Hendra Eka Putra, Supir Angkutan Sayur Yang Kini Sukses Jabat Kalapas Kelas I Cipinang

Safari
Hendra Eka Putra, Supir Angkutan Sayur Yang Kini Sukses Jabat Kalapas Kelas I Cipinang
Kepala Lapas Kelas 1 Cipinang Hendra Eka Putra

Jalan panjang dan berliku dialami Hendra Eka Putra, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur. Siapa sangka lelaki kelahiran Padang, Sumatera Barat 43 tahun silam itu mengalami perjalanan hidup yang pahit. Apalagi sebagai anak pertama dari 5 bersaudara. Oleh karena itu Hendra juga harus bertanggungjawab terhadap adik - adiknya.

Saat masih duduk di bangku SMA di Padang, Hendra juga harus jalan kaki pulang - pergi dengan jarak 6 Km. Padahal ongkos angkot kala itu hanya 5 perak rupiah. Karena keterbasan biaya, celana sekolah yang hanya satu dan bolong dibagikan belakangnya ia tambal dengan hansaplast. Untuk menutupi agar terkesan artistik dan gaul tambalan hansaplast ia gambar dengan tulisan yang eksotis. Sementara sepatu sebagai alas kali ia minta kepada teman-temanya.

Sepatu yang rusak dari teman-temannya tersebut ia cat ulang dan diperbaiki sehingga terkesan baru dan menarik untuk dilihat. Semua keprihatinan tersebut ia jalani karena ingin sekolah untuk menambah ilmu pengetahuan.

Saat hijrah ke Jakarta, kehidupan Hendra juga prihatin. Setidaknya sebelum menjadi pegawai di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenhukam), Hendra pernah menjadi supir angkutan sayur di Pasar Minggu, Jakarta. Selain itu ia juga harus berjualan untuk membiayai adik-adiknya untuk bersekolah. Beruntung hasil jerih payahnya membuahkan hasil. Tiga adik-adiknya telah berhasil menduduki posisi strategis di perusahaan swasta.

"Untuk berhasil tinggal kemauan. Kita harua prihatin dan kerja keras. Saya dari kecil sudah diajarkan untuk berbagi. Bayangkan 1 butir telur itu dibagi untuk berlima. Karena hidup itu harus berbagi," ujar Hendra kepada Harian Terbit, Selasa (13/8/2019).

Harus Berbagi

Hendra menegaskan, setiap insan manusia harus berbagai karena hidup tidak akan sempurna. Apalagi ketika matipun kita tidak akan membawa apa-apa kecuali amal dan perbuatan yang baik. Oleh karena itu Hendra selalu mengajarkan ketaatan agama kepada empat anak-anaknya. Tidak heran, ketika pulang ke rumah di daerah Bekasi, Jawa Barat, Sabtu - Minggu, Hendra selalu menagih hapalan surat Alquran terhadap anak-anaknya. "Menanamkan agama untuk mental anak-anak saya terisi," tegas lelaki yang besar di Palembang, Sumatera Selatan ini.