perlu Anda waspadai.

Kementerian Kesehatan mengungkapkan, kondisi ini salah satunya karena banyaknya genangan air yang menjadi sarang nyamuk, seperti dikutip dari laman Badan Kesehatan Dunia (WHO) padapada Kamis (9/1).

Demam dengue, penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti dengan penyebaran tercepat. Pada kasus yang lebih serius, demam dengue bisa mengarah pada demam berdarah dengue yang bisa berakibat kematian.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan tindakan cepat untuk meminimalisir penyakit dan kematian akibat penyakit ini, mengingat angka kasus yang tinggi di 2019 termasuk saat musim hujan.

Mereka memperkirakan, 2,5 miliar orang di seluruh dunia berisiko terkena dengue dan 70 persennya tinggal di negara-negara Asia Pasifik. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal ini terjadi antara lain, kondisi iklim, lingkungan yang tidak bersih.

Lalu, permukiman perkotaan yang tidak terencana dan urbanisasi yang cepat dapat menyebabkan peningkatan perkembangbiakan nyamuk, khususnya di daerah perkotaan dan semi-perkotaan.

Ahli kesehatan, dr. Alni Magdalena mengatakan, masyarakat sebaiknya mewaspadai nyamuk penyebab dengue pada pagi hingga sore hari.

Menurut dia, kegiatan fogging atau pengasapan yang biasanya dilakukan pada pagi hari menyebabkan perilaku nyamuk berubah, menyerang juga pada sore hari.

Kemudian, untuk mengurangi risiko terkena dengue, pastikanlah lingkungan bersih yakni melalui gerakan 3M+, yakni menutup semua tampungan air, menguras bak mandi dan mendaur ulang barang bekas serta memanfaatkan ikan pemakan jentik.

Selain itu, menaburkan larvasida atau obat pembunuh jentik ke tempat yang tidak mungkin dilakukan pengurasan air.

Upaya pencegahan juga termasuk melakukan hal sederhana yakni tidak menggantung pakaian karena nyamuk penyebab demam dengue menyukai aroma tubuh manusia, menurut dokter spesialis penyakit tropik dan infeksi dari RSCM, dr. Leonard Nainggolan.