Gelaran Lokakarya Nasional UNAS-AIPI: Pentingnya Melindungi dan Memanfaatkan Keanekaragaman Hayati yang Dimiliki Indonesia

Safari
Gelaran Lokakarya Nasional UNAS-AIPI: Pentingnya Melindungi dan Memanfaatkan Keanekaragaman Hayati yang Dimiliki Indonesia
Lokakarya Nasional bertajuk ‘Mengarusutamakan Bioekonomi’ yang digelar Universitas Nasional (Unas) bersama Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kampus Unas, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Jakarta, HanTer - Sedikitnya 200 peserta dari berbagai kalangan termasuk Pemerintah, Universitas, Lembaga penelitian, pengusaha, NGO, dan masyarakat umum mengikuti Lokakarya Nasional bertajuk ‘Mengarusutamakan Bioekonomi’ yang digelar Universitas Nasional (Unas) bersama Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kampus Unas, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Lokakarya ini juga melibatkan Lembaga Pemerintah seperti, Kemenko, Bappenas, KLHK, Kemenkeu, Kementan, KKP, Kemenkes, LIPI, Perusahaan Swasta, LSM dan masyarakat umum. Lokakarya Nasional ini juga merupakan rangkaian Dies Natalis Unas 70 tahun.

Ketua Pelaksana Lokakarya Nasional, Prof. Dr. Endang Sukara mengatakan, lokakarya digelar untuk menyadari tentang pentingnya melindungi dan memanfaatkan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Apalagi sudah hampir tiga dasawarsa, bangsa-bangsa di dunia menyadari dan menyepakati adanya keanekaragaman hayati di tingkat ekosistem, jenis maupun genetik yang mempunyai manfaat bagi manusia baik secara ekonomi, sosial-budaya maupun lingkungan.

Pemahaman tentang pentingnya hayati tertuang dalam mukadimah Konvensi Keanekaregaman Hayati (Convention on Biological Diversity/CBD) pada tahun 1992. Sehubungan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, pada September 2015 lalu telah diresmikan sebagai pembangunan global. 

"Saat ini, telah terjadi ketimpangan yang sangat lebar antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antara Negara maju dan Negara berkembang. Hal ini merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia sebagai salah satu pemilik keanekaragaman hayati terbesar di dunia," ujarnya.

Prof Dr Endang yang juga Dosen S1 dan S2 Fakultas Biologi Unas ini menyebut, lokakarya juga untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola dan memanfaatkan keanekaragaman hayati dan mendapatkan keuntungan yang besar bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, dengan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keanekaragaman hayati dan segala potensi yang akan menunjang majunya bangsa Indonesia.

"Tidak kalah pentingnya adalah masalah pendanaan serta insentif bagi pelaku usaha terkait dengan pemanfaatan keanekaragaman hayati," jelasnya.

Lebih lanjut Prof Endang mengatakan, perkembangan penelitian hayati juga perlu diulas untuk mengetahui hasil-hasil capaian dan kendala yang dihadapi dalam upaya pemanfaatan hasil penelitian yang mencakupi masalah pendidikan biologi, serta contoh praktek terbaik pemanfaatan keanekaragaman hayati yang telah dilakukan oleh pengusaha, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat lainnya.

Prof. Dr. Endang Sukara berharap, lokakarya ini akan menghasilkan rekomendasi terkait dengan pelaksanaan peraturan dan perundangan, kelembagaan, pembaruan sistem pendidikan biologi serta mampu mendorong aksi nyata dari seluruh komponen bangsa. Yang  mengarusutamakan bioekonomi, untuk  menjadikan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati lalu  menjadikannya sebagai soko guru pembangunan berkelanjutan.

'Tujuan lokakarya juga untuk mendiskusikan kondisi keanekaragaman hayati, kebijakan-kebijakan serta langkah-langkah terkait pengelolaan keanekaragaman hayati dan bioekonomi di Indonesia," paparnya.

Prof Dr Endang memaparkan, lokakarya juga menghadirkan beberapa nara sumber untuk mengupas isu-isu strategis yang meliputi peraturan perundangan dan kendala implementasinya. Di antara narasumber yakni Dr. Ir. Arifin Rudiyanto, M.Sc, Deputi Bidang Kemaritiman dan SDA, Bappenas, Ir. Wiratno, MSc,  Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati, LIPI, Prof. Suahasil Nazara, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, dan Prof. Mien A.Rifai,Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dengan dimodetarori oleh Prof. Dr. Jatna Supriatna.

Sementara pada sesi kedua yang di moderatori oleh Prof. Dr. Dedy Darnaedi mendatangkan Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Dr. Robert Pakpahan, Direktur Jenderal Pajak , Prof.Dr. Ernawati Sinaga MS,Apt., Wakil Rektor Bidang Penelitian Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama,  dan Dr. Sonny Mumbunan,  ALMI,WRI-Indonesia di Aula Blok 1 Lt 4, Universitas Nasional.