TAJUK: Ramai-ramai Shalat Istiqo Meminta Hujan

***
TAJUK: Ramai-ramai Shalat Istiqo Meminta Hujan

Seiring datangnya musim kemarau pada 2019, hingga pekan pertama September ini bencana kekeringan masih melanda sebagian besar daerah di Tanah Air.

Informasi yang bertebaran di media massa, baik umum maupun media sosial, hingga kini masih melaporkan kejadian dampak kekeringan yang melanda, seperti kekurangan air bersih hingga pusonya komoditas pertanian dan perkebunan akibat irigasi yang mengering.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan bahwa musim kemarau akan berlangsung hingga Oktober 2019.

Ikhtiar masyarakat agar hujan segera turun pun dilakukan melalui kegiatan, seperti shalat meminta hujan (istisqo) agar Allah SWT menurunkan hujan.

Selain kegiatan spiritual semacam shalat istisqo, belakangan marak gerakan masyarakat untuk membantu saudara-saudaranya di wilayah terdampak kekeringan agar bisa menikmati air bersih.

Beberapa lembaga sosial kemanusiaan pun dalam ajakan-ajakan kepada masyarakat--melalui spanduk yang mudah ditemui di jalan-jalan utama-- menuliskan pesan-pesan untuk melakukan "sedekah air".

Hujan tak kunjung turun. Rakyat negeri ini tertimpa kesulitan, kelaparan dan paceklik yang dahsyat. Sadar ataupun tidak, musim kemarau panjang dan kekeringan yang sedang menimpa kita ini, sesungguhnya sebagai akibat dari perbuatan kita sendiri yang telah menyimpang dari ketentuan Tuhan.
Dalam kondisi kesulitan saat ini, bertobat adalah menjadi hal penting yang harus dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh oleh kita semua. Minta ampun kepada yang Maha Kuasa Allah, menyesali kelalaian, kesombongan, serta perilaku kita yang sudah merusak alam/linkungan ciptanNYA.

Semua menderita akibat hujan tak kunjung turun. Kebakaran hutan yang menyebabkan bencana asap sudah membuat kita semua menderita, terutama warga di wilayah terpapar asap. Padahal jika hujan turun, tentu kebakaran hutan itu bisa dicegah, dan asap tidak membuat ratusan ribu warga terserang penyakit. Hujan yang belum turun sudah mulai mengancam keselamatan jiwa. 

Terkait hal itu, dan untuk meminta turun hujan, berbagai kalangan mulai dari rakyat biasa sampai pejabat melaksanakan salat Istisqa, yakni  salat yang dianjurkan ketika lama tidak turun hujan atau ketika sumber mata air sudah lama mengering. 

Dalam salat itu disampaikan doa kepada Tuhan untuk meminta curahan hujan sebagai rahmat, bukan sebagai siksa, bukan kehancuran, bahaya, kerusakan dan bukan pula ketenggelaman bagi umat manusia. Ya Tuhan, turunkanlah hujan pada bukit-bukit, tumbuh-tumbuhan dan lembah-lembah. 

Ya Tuhan, turunkanlah hujan yang melepaskan umat manusia dari paceklik, tanpa disertai kesusahan, baik akibatnya, subur dengan kesegaran, deras dan lebat yang menyeluruh pada permukaan bumi terus-menerus (manfaatnya) sampai hari Kiamat.

Salat Istisqa diselenggarakan sebagai upaya dari manusia untuk memohon turunnya hujan dari Tuhan.  Soalnya, sudah tidak ada lagi upaya yang bisa dilakukan manusia untuk menurunkan hujan. Pakai pesawat dan helikopter  untuk menurunkan air ke titip api kebakaran hutan dan tempat-tempat kekeringan lainnya, sudah tidak bisa. 

Kerugian ekonomi sudah tidak terhitung jumlahnya. Usaha pemadaman kebakaran lahan dan hutan harus dibarengi dengan doa agar ikhtiar itu membuahkan hasil. Untuk itu, salah satu cara yang dapat dilakukan yakni melalui berdoa. Berdoa yang diajarkan dalam Islam yakni melalui salat Istisqa atau meminta hujan. Beberapa wilayah juga telah melaksanakan salat Istisqa. 

Tentu, kita berharap agar doa yang disampaikan umat muslim dalam salat Istisqa diterima Tuhan, sehingga hujan turun untuk mengatasi  bukan kekeringan, dapat membawa kesuburuan dan ketenangan. Serta menghentikan permusuhan dan perpecahan yang ada.  

Selain itu, salat Istisqa juga sebagai sarana pertobatan dari maksiat yang telah dilakukan. Kebiasaan kita menyombongkan diri, dan merusak alam (lingkungan dan hutan) harus ditinggalkan.  Lewat salat ini tentu kita harus berjanji kepada Tuhan untuk memperbaiki diri. 

Kita meminta mereka-mereka yang selalu merusak alam dan lingkungan untuk bertobat. Kita juga meminta agar masyarakat lebih banyak beristigfar, bertaubat sehingga cobaan saat ini berupa kemarau panjang segera berakhir. Semoga Tuhan menurunkan hujan di Bumi Pertiwi tercinta ini.