Pemuda dan Parpol Soroti Kepemimpinan Kaum Muda

Hermansyah
Pemuda dan Parpol Soroti Kepemimpinan Kaum Muda
Forum Pimpinan Kepemudaan 2018

Jakarta, HanTer - Gelaran Forum Pimpinan Kepemudaan 2018 yang dilakukan Kementerian Pemuda dan Olahraga di penghujung tahun, tepatnya Senin (31/12/2018), di Theater Kemenpora, mengambil beberapa angel diskusi.

Salahsatu tema diskusinya adalah Pemuda dan Parpol yang menyoroti Kepemimpinan Kaum Muda, memberikan semangat bahwa pemuda harus berani dan siap ambil bagian sebagai pimpinan politik di negeri ini. 

Selain Deputi II Kemenpora Asrorun Niam yang tampil sebagai narasumber dalam tema kepemimpinan Kaum Muda, ada pula Idy Muzayyad. Ia merupakan politisi PPP, serta M. Izzul Mutho yang tercatat sebagai pengamat politik. Keduanya menjelaskan tentang pentingnya pemuda untuk berpolitik.

"Politik adalah inti dari penentuan kebijakan negara dalam segala bidang, baik birokrasi pemerintahan, pendidikan, kebudayaan, perdagangan, hukum, kemanan, sampai pariwisata sekalipun. Politik ini perantara, karena itu pemuda harus melek politik dan siap-siap menjadi politikus," tutur Idi Muzayyad.

Lebih lanjut Muzayyad mengatakan jika politik bukanlah tujuan (ghoyah) melainkan perantara (washilah) untuk menciptakan kesejahteraan rakyat dan menurutnya bagi PPP, untuk memperjuangkan kepentingan umat (Islam) serta warga bangsa semesta.

"Partai politik secara faktual merupakan pilar utama dalam sistem demokrasi, di mana demokrasi tidak akan berjalan tanpa keberadaan partai politik sebagai sarana penentuan policy arah kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sekaligus rekrutmen kepemimpinanan bangsa," ucapnya.

Dirinya menambahkan jika kaum muda saat ini banyak yang mengalami apatisme politik bahkan sinisme berpolitik, yang disebabkan adanya pragmatisme politik serta degradasi keluhuran politik.

"Politik tereduksi menjadi ajang pertarungan kekuasaan dan mencari keuntungan finansial melalui jabatan tertentu. Dunia politik ternodai oleh kasus-kasus politik (korupsi, moral, kekerasan, dll) yang menyebabkan stigma negatif politik sebagai hal yang kotor, najis, memuakkan sehingga patut dijauhi. Eksposure media menambah 'nuansa horor' politik sebagai dunia kegelapan dengan segenap hantu-hantu menakutkan," ungkapnya.

"Padahal politik tidaklah demikian adanya. Ibarat mau membasmi tikus jangan dengan cara membakar lumbung, seharusnya kebencian terhadap sebagian pelaku politik (politisi) busuk tidak sampai pada penghancuran politik secara umum. Karena masih lebih banyak kebaikan dalam politik ketimbang keburukannya," terangnya.

"Justeru politik harus diisi dan dikuasai oleh orang-orang baik, dari kalangan muda, yang relatif masih memiliki idealisme dan belum terkontaminasi oleh residu politik. Anak muda tidak perku ikut terpengaruh upaya reproduksi diskursus politik negatif, dan sebaliknya perlu merubah persepsi minus tersebut," pungkasnya.

Sementara itu M. Izzul Mutho, pengamat politik dari media nasional ini menjelaskan, bahwa saat ini para peserta diskusi yang masih berada di organisasi kepemudaan harus siap. 

"Para pemuda hari ini, pasti akan jadi orang atau pemimpin di masa depan. Maka dari itu, siapkan diri kalian, karena pasti akan ada regenerasi. Baik tidaknya kondisinya, tergantung sebaik apa pemudanya saat ini," terang dia.