Kasus Kekerasan Seksual di Sekolah Mayoritas Dilakukan Guru

Arbi/Ant
Kasus Kekerasan Seksual di Sekolah Mayoritas Dilakukan Guru
ilustrasi. (Ist)

Jakarta, HanTer - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada sebanyak 21 kasus kekerasan seksual dengan jumlah korban mencapai 123 anak di satuan pendidikan sepanjang 2019.

"Korban mencapai 123 anak, terdiri atas 71 anak perempuan dan 52 anak laki-laki," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulisnya, Selasa (31/12/2019).

Ia menyebutkan bahwa baik anak laki-laki dan perempuan semuanya rentan menjadi korban kekerasan seksual di sekolah.  Dari data KPAI menunjukkan bahwa satu pelaku bisa memperdaya banyak korban, karena dari 21 pelaku kasus kekerasan korbannya mencapai hingga 123 anak.

Adapun 21 pelaku tersebut terdiri dari 20 laki-laki dan 1 pelaku perempuan. Pelaku mayoritas adalah guru sebanyak 90 persen dan kepala sekolah sebanyak 10 persen. Sementaraoknum pelaku yang merupakan guru terdiri dari guru olahraha sebanyak 29 persen, guru agama 14 persen, guru kesenian 5 persen, guru komputer 5 persen, guru IPS 5 persen, guru BK 5 persen, guur Bahasa Inggris 5 persen dan guru kelas sebanyak 23 persen.

Lebih lanjut, Retno mengatakan hasil pengawasan KPAI menunjukkan bahwa dari 21 kasus kekerasan seksual yang terjadi di sekolah tersebut, 13 kasus atau sebanyak 62 persen terjadi di jenjang SD, 5 kasus atau 24 persen di jenjang SMP/sederajat dan 3 kasus atau 14 persen di jenjang SMA.

Tingginya kasus kekerasan seksual di jenjang SD, katanya, dikarenakan usia anak-anak SD adalah masa ketika anak-anak mudah dimingi-imingi, takut diancam oleh gurunya, takut nilainya jelek dan tidak naik kelas. Selain itu, anak juga belum paham aktivitas seksual sehingga anak-anak tersebut tidak menyadari kalau dirinya mengalami pelecehan seksual. "Di sinilah pentingnya dilakukan pendidikan seks sejak dini," katanya.

Adapun modus pelaku kekerasan seksual di sekolah adalah korban diajari matematika seusai jam belajar sehingga suasana sepi. Kemudian, modus lainnya adalah korban diajak menonton film porno saat jam istirahat di dalam ruang kelas, korban diancam mendapatkan nilai jelek, korban diberi uang oleh pelaku antara Rp2.000-Rp5.000, korban dibelikan handphone, dibelikan pulsa dan pakaian.

Korban dalam beberapa kasus juga dipacari gurunya, dijanjikan dinikahi gurunya, selain juga pelaku melakukan pelecehan seksual saat korban ganti pakaian olahraga di ruang ganti/ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) atau ruang Bimbingan Konseling dengan dalih sedang membuat disertasi, pelaku meminta korban melakukan masturbasi.

"Para pelaku juga menjalankan aksi bejatnya mayoritas di ruang kelas, ruang kepala sekolah, kebun belakang sekolah, ruang laboratorium komputer, gudang sekolah dan perpustakaan. Dan dari hasil pengawasan KPAI menunjukkan fakta bahwa teknologi CCTV belum ada di sekolah-sekolah tersebut sehingga lokasi-lokasi tersebut tidak terpantau oleh kamera pengaman," ungkapnya

Sementara itu, untuk kasus kekerasan fisik dan psikis terhadap siswa sepanjang 2019 mencapai 153 pengaduan. Kasus ini sebanyak 39 persen kekerasan fisik dan perundungan terjadi dijenjang SD atau MI, 22 persen terjadi di jenjang SMP/sederajat dan 39 persen terjadi di jenjang SMA/SMK/MA. Adapun jumlah siswa yang menjadi korban kekerasan fisik dan perundungan mencapai 171 anak. Sedangkan guru yang menjadi korban kekerasan ada 5 orang.

Terkait hal ini, Retno mengatakan, banyak guru dan sekolah hanya tahu cara menangani siswa yang dianggap “nakal” dengan menghukum mereka secara fisik. Mendidik dan mendisiplinkan siswa diyakini hanya bisa dilakukan dengan kekerasan berupa hukuman. Padahal pendekatan kekerasan dalam mendisiplinkan siswa akan berdampak buruk bagi tumbuh kembang mereka. Selain itu, tindak kekerasan tersebut juga tidak akan membuat siswa menghentikan perilakunya. 
 

#kpai   #kekerasan   #anak