• Jumat, 9 Desember 2022

Dunia Kesehatan Jadi Sorotan, UTA ’45 Jakarta Buka S2 Ilmu Farmasi

- Selasa, 22 November 2022 | 22:21 WIB
Rektor UTA ’45 Jakarta, J. Rajes Khana, Ph.D  beserta staf akademis (ist)
Rektor UTA ’45 Jakarta, J. Rajes Khana, Ph.D beserta staf akademis (ist)


HARIANTERBIT.com - Setelah memiliki Strata Dua (S2) Fakultas Hukum, Universitas 17 Agustus 45 Jakarta kembali mendapat ijin membuka Program Strata Dua (S2) Fakultas Farmasi melalui keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Rektor UTA ’45 Jakarta, J. Rajes Khana, Ph.D menjelaskan bahwa proses perkuliahan pada program ini hanya berlangsung satu semester dan sisanya lebih banyak ke lapangan, uji klinis dan sebagainya.

“Jadi lebih banyak praktek dan ada beberapa di persyaratan dimana kita juga akan mengundang profesor dari luar negeri yang ekspert bidang farmasi klinis dan farmasi science,” jelasnya, seperti keterangan tertulis, Selasa (22/11/2022).Baca Juga: Kalah 1-2 dari Arab Saudi, Argentina Dihadapkan dengan Kenyataan Pahit

Terkait proses mendapatkan ijin, Rektor mengatakan pihak UTA ’45 Jakarta secara prinsip selalu menjalani sesuai dengan aturan.

“Secara overall yang kami lakukan adalah kami hanya mengikuti aturan, prosedurnya bagaimana,SOP, kami ikuti terus. Jadi tim yang benar-benar bekerja mengenai Prodi baru itu mengikuti SOP yang memang sudah ada dipimpin oleh Warek 1,” tambah Rektor.

Rektor menambahkan setelah mendapat SK dari Kemendikbudristek, secara prinsip tahun depan di akhir Februari atau awal Maret 2023 perkuliahan mulai berlangsung sementara pendaftaran mahasiswa baru, per Desember 2022 sudah mulai dibuka.

Sementara, Kepala LPMI UTA ’45 Jakarta, Apt. Drs. Stefanus Lukas, M.A.R.S menambahkan pihaknya fokus pada S2 Farmasi Klinis dan Farmasi Science.Baca Juga: Inilah Kolaborasi Seni Budaya dan Kreativitas Dikenal Dunia

“Kita buka ini bukan mencari pesaing yang lain tapi ini adalah kebutuhan yang ada di masyarakat bahwa mereka butuh untuk mendalami bidang ilmu Farmasi Klinis yang saat ini Fakultas Farmasi atau Universitas yang lain tidak banyak yang dapat memiliki S2 Farmasi Klinis sehingga mereka yang mau mendalami bidang Farmasi Klinis kesulitan baik di Jakarta, terlebih di Indonesia. Nah untuk itu kita fokus ke sini karena kita melihat kebutuhan. Dan kita juga ada banyak pakar untuk Farmasi Science seperti Prof Dayat dan Doktor-doktor lainnya,” terangnya.

Lebih lanjut Stefanus menjelaskan kedua Program Studi tersebut. Untuk Prodi Farmasi Klinis kata dia, pekerjaan kefarmasian yang selama ini tidak pernah dijangkau oleh apoteker. Apoteker hanya banyak mengerjakan pekerjaan administrasi dalam keseharian.Baca Juga: Serunya Puluhan Peserta Ikut Lomba Makan Ramen

“Kalau Farmasi Klinis, mereka mulai menjangkau ke passion oriented. Jadi penanganan pengobatan ke pasien adalah ke passion, tidak administratif yang resep, dokumen ada apa tidak, jumlah produk. Arah fokusnya ke passion oriented, bukan ke product oriented. Ke penyakit apakah obat yang diberikan itu sudah sesuai dengan diagnosa dokter atau terapis yang berikan. Apakah dosisnya tepat, waktu pemberiannya 3x1, apakah pemberiannya pagi, siang, malam hari dan lain-lain dimana dibutuhkan di RS. Selama ini masyarakat minum obat itu sembarang saja. Dokter diagnosa obat, aturan pakai 3x1 sehari sembarang aja dan dicampur diminum bersama-sama. Pekerjaan Farmasi Klinis dibutuhkan di RS,” jelas Stefanus

Halaman:

Editor: Anugrah Terbit

Tags

Terkini

Gempa M5,8 Guncang Sukabumi Jawa Barat

Kamis, 8 Desember 2022 | 08:06 WIB
X