Optimasi Lahan Rawa Dinilai Percepat Realisasi Kedaulatan Pangan

Hermansyah
Optimasi Lahan Rawa Dinilai Percepat Realisasi Kedaulatan Pangan
Ilustrasi lahan rawa

Jakarta, HanTer - Kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah pemerintah Jokowi-JK yang ingin mencetak pertambahan sawah baru melalui terobosan optimasi lahan rawa menuai pujian. Salah satunya dari mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo.

Menurut Siswono, melalui program pertambahan cetak areal sawah baru akan mempercepat terealisasinya kemandirian dan kedaulatan pangan nasional. "Saya mendukung usaha pemerintah untuk terus mencetak sawah baru dengan berbagai cara, terobosan inovasi dan pemanfaatan. Termasuk mengoptimasi lahan rawa," ujar Siswono.

Siswono berharap Kementan menggandeng Pemerintah Daerah dalam usaha menuju pertambahan cetak sawah baru. Seperti contohnya terobosan pemanfaatan lahan rawa tersebut, sehingga pemerintah di daerah juga mempunyai kiat lain guna mensejahterakan masyarakatnya tanpa menunggu 'bola' dari pusat. "Kan bisa didorong dengan alokasi pembiayaan dari APBD. Jadi nggak mengandalkan pusat saja. Kalau tidak begitu, nanti kita bisa terus impor pangan," ujar Siswono.

Siswono menuturkan, yang perlu juga diperhatikan setelah mencetak sawah baru adalah soal jenis komoditas pangan yang akan ditanam. Dikatakannya, keseimbangan antara bertambahnya pemanfaatan lahan untuk sawah baru dan komoditas ditanam akan menghasilkan produksi pertanian yang meningkat serta tak lagi mengandalkan impor.

Sejak tahun 2014 hingga 2018, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menambah cetak sawah baru mencapai 215.811 hektare. Namun, Kementan juga mencoba mengoptimalkan lahan rawa menjadi sawah baru sejak tahun 2016. Upaya tersebut dari data yang terhimpun jumlahnya terus bertambah.

Tahun 2016, lahan rawa yang dimanfaatkan sebagai sawah baru berjumlah 3.999 hektare. Lalu tahun 2017 menjadi 3.529 hektare dan 2018 seluas 16.400 haktare. Kementan menyebutkan, potensi produksi pertanian dari lahan rawa mampu hingga 7,4 ton per hektare.

Beberapa daerah antara lain Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, juga telah diproyeksi sebagai wilayah penambahan cetak sawah baru dengan areal lahan rawa.

Sekretaris Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Mulyadi Hendiawan mengatakan, lahan rawa memiliki keunggulan soal ketersediaan air dibandingkan dengan lahan sawah lainnya. Air di sawah lahan rawa bisa tersedia sepanjang tahun. "Keunggulan utama lahan rawa adalah airnya tersedia sepanjang tahun. Jadi, di saat wilayah lain kemarau dan kekeringan, lahan rawa justru dapat berproduksi optimal dan panen raya," kata Mulyadi.

Ia mengatakan, Kementan terus melakukan pengembangan lahan pertanian dengan memanfaatkan rawa sebagai lahan produktif. Setidaknya ada 34,1 juta hektar yang saat ini masuk tahap proses garapan, dengan 9,2 juta hektare di antaranya dimanfaatkan untuk pertanian sawah dan hortikultura. Lahan tersebut saat ini tersebar di tiga pulau besar, yakni Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

"Untuk padi atau sawah sudah mencapai 14,2 juta hektar, hortikultura mencapai 3,1 juta hektar dan tanaman tahunan mencapai 1,9 juta hektar," pungkas Mulyadi.