Penderita Kelainan Irama Jantung Berpotensi Terserang Stroke

Arbi
Penderita Kelainan Irama Jantung Berpotensi Terserang Stroke

Jakarta, HanTer - Kelainan irama jantung (Fibrilasi Atrium/FA) tidak boleh dianggap remeh. Sebab, dilaporkan hingga 40 persen kejadian stroke berhubungan dengan adanya FA. Disamping itu, penderita FA juga berpotensi mengalami gagal jantung.

Dokter dari RS Jantung Harapan Kita, dr. Reynold Agustinus Hasudungan Manullang, Sp.JP(K), FIHA mengatakan, fiblirasi atrium adalah kelainan irama jantung yang ditandai dengan denyut jantung tidak teratur baik cepat maupun lambat. 

"Fibrilasi Atrium merupakan penyakit distrik jantung yang sering ditemui bahkan merupakan salah satu penyakit jantung yang paling sering didapatkan di klinik. Di Indonesia diduga ada sekitar 2.2 juta orang yang menderita FA," kata Reynold dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin. 

Ia menjelaskan, beberapa keadaan dapat menjadi faktor risiko terjadinya FA, yaitu bertambahnya usia, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner dan faktor genetik. 

"Mengingat besarnya prevalensi FA di Indonesia dan tingginya risiko stroke yang akan berdampak luas secara ekonomi dan sosial maka sangat penting untuk mendeteksi secara dini kejadian FA di masyarakat," katanya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI,  Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, FasCC, FEHR mengatakan, pengetahuan dan kepedulian tentang FA sampai saat ini masih rendah, padahal FA dapat menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dan dapat menyebabkan stroke.

"Penderita FA memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa FA," jelas dia.

Reynold menambahkan, diperlukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat dan kalangan non-medis lain tentang pentingnya dan risiko FA. 

Terkait hal itulah, Indonesia Heart Rhythm Society (InaHRS) menggelar kampanye fibrilasi atrium tahun 2019 yang mengambil tema "Waspada Bahaya Fibrilasi Atrium, Stroke dan Sudden Death".

Kegiatan InaHRS ini didukung oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan Yayasan Jantung Indonesia.

Dalam kampanye ini kembali ditekankan “MENARI” (Meraba Nadi Sendiri). “MENARI” merupakan salah satu cara mudah untuk mengenali Fibrillasi Atrium (FA) serta gangguan irama lainnya yang diharapkan dapat mencegah kelumpuhan akibat FA. 

 

 

 

 

 

 

#Jantung   #harapan   #kita